
Mengenakan tas pada pundak, Sachinta berjalan merapikan rambut menuju kelas. Wajahnya selalu tersenyum mengiringi langkah santainya ke kelas. Terasa bahu di tepuk dari belakang, Sachinta cepat menoleh dan mendapati Ria dibelakang.
"Lo bareng Pak Arman? kok bisa?" tanya Ria merasa aneh, membulatkan mata Sachinta membungkam mulut sahabatnya.
"Lo tau darimana?" tanya Sachinta terkejut, cepat Ria melepaskan tangan masih membekap mulutnya.
"Yaelah, semua juga lihat kali Lo turun dari mobil Pak Arman" santai Ria menjawab.
"Ha? gue tadi engga lihat siapapun" berpikir dengan dua bola mata ke atas.
"Lo tumben banget wangi? mandi Lo?" tanya Ria mengendus tubuh gadis masih mencoba berpikir.
"Mandi lah, emangnya Lo engga pernah mandi" bangga Sachinta mengibaskan rambut berjalan masuk kedalam kelas.
"Otaknya kepleset nih anak, dia yang engga pernah mandi malah ngatain orang" bergumam mengikuti Sachinta dari belakang.
Merasa segar dan cantik pagi ini, Sachinta masuk kedalam kelas layaknya Miss universe. Melambaikan tangan dan melempar senyum pada teman teman dalam kelasnya, Sachinta duduk meletakkan tas di atas meja. Kembali merapikan rambutnya tanpa henti sedari tadi, hingga bel masuk kelas berbunyi.
"Sok cantik Lo" seru Ria duduk di samping sahabatnya.
"Gue tuh emang cantik, cuma selama ini nyamar aja biar engga di dekati cowok. Karena hati Gue cuma buat yayang Kiki seorang" bangga tersenyum membelai wajahnya sendiri, dibalas bergidik oleh Ria merasa geli.
Melihat sosok amat dikenal masuk membawa beberapa buku ditangan, Sachinta mengingat betul jika pelajaran pertama bukanlah pelajaran bahasa yang di ajar langsung oleh wakil kepala sekolah. Ia tersenyum ke arah lelaki bertubuh tinggi tegap yang hanya kilas melihat dan menuju meja guru meletakkan buku, lalu berdiri di depan kelas.
"Hari ini ulangan!" tegas Arman, seketika membuat gaduh kelas.
"Diam! masukkan semua buku dan hanya ada alat tulis di meja!" tegas kembali Arman, membuat kelas yang tadi gaduh langsung senyap.
Memanggil ketua kelas untuk memberikan lembaran soal yang ia bawa, Arman melipat kedua tangan di depan dada. Ia memang seorang guru yang tegas, dan tak segan memberikan hukuman hingga mendapat julukan killer oleh semua murid di sekolah, termasuk Sachinta.
"Maaf Pak, kan Bapak bukan guru matematika terus kenapa kasih ulangan matematika?" tanya Sachinta mengangkat tangan ke arah lelaki masih melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
"Kenapa?! keluar kalau kamu tidak mau!" tegas Arman tanpa ekspresi, melebarkan senyum Sachinta.
"Asik" bahagia gadis langsung beranjak dari duduk dan hendak pergi, namun di cegah oleh Ria.
"Lo beneran keluar?!" aneh Ria menatap raut bahagia sahabatnya.
"Iya dong, kan gue disuruh keluar" bahagia dan tertawa.
"Lagian nih ya, gue kalau lihat pelajaran matematika tuh bawaannya pengen nyanyi lagu TK tau gak?" tambah kembali Sachinta, mengembangkan ekspresi tanya sahabatnya sembari mengisyaratkan mata ke arah belakang sahabatnya dimana Arman sudah berdiri sinis.
"Lagu apa? bisa kasih tau semua teman kamu?!" sinis Arman melipat tangan di depan dada di samping gadis langsung tersentak kaget hingga duduk kembali di atas kursi.
"Bapak ini udah seperti bayangan masa lalu, datang tiba tiba" ucap Sachinta ditertawakan teman kelasnya, dan langsung terdiam ketika mata sinis Arman memperhatikan seluruh ruang kelas.
"Ke depan dan nyanyiin lagu yang kamu maksud tadi!" tegas, berbalik badan berjalan ke muka kelas berdiri di sana.
