I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 30


__ADS_3

"Cinta datang pada siapapun tanpa permisi. Ia mengikat dua hati tanpa mengenal siapa dan mengapa"


Ilona Shanum..


______________________________________________


Mendengar ucapan suaminya, dengan polosnya Sachinta mempercayai dan duduk menurunkan lengan jumpsuit tengah ia pakai. Arman seketika terperanjat dan menahan agar istrinya tak benar benar membuka pakaian.


"Kata Bapak suruh buka baju, sekarang gak boleh. Gimana sih?" protes Sachinta kebingungan menatap suaminya.


"Kalau aku suruh kamu tidur di dasar laut, kamu juga mau gitu?", tanya Arman membulatkan mata, dibalas cengengesan Sachinta.


"Itu sih bodoh namanya, Pak" sahut Sachinta seraya cengengesan.


"Lah emang kamu engga bodoh?" batin Arman.


Mengurut kening seraya menggelengkan kepala akan kepolosan istrinya, Arman lalu menarik selimut dan menarik Sachinta untuk lekas tidur bersama.


Bersama mulai memejamkan mata dalam selimut yang sama, Arman memeluk hangat pinggang istri kini berhadapan dengan dirinya.


Mengarungi mimpi dalam rasa kantuk menjadi, tak lagi terdengar suara di antara keduanya berbicara. Hanya saling mendekap untuk menyatukan mimpi bersama.


Di waktu lain, Syibil yang mendengar kabar dari Melati akan hadirnya seorang cucu, merasa amat bahagia melompat girang tanpa tahu kejelasan lebih dulu.


Sangat suka mengambil kesimpulan dengan jalan pikir mereka, keduanya bahagia dalam angan yang belum mungkin akan terjadi dalam waktu dekat. Mungkin saja akan membuat mereka kecewa dengan sendirinya nanti.


*****


Sekitar pukul 15.00 sepasang suami istri yang terlalu lelap tanpa tahu waktu tersebut, mulai membuka mata. Sebenarnya, Arman sudah lebih dulu terbangun dari beberapa menit lalu namun tak berani bergerak karena dada digunakan bersandar Sachinta.


"Lapar", manja Sachinta berseru begitu ia membuka mata.


"Mau makan apa? di rumah apa di luar?" tanya Arman mengusap lengan istrinya.


"Kencan yuk Pak, sekalian makan diluar. Kan kita engga pernah keluar bareng, nanti pulangnya langsung ke rumah mamel" usul Sachinta.


"Emang engga takut ketahuan temen kamu kalau keluar bareng?" tanya Arman, secepatnya Sachinta menggelengkan kepala.


"Biarin aja lah kalau ketahuan, emang kita udah nikah mau di apain lagi", santai Sachinta menjawab, mengejutkan Arman langsung mendorong lengan istrinya dan menatap.

__ADS_1


"Kamu sehat? kalau ketahuan udah nikah kamu pasti di bully di sekolah" ucap Arman mencoba mengingatkan.


"Kan ada Bapak yang belain aku" tersenyum lebar, Sachinta merasa bangga akan suaminya.


"Udah siap jadi istri beneran?" tanya Arman menggoda.


"Siap dong, siapa takut?" menaikkan kedua alis dan memainkan, Sachinta santai menjawab.


"Punya anak juga udah siap?" tanya kembali Arman.


"Engga" tertawa Sachinta menjawab.


Ikut tertawa dan merasa gemas akan jawaban istrinya, Arman mencubit pipi Sachinta dan menariknya. Sedangkan Sachinta menatap kesal pada suaminya, menepis tangan masih menarik gemas pipinya.


"Mau mandi bareng?" tanya Arman tiba tiba.


"Ha?!" terkejut Sachinta membulatkan mata.


"Biar cepet keburu tambah sore nanti, belum kencannya" sahut Arman, dibalas senyum paksa Sachinta sembari berpikir.


"Kelamaan" tambah kembali Arman.


Arman melepas pakaiannya dan meminta Sachinta untuk melepaskan pakaian juga, bersama mandi dengan saling memunggungi. Bereaksi lebih cepat karena keadaan sekarang, Arman merasa frustasi sendiri karena tak berani untuk menyalurkan.


"Bodoh banget sih? niat mau kerjain dia malah aku sendiri yang kesiksa!" batin Arman kesal.


