
Pagi hari tepat pukul 08.00 semua telah dipersiapkan, Sachinta sudah mengenakan kebaya bersama mamanya. Sedangkan Arman tengah bersiap di kamarnya seorang diri, karena merasa tak perlu menyiapkan apapun dalam acara pernikahan sederhana yang di selenggarakan pukul 09.00 pagi ini.
"Ma, harus ya pakai kaya gini? aku engga bisa napas" protes Sachinta merasa sesak juga aneh dengan kebaya yang sudah membalut tubuhnya.
"Kamu mandi engga sih tadi?!" tegas Syibil bertanya.
"Mandi lah, masa iya engga mandi sih? emang cewek apaan?" malas Sachinta menjawab.
"Dengar ini, kamu sudah akan menikah dan menjadi seorang istri. Kurangi waktu buat main game setiap hari, dan itu mandi jangan cuma main jari aja" nasehat Syibil.
"Iya ma, tapi PlayStation di kamar aku bawa nanti ya? kan mama udah janji kalau aku nurut mau nikah PlayStation bakal dibalikin kan?" tersenyum penuh keyakinan, Sachinta mengingatkan.
"Iya!" tegas Syibil, seketika melebarkan senyum putrinya.
Terlihat seorang laki laki tinggi masuk ke dalam kamar dan langsung duduk di tepi ranjang. Leo mengamati adiknya dari atas hingga bawah hingga atas berulang kali.
"Apaan? terpesona dengan kecantikan ku?" membanggakan diri sendiri melirik kakaknya.
"Cantik engga pernah mandi buat apaan coba?" lirih Leo dipukul keras lengannya oleh Sachinta kesal.
"Ma, mama udah bilang kan sama Arman kalau dia jarang mandi? entar kaget lagi si Arman pas udah nikah" menggoda menatap ke arah mamanya sembari mengusap lengan terasa panas.
__ADS_1
"Arman kan gurunya dia di sekolah, jadi jelas udah tahu kalau adik kamu ini engga pernah mandi. Baunya ada udah kecium dari jarak tiga meter" timpal Syibil bergidik, membuat putrinya langsung memasang wajah masam di sela tawa kakaknya.
"Ini tuh ciri khas Ma, ciri khas" membela diri bangga.
Syibil menggelengkan kepala memukul lengan putrinya. Waktu terus berjalan dengan candaan ketiga di kamar, sampai hampir tiba saatnya untuk melakukan pernikahan. Dengan santai tanpa sedikitpun gugup, Sachinta turun bersama kakak juga mamanya. Bagi Sachinta menikah dengan Arman yang dia kenal sebagai pecinta sesama jenis, bukanlah hal yang harus ditakutkan.
Pikiran pikiran yang membuatnya hampir mundur kemarin, ditampik keras dengan mulai memikirkan segala keuntungan yang akan didapat dalam pernikahan perjodohan pagi ini. Terlebih ketika PlayStation masih tertahan dikamar mamanya, di janjikan untuk kembali setelah ia kembali dari puncak esok hari.
Tampak Arman memperhatikan kagum pada Sachinta yang tak pernah terlihat secantik hari ini. Kebaya putih membalut indah tubuh ramping, dipadu polesan make up simpel yang menonjolkan kecantikan tersembunyi dari Sachinta. Kecantikan yang mungkin tak pernah disadari banyak orang, karena tertutup sikap tomboy dan apa adanya selama ini.
Duduk bersama di depan penghulu, Sachinta dan Arman sama sama diam seribu bahasa. Menyingkat waktu, pernikahan pun dimulai dengan saksi keluarga. Papa Sachinta juga telah siap untuk menikahkan putrinya dengan lelaki pilihan istrinya. Berjabat tangan untuk memulai meminang gadis di sampingnya, Arman sudah menghapal diluar kepala nama Sachinta karena terlalu sering mencatat dalam buku pelanggaran.
"Kapan selesainya sih? pegel banget nih kaki" batin Sachinta tak pernah sekalipun duduk seperti seorang perempuan dan hanya diam saja.
