
Keluar bersama usai mengenakan pakaian, Arman dan Sachinta merasa canggung akan apa yang telah terjadi dan diketahui Melati. Keduanya berjalan bergandengan tangan, dengan Sachinta merasa lain pada miliknya.
"Sakit buat jalan" bisik Sachinta pada suaminya.
"Aku gendong ya?" sahut Arman menoleh.
"Gila aja, masa iya mau di gendong udah ketahuan kaya tadi" memukul lirih lengan suaminya, Sachinta menolak.
"Emang enaknya engga kerasa? cuma kerasa sakitnya aja!", goda Arman menahan senyum.
"Enak, tapi dada sama itu tuh sakit. Bapak sih main serobot aja" sahut polos Sachinta, melebarkan senyum gemas Arman.
"Mau lagi kan?" kembali Arman menggoda.
"Engga!" singkat Sachinta berjalan mendahului.
Tersenyum melihat langkah istrinya, terbesit dalam benak Arman akan tubuh sudah ia nikmati pertama kali. Menyusul Sachinta sudah mencium tangan mertuanya, Arman merasa aneh untuk bertatapan.
"Mama kesini mau antar makanan, udah di masakkin malah engga dateng dateng" ucap Melati memecahkan rasa canggung.
"Rencana mau ke sana malam ini, Ma" sahut Arman duduk di sofa single.
"Engga apa apa, engga usah datang biar cepat dapat cucu" tersenyum malu Melati menjawab, mengembangkan senyum paksa Sachinta.
"Mama..." seru Arman merasa malu.
Tersenyum menutupi mulut, Melati melirik suaminya dan memainkan alis. Melihat putra juga menantunya dalam kondisi tak seharusnya ia lihat, Melati sangat senang karena hubungan itu benar benar sudah terjadi.
Berpamitan pulang karena tak mau mengganggu waktu kebersamaan keduanya, Melati dan suaminya melarang keduanya untuk mengantar ke depan. Karena langkah Sachinta membuatnya ngilu sendiri.
"Jangan lupa kabari Mama dulu kalau udah tumbuh ya" bisik Melati pada putranya.
"Apaan sih? engga ada tumbuh, emang tanaman?" sahut Arman, dicubit perutnya oleh wanita cantik suka sekali menggoda.
"Jangan kenceng kenceng, jalannya susah tuh. Besok libur aja sekolahnya daripada ketahuan" bisik laki laki berkacamata ke arah putranya, sembari berpamitan.
Arman membuang napas panjang dan menggelengkan kepala mendengar ucapan orangtuanya. Terdengar vulgar dan tanpa basa basi, telinga Arman merasa risih dan mulai memerahkan wajah malu.
Walaupun sudah dilarang mengantar, Arman tetap saja mengantar keduanya sampai teras rumah. Menunggu hingga kendaraan kedua orangtuanya keluar dari halaman rumah, Arman tetap berdiri menanti.
__ADS_1
Kembali masuk ke dalam rumah, menghampiri istri sudah duduk di bangku meja makan. Laki laki dalam balutan celana bokser hitam juga kaos oblong senada itu mencium kening Sachinta sebelum duduk dan makan bersama.
"Masih sakit banget gak sih?" tanya Arman lirih, khawatir dengan istrinya.
"Sakit lah orang lubang kecil dimasukin gede kaya gitu masa iya engga sakit" santai Sachinta sembari mengunyah makanan.
"Nanti juga engga sakit, itu harus diulang lagi paling gak dua atau tiga kali batu engga sakit" sahut asal Arman, memulai makan apa yang diambilkan istrinya tadi sebelum ia datang.
"Emang iya?" menoleh Sachinta tak percaya ke arah suaminya.
"Iya beneran, kalau udah sering malah engga sakit lagi" sangat tenang Arman berucap, usai menganggukkan kepala.
"Oh, gitu" mengangguk berulang, Sachinta mencoba mengerti.
Arman hanya tersenyum menundukkan pandangan ke arah piring berisi makanan di hadapannya. Sikap serta jawaban polos Sachinta, terkadang membuatnya khawatir akan pergaulannya di luar.
Asik menikmati makan berdua, terdengar bel rumah berbunyi. Segera pelayan rumah berjalan cepat untuk melihat ke depan. Tak lama ia pun kembali dan menghampiri kedua orang tengah menikmati makan sembari tertawa tersebut sopan.