Masih saling memunggungi walau berada dalam ruangan yang sama, mengguyur tubuh di bawah shower yang sama pula. Sachinta dan Arman menyisakan jarak di antara mereka berdua dan bergegas menyelesaikan mandi lebih cepat.


"Duh, gue pengen buang air kecil. Kalau gue langsung buang air kecil entar kelihatan dong badan gue?" batin Sachinta canggung.


"Pak..." seru Sachinta memanggil, berdiri seperti patung.


"Hm..." seru Arman.


"Mau buang air kecil, Bapak keluar dulu lah" lirih Sachinta berucap.


"Tinggal jongkok aja susah banget, mau di bantuin?!" sahut Arman kesal dengan kepala terasa berat.


"Dikira bayi?" lirih Sachinta.

__ADS_1


Mendorong punggung suaminya tanpa menoleh, hingga Arman hampir menabrak dinding. Segera membalikkan tubuh untuk memprotes, Arman tanpa sengaja melihat tubuh polos istrinya.


Tampak bercahaya dengan kulit putih terkena air dan tersorot lampu kamar mandi. Arman menelan saliva kasar dengan miliknya yang semakin tak karuan menyiksa.


Bergerak meraih handuk dan menutupi bagian bawah, Arman segera keluar dari kamar mandi dan menutup rapat pintu. Berdiri dibalik pintu memegangi dada terus berlompatan seperti katak.


"Ya Tuhan..." seru Arman seraya membuang napas panjang, menggelengkan kepala kasar untuk menyadarkan dirinya.


"Apa aku minta ya? kalau engga di salurin bakal gila sendiri ini sih" tambah kembali Arman berucap.


Di dalam, Sachinta sudah selesai membuang air kecil dan kembali menyegarkan diri dengan guyuran air shower. Terbesit sebuah bayangan dalam benaknya, dimana tadi sempat ia lihat betapa perkasa milik suaminya.


"Ya Tuhan, itu lele dipegang sama dilihat beda banget. Gimana sakitnya tuh?" batin Sachinta.


"Sadar Sasa bodoh, sadar. Ini semua gara gara mama cerita engga engga ke gue, malah mikirin kaya gitu terus" tambah kembali Sachinta.


Sempat menghubungi Syibil ditengah malam untuk menceritakan apa yang telah ia pegang, Sachinta malah ditertawakan oleh Mamanya. Menceritakan bagaimana cara suami istri berhubungan, membuat Sachinta berfantasi seorang diri.


"Tau lah, kejadian ya udah" pasrah Sachinta.


Meraih handuk dan membalut tubuhnya, Sachinta keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Arman sudah mengenakan bokser dan membiarkan dadanya masih terbuka, menutupi rambut dengan handuk untuk di keringkan.


"Bapak masih disini?" tanya Sachinta, memperhatikan bagian bawah sudah terlapis bokser.


"Lihat apa kamu?!" protes Arman, segera Sachinta tersadar dan tertawa paksa.


"Lele Bapak" cengengesan Sachinta menjawab begitu polos.


"Mau makan lele?" tanya Arman, menggosok rambut basahnya dengan handuk sembari duduk di ranjang.


"Hehehehe, engga. Takut sama lele besar" sahut Sachinta, berjalan ke arah almari untuk mengambil pakaian.


Memperhatikan kembali dengan seksama tubuh istrinya dari belakang, Arman berjalan menyusul ke arah gadis tengah membuka almari memilih pakaian. Memeluk dari belakang, melepas handuk tersisip di tengah dada.


Menciumi tengkuk istrinya tanpa berucap sepatah katapun, Arman menyalurkan keinginan sudah terpendam dari semalam. Setiap sentuhan lembut bibir di atas punggung juga tengkuknya, tanpa sadar membuat Sachinta mengeluarkan suara yang membuat suaminya semakin menggila.


"Aku mau kamu jadi istri seutuhnya Sa, menjalankan semua kewajiban kamu sebagai istri", tulus dan lirih Arman berucap.


"Aku mau, tapi aku takut" sahut polos Sachinta berbalik tubuh menghadap suaminya, tetap menahan handuk agar tak terlepas dan terjatuh.

__ADS_1


"Aku tau, tapi aku engga bisa tunda lagi Sa. Aku mau kamu" tulus kembali Arman, menatap kedua mata yang menatapnya.


__ADS_2