"Andra Zikri Anindito? siapa? bukannya aku mau dinikahin sama Arman ya, Pa?" protes Sachinta menghentikan ucapan papanya, ditatap semua orang yang ada di ruang tamu villa tersebut.
"Engga usah protes deh" mengeratkan gigi, Arman berbisik ke samping gadis masih kebingungan di sampingnya.
Semua orang mulai menertawakan sikap polos Sachinta yang malah bertanya tentang nama suaminya. Arman memang bukan nama asli dari lelaki yang hendak meminang Sachinta pagi ini, yang di pikir keluarga jika Sachinta sudah tahu makanya tidak menceritakan.
Arman hanyalah sebuah nama panggilan yang diinginkan Andra semenjak ia menjadi seorang guru. Memasang kacamata dan mengganti nama adalah syarat Arman untuk mau menerima tawaran Om nya. Semenjak hari itu, ia lebih akrab dengan panggilan Arman daripada Andra.
__ADS_1
"Bapak ini selain berkepribadian ganda juga punya nama ganda ya?" polos Sachinta berbisik.
Menggelengkan kepala malas menjawab, Arman melanjutkan ijab qabul agar acara pagi ini segera usai. Tetap dengan tatapan aneh, dan perasaan bertanya tanya, Sachinta mengikuti kembali acara sakral tersebut dengan tenang tanpa ingin kembali memprotes. Hingga terdengar kata sah menggema dari semua yang hadir di acara pernikahan sederhana tersebut.
Mencium tangan lelaki baru saja menjadi suaminya sesuai arahan mamanya, Sachinta merasa aneh dan ragu ragu. Arman berganti mencium kening gadis yang ditahan kepalanya menunduk oleh Syibil, agar tidak memberontak dan membuat malu. Tidak ada rasa diantara keduanya, membuat sentuhan pada kening itu terasa biasa saja tanpa adanya getaran getaran khusus terjadi.
Beberapa waktu berlalu usai acara ijab dan menikmati makan karena memang belum sarapan, kedua keluarga besar berkumpul bersama untuk berbincang. Sachinta sudah tidak tahan lagi terus duduk merapatkan kaki, ingin rasanya ia terbebas dari pakaian yang amat menyiksa dan membatasi gerak.
Tiba dimana semua berpamitan, Arman dan Sachinta mengantar mereka bersama ke depan. Sengaja Melati meminta seorang pelayan untuk mengawasi Arman, dan di dengar oleh lelaki yang berdiri di sampingnya. Memang sengaja Melati mengatakan agar terdengar oleh putranya, dan tidak berniat untuk kabur dari villa.
"Ingat pesan mama, jangan main game terus!" bisik Syibil memperingatkan putrinya.
"Iya, Ma. Aku inget semuanya diluar kepala, tuh sampai kelihatan kan di atas kepala aku tulisannya" sahut Sachinta menunjuk atas kepalanya sendiri.
"Mama pulang dulu, besok kamu pulang dijamin PlayStation kamu sudah ada di rumah baru" meyakinkan Syibil mengatakan.
Tertawa puas, lalu memeluk mamanya. Sachinta merasa usahanya untuk menerima pernikahan tidak terlalu buruk, selain bisa bermain game sepuas hati tanpa omelan mamanya, Sachinta bisa melakukan apapun sesuka hati nanti di rumah yang hanya di tempati dirinya dengan Arman.
Masih berdiri melambaikan tangan menarik ke atas kain batik masih membalut tubuh bawahnya, Sachinta melebarkan senyum kemenangan dan tertawa lepas dalam hatinya. Arman melirik ke arah kaki istrinya, dan menghembuskan napas panjang melihat kaki terbuka lebar dengan cepat semenjak semua orang berlalu.
"Nih anak bener bener engga bisa dibilang jadi cewek sama sekali" batin Arman tetap melirik.
__ADS_1
"Yes! gue bebas sekarang! hahahaha" tawa Sachinta berjingkrakan puas, dilirik aneh oleh Arman wajah bahagia di sampingnya.