"Maaf, Den. Ada tamu di depan cari Aden" sopan pelayan rumah paruh baya tersebut seraya membungkukkan badan.
"Siapa, Bi?" terkejut Arman menoleh.
"Pelan dong kalau makan" beranjak Arman memberikan minum sembari mengusap punggung istrinya.
"Bu Raisa tau Bapak tinggal di sini?!" tanya Sachinta membulatkan mata.
"Pernah sekali kesini waktu kamu di rumah Mama" sahut Arman.
"Bapak buruan keluar deh, aku mau ke kamar" jawab cepat perempuan amat takut ketahuan tersebut.
"Lanjutin makan kamu, engga perlu ke kamar" ucap Arman menarik istrinya untuk duduk kembali.
Ingin memprotes, tapi Arman sudah lebih dulu berjalan ke arah depan. Gelisah tak bisa lagi melanjutkan makan meski masih lapar, Sachinta takut jika sampai hubungannya dan Arman terbongkar.
Ia pun mendorong pelan kursi, menyudahi makan dan berjalan mengendap menuju kamarnya. Namun sialnya, Raisa lebih dulu melihat langkah Sachinta dan menegur ketika hendak duduk di ruang tamu.
"Sasa?" tegur Sachinta, menghentikan langkah perempuan tengah berjalan mengendap tersebut menoleh.
"Eh, Bu Raisa" tersenyum paksa, Sachinta menoleh ke arah wanita berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Kamu ngapain disini pakai pakaian kaya gini lagi?" tanya tidak enak Raisa, menarik lengan jumpsuit pendek Sachinta.
"Dia I..." seru Arman sembari berjalan menghampiri keduanya, namun terpotong Sachinta cepat.
"I, ingin les Bu. Iya saya ingin les di Pak Arman, kan saya kurang pintar nih soal pelajaran" kilah cepat Sachinta.
"Oh..." seru Raisa, mengamati dari atas ke bawah berulang perempuan masih memaksakan senyum di hadapannya.
Mengetahui jika suaminya akan membuka identitas aslinya,Sachinta segera menyahut tanpa pikir panjang. Bersama menuju ruang tamu, Arman tampak kurang nyaman dengan hadirnya Raisa di rumah tanpa memberitahu lebih dulu.
"Ada perlu apa?" dingin Arman bertanya.
"Aku mau minta antar kamu cari buku, kan kemarin lusa kamu bilang mau antar aku" sahut wanita cantik dengan blouse biru tosca itu tersenyum.
"Bapak sama Ibu pacaran ya? maksudnya aku dengar itu di sekolah" tanya Sachinta merasa tak enak hati, melebarkan senyum Raisa namun membuat suaminya melotot tak suka.
"Seperti yang kamu lihat" tersenyum bangga Raisa, semakin membuat perasaan Sachinta tak enak.
"Oh, berarti Ibu sama Bapak emang pacaran? kenapa engga nikah aja Bu, kan udah cukup usianya" tanya kembali Sachinta, makin tak suka Arman mendengar.
"Doakan saja ya" sahut Raisa tersenyum.
"Kerjakan tugas kamu di ruang tengah sana!" tegas Arman melotot.
"Iya Pak, saya juga engga mau jadi orang ketiga di sini" sahut Sachinta beranjak dari duduk.
"Aku kedalam bentar buat kasih soal" pamit Arman.
"Iya, Pak" lembut Raisa menjawab.
Masuk ke dalam menyusul istrinya, Arman sangat ingin marah akan apa yang dipertanyakan Sachinta dalam kecemburuannya tadi. Tanpa terlihat oleh Raisa, Arman menarik istrinya dan membawa ke kamar untuk bicara.
"Gila apa kamu nanya kaya gitu?!" tegas Arman.
"Kenapa? kan emang iya, kata anak anak juga Bapak mau nikah sama Bu Raisa" sahut Sachinta.
"Sasa! aku udah nikah sama kamu, dan kamu istri aku!" tegas Arman menekankan.
"Jangan bercanda Pak, aku pernah kok lihat Bapak pegang pinggang Bu Raisa waktu di sekolah. Bapak suka kan sama Bu Raisa?" sahut Sachinta, merasa cemburu dari hari dimana Arman berjalan bersama Raisa di koridor sekolah.
__ADS_1
LIKE nya jangan Lupa...oks?