Sachinta berjalan mengikuti dengan ragu, menggerutu kesal dalam batinnya. Wajahnya suram dengan tatapan kesal ditujukan pada suami yang kini menggantikan guru matematika, karena sakit. Guru yang tak lain adalah wanita yang menaruh hati padanya, sengaja menghubungi Arman kemarin ketika ia kembali dari puncak dan meminta tolong. Untuk itu kemarin Arman meminta Sachinta belajar, tapi malah memilih tidur.
Membuang napas panjang, mengatur suara dengan berdehem berulang kali. Sachinta berdiri di muka kelas melambaikan tangan tersenyum bodoh pada semua teman kelasnya, lalu merapikan rambut menyisipkan nya di belakang telinga.
"Kita mulai ya, mohon dibantu" ucap Sachinta menirukan pesulap Pak Tarno, ditertawakan seisi kelas namun Arman menahan tawanya mengatupkan rapat bibir.
"Ini lagu saya ciptakan khusus untuk pelajaran matematika. Yang saya yakin kalian juga merasakan apa yang saya rasa selama ini, untuk itu saya menciptakan lagu ini untuk mewakili jerit hati kita sebagai seorang murid yang selalu beban dengan pelajaran matematika. Dengan angka angka berterbangan mencolok mata kita tanpa tanggung jawab, dengan akar akan kuadrat yang siap menjadi payung dalam matinya otak kita..." panjang lebar Sachinta berekspresi menghayati namun cepat Arman menghentikan agar tak terlalu panjang lagi gadis dihadapannya berbicara.
"Oke this song for you all" ucap Sachinta, kembali menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Otak saya dari kepala turun ke pundak, lutut ,kaki, terus hilang. Otak saya dari kepala turun ke pundak, lutut, kaki, terus hilang" nyanyi Sachinta menirukan gerakan lagu yang biasa di nyanyikan anak TK.
Seketika kelas meledak dengan suara tawa murid, dan tak bisa lagi ditahan Arman untuk tak tertawa melihat tingkah dan lagu konyol yang dinyanyikan Sachinta di muka kelas. Memegang perut sampai mengeluarkan air mata, Arman terbahak di tatap aneh semua murid yang tidak pernah melihatnya bahkan hanya tersenyum, namun kini malah terbahak lepas dengan suara beratnya.
"Bapak sehat?" tanya Sachinta mendekat, membungkuk mengintip pada wajah tertunduk masih melepaskan tawa.
__ADS_1
"Aku beneran gila kalau terus deket kamu" ucap Arman tanpa sadar di tengah tawa terbahak nya.
Menatap dengan masih tertawa, Arman mengacak acak rambut Sachinta. Semua dalam kelas menatap dengan mata membulat mereka, suasana seketika hening kembali melihat tingkah wakil kepala sekolah killer mereka yang pagi ini bertingkah aneh.
"Pak, kita di dalam kelas" coba Sachinta mengingatkan laki laki masih mengacak rambutnya.
Cepat Arman tersadar, dan berdehem menyadarkan dirinya sendiri. Terhanyut dalam hal gila juga konyol yang dilakukan Sachinta, membuatnya lupa dimana dirinya saat ini. Segara Arman memundurkan tubuh dari tubuh istri yang tadi sempat dekat dengannya.
"Duduk!" kembali berwajah dingin dan bernada tegas.
"Kerjakan ulangan kalian dalam waktu satu jam!" tegas kembali Arman.
"Seratus soal satu jam?" gemuruh suara murid dalam kelas.
"Aku engga tega lihat dia, kepribadiannya benar benar ganda. Tadi tertawa sekarang sudah jahat lagi, namanya juga ada dua, belum lagi dia selalu mencintai laki laki udah kaya pagar makan pagar aja, sama sama panjang kok saling makan? cepet sehat ya Pak" batik Sachinta sudah duduk memperhatikan lelaki yang mulai berkeliling mengamati murid mengerjakan soal.
**Jangan lupa baca dan dukung karya saya lainnya ya, judulnya :
Sweet Marriage
Cinta Aulia
Difficult Love
Suamiku Seorang Duda
Satu like kalian sangat berarti untuk karya saya, jadi mohon selalu tinggalkan like tiap bab nya ya. Terimakasih banyak**
__ADS_1