
Like dulu Baru Baca ya....Bantu pop novel ini, makasih banyak.
Selesai menikmati makan malam bersama, Arman dan Sachinta mengantarkan kedua wanita masih tampak sangat cantik dan segar itu keluar rumah. Syibil dan Melati tak mau mengganggu kebersamaan keduanya, karena amat berharap jika sesuatu akan terjadi di antara mereka dan membawa sebuah kabar baik.
Usai kepergian Syibil dan Melati, keduanya masih berdiri di teras rumah menantikan mobil mereka keluar, dan memastikan jika penjaga rumah mengunci pagar kembali. Sachinta tengah merasa lelah meregangkan tubuhnya, dengan mengangkat tinggi kedua tangan.
Arman hanya melirik dengan tersenyum, lalu meraih pinggang istrinya mendekat dan seketika mengejutkan Sachinta membulatkan mata hebat. Tapi Arman hanya tersenyum masih indah melingkarkan tangan pada pinggang ramping istrinya.
"Pak, jangan macam macam deh" ucap Sachinta mencoba melepaskan diri.
"Siapa? satu macam aja lah jangan banyak banyak. Takut nanti kamu engga bisa imbangi" menggoda dan tersenyum Arman menatap istri kini berpindah menempel di depan tubuhnya.
"Bapak jangan dekat dekat gini, risih tau gak?" ucap Sachinta memundurkan tubuh dengan mendorong dada Arman.
"Aku mau ngomong, kita ke kamar sekarang" pinta Arman lembut, menarik tangan istrinya berjalan masuk.
"Bi, kunci pintu kami mau istirahat" ucap Arman pada pelayan tengah membersihkan meja makan.
"Baik, Den" sahut wanita paruh baya tersebut sopan, dan berjalan ke depan memanggil penjaga rumah lalu mengunci pintu.
"Aku kan belum setuju mau ikut!" protes keras Sachinta masih di seret suaminya hingga depan pintu kamara.
__ADS_1
Membuka pintu kamar dengan tetap memegang pergelangan tangan gadis terus menggerutu di belankang tubuhnya, Arman membawa Sachinta masuk kedalam kamarnya dan menutup rapat pintu dari dalam.
Memegang kedua pundak Sachinta, dan memintanya untuk duduk di tepi ranjang. Arman mengambil posisi di samping istrinya dan menatap ke arahnya lekat. Wajah sudah di pasang serius, ingin mengutarakan apa yang telah ada di benaknya sedari tadi.
"Sa, aku minta mulai sekarang berhenti buat suka sama Riski. Aku memang engga bisa buat atur hati kamu, tapi coba lakukan ini demi keluarga kita. Kalau mereka tahu kamu mecintai orang lain, jelas mereka akan sangat kecewa" tulus dan lembut Arman meminta, segera Sachinta menoleh dengan mengedipkan mata berulang.
"Kenapa? kan yayang kiki itu my first live Pak, jadi engga bisa dilupain gitu aja. Lagipula nih pak aku udah mulai deket sama dia, tinggal satu langkah lagi. Aku juga kan engga larang Bapak pacaran sama cowok Bapak" celoteh Sachinta menerangkan, membuat Arman membuang napas panjang.
"Kamu seorang istri, egga seharusnya bertingkah dan ngomong kaya gini ke suami kamu. Sa, ini udah takdir kamu dan harus kamu jalani" terang Arman, malah membuat gadis di depannya tertawa.
"Kenapa?" tanya Arman heran.
Arman lagi lagi harus membuang napas panjang ketika berbicara dengan gadis polos dihadapannya. Memang tak mudah untuk bisa berbicara serius pada Sachinta, apalagi usianya yang memang tidak mungkin untuk bisa menganggap serius sebuah pernikahan yang bahkan tak pernah ia tahu apa saja kewajibannya, serta apa saja yang tak boleh untuk dilakukan meski Syibil sudah menjelaskan.
Beranjak dari duduk, Arman berdiri tepat di hadaoan Sachinta dan mendorong tubuh istrinya hingga tertidur di atas ranjang. Posisi kaki masih ada di atas lantai, Arman menempel menahan tubuh agar tak terlalu menempel dengan meletakkan kedua telapak tanagn di kedua sisi kepala gadis menatap matanya dalam.
"Kamu tahu, aku bisa melakukan kewajibanku sekarang? engga ada yang larang atau marahin aku karena kamu milikku" ucap Arman tetap menahan tubuhnya, dengan wajah lumayan jauh dari gadis masih menatapnya lekat.
"Ba, Bapak jangan lakuin itu. Kan aku engga kasih ijin" jawab Sachinta dalam hati berdebar untuk pertama kalinya.
"Lakuin apa?" tanya Arman, menaikkan satu alis sebelah kiri.
__ADS_1
"Lakuin itu Pak, aku juga engga tahu. Kam Bapak cuma bilang melakukan kewajiban. Hehehehe" cengegesan dalam wajah bodoh Sachinta menjawab, melemahkan tubuh Arman pasrah seketika.
"Tidur sana!" bentak Arman sudah beranjak dari posisinya.
"Dasar orang tua labil, tadi baik sekarang marah" bergumam dalam hati Sachinta berucap.
Beranjak dari posisi tidur, Sachinta duduk sebentar merapikan rambut sebelum ia keluar kamar. Sementara Arman masih tidak mengerti bagaimana cara menghadapi Sachinta yang tak pernah bisa cepat mengerti akan ucapannya, walau sudah diucapkan dengan begitu pelan.
"Tunggu!" tegas Arman ke arah gadis sudah berjalan ke arah pintu.
Sachinta menghentika langkahnya, menoleh ke arah Arman yang tengah berjalan ke arah meja kerjanya. Ia membuka tas kerja dan meraih beberapa kertas tertata rapi dengan klip menyatukan semuanya. Ia berjalan ke arah gadis menatapnya penuh tanya, dan menyerahkan kertas ditangan.
"Kerjakan semua!" perintah Arman sembari memberikan kumpulan soal telah ia buat tadi.
"Ha?" seru Sachinta menerima kertas dari tangan suaminya.
Membuka tiap lebar kertas putih di tangannya, mata Sachinta seketika berkunang kunang melihat banyaknya soal yang ada di tangannya. Menelas saliva kasar, Sachinta terus membuka buka tiap lembar dengan banyak soal dari berbagai mata pelajaran sekolah.
^^Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin. Maaf kalau selama berkarya mungkin ada kesalah yang sengaja atau engga ya.. Aku mohon maaf untuk semuanya, karena memang aku cuma manusia biasa tempatnya salah^^
Ijin libur 1 hari ya...makasih banyak, lope lope..
__ADS_1