
Memasang wajah lemas, membungkuk memegang perut dan berjalan duduk di samping suaminya. Lelaki sengaja menghentikan tawa tersebut, melirik ke arah gadis tengah meletakkan sisi wajah kanan di atas meja. Tangannya masih saja memegangi perut, dengan mata terpejam.
"Sudah keluar mangkuknya?" tanya Arman tersenyum, lalu mengatupkan bibir menahan ledakan tawa.
"Belum..." seru Sachinta membuka mata menatap suaminya.
"Bagaimana kalau besok pagi keluar panci?" memasang wajah hendak menangis, ditertawakan Arman yang mendengar.
"Jangan tertawa" masih dengan mimik wajah sama menatap lelaki tetap tertawa di sampingnya.
"Bagaimana bisa keluar panci? bukannya kamu bilang tadi menelan mangkuk?" aneh Arman bertanya mencoba menghentikan tawa.
"Kalau keluar sekarang pasti mangkuk, tapi kalau besok dia sudah mengembang dalam perutku dan jadi panci" jawab Sachinta kembali membuat Arman semakin terbahak mendengar, di tatap kesal gadis langsung mengalihkan wajah ke sisi lain.
"Sepertinya aku harus di operasi sekarang" gumam Sachinta ingin menangis mengkhawatirkan perutnya sendiri.
Mendengar Arman masih terbahak, Sachinta beralih pergi dan merebahkan diri di sofa panjang ruang tamu. Tetap saja memegangi perut, ia menatap foto Kiki yang dijadikannya wallpaper dan mulai berbicara pada foto dengan senyum tampan tersebut.
"Bagaimana mama bisa berpikir menikahkan ku dengannya?" batin Arman mengamati istrinya dari jauh.
Merasa semua ucapan dan tingkah Sachinta amat lucu, bahkan tak pernah sekalipun ia menemui orang seperti Sachinta sebelumnya. Pandangannya kini berubah total akan murid bandelnya, kini ia beranggapan jika gadis masih bicara dengan foto dalam ponsel itu hanya seorang yang konyol.
Berjalan menghampiri ke arah ruang tamu, membawakan makanan sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangga. Lagi lagi mata Arman membulat hebat menatap ponsel istrinya. Apalagi ketika Sachinta mengusap lembut layar ponsel sambil berbicara lembut.
"Kamu mencintai dia?!" tegas Arman bertanya.
"Bukan cuma cinta, tapi ini sudah gila. Aku bisa mati gentayangan kalau belum bisa mendapatkannya" sahut Sachinta, seketika Arman memasang wajah tidak enak.
"Kamu pikir pantas seorang istri mengatakan hal itu?!" tegas kembali Arman masih berdiri tepat dibalik sandaran tangan sofa, dimana kepala Sachinta bersandar.
__ADS_1
"Kenapa? Bapak cemburu? hahahaha mana mungkin" tertawa Sachinta duduk menatap Arman.
"Cemburu? jangan banyak berharap! aku cuma tidak mau orang tua kita mendengar ucapan mu!" masih dengan suara tegas dan ekspresi tidak enak.
"Tenang saja, ini akan menjadi rahasia kita" tersenyum memainkan alis naik turun.
Kesal dan mengurungkan niat mengajak Sachinta makan bersama, Arman memutar tubuh dan duduk di ruang makan menikmati sendiri makan malam. Tidak menyukai jika istrinya membahas tentang laki laki lain, Arman tidak ingin lagi berbicara dan membiarkan Sachinta tetap dalam lamunannya sendiri.
****
Bersama kembali ke rumah baru, Arman tak mengatakan sepatah katapun dari semalam. Ketika sampai di rumah sudah ada kedua orang tua mereka pun, Arman masih saja diam seribu bahasa. Terlalu malas untuk berbicara dan mendengar semua kata kata yang hanya berisi nama Rizki, Arman sengaja tak menegur istrinya sama sekali.
"Wah, PlayStation aku beneran dibawa kesini Ma?" bahagia Sachinta melihat barang kesayangannya sudah terpasang di ruang tengah.
"I Love you mamaku sayang" memeluk tubuh Syibil dengan kaki terbuka lebar, dilirik kilas oleh Arman.
"Apa PlayStation lebih berarti daripada suami kamu?" menggoda Syibil mengusap ujung kepala putrinya.
"Wah, wah, masa anak Mama yang ganteng ini kalah sama PlayStation sih?" menggoda Melati menghampiri menantu tengah cengengesan menggaruk kepala.
Membalas dengan cengengesan menggaruk kepala, Sachinta tidak tahu harus berkata apa lagi. Syibil mendekat dan mencium rambut putrinya, curiga akan putrinya yang tidak mencuci rambut karena asik menggaruk.
"Cuci rambut sana, banyak kecoa tuh" bisik Syibil lirih.
"Kecoa? tikus Ma" sahut asal Sachinta melirik mamanya.
"Udah ma, biarin mereka istirahat dulu. Lebih baik kita pulang, biar mereka bisa berduaan" ucap Bobby ke arah istrinya.
"Iya juga, kita kan harus pergi ke panti sama ibu ibu arisan kan sore ini?" ingat Syibil mengarahkan pandangan lurus pada besannya.
__ADS_1
"Iya, pergi yuk sekalian kita belanja dulu" tersenyum Melati menjawab.
Berpamitan dan pergi untuk menghadiri acara masing masing, Sachinta dan Arman mengantar sampai depan pintu. Rumah yang dibeli semenjak beberapa bulan lalu sebagai investasi, kini ia tempati bersama istrinya. Arman tidak mau jika tinggal bersama kedua orangtuanya, maka akan membongkar hubungan pernikahannya cepat di depan Nino. Karena rumah mereka amat dekat, dan tidak menutup kemungkinan akan segera ketahuan.
"Mau kemana?" tegur Arman melihat Sachinta berjalan ke arah motor hitam yang sengaja dibawakan oleh Mamanya.
"Ke rumah Ria, aku udah janjian tadi. Bapak mau ikut? tapi janganlah Pak, nanti kabur lagi si Ria lihat Bapak" santai Sachinta sembari cengengesan naik ke atas motor.
"Pergi sana, tapi jangan bermimpi buat masuk lagi ke rumah" dingin Arman.
"Bapak, kalau masuk rumah itu tinggal masuk buka pintu bukan pakai mimpi. Lucu banget sih Bapak ini" tertawa menyalakan mesin motor, Arman membuang napas kasar menatap istrinya.
"Masih mau pergi? aku kunci kamu dari dalam, tidur di luar sana!" tegas Arman, cepat Sachinta turun dari motor.
"Akhirnya mengerti" batin Arman merasa lega, tertawa dalam hati.
Sachinta berlari masuk ke dalam rumah, melewati tubuh suaminya begitu saja. Tidak berapa lama, sudah tampak Sachinta keluar mengenakan tas ransel di punggung dan berlari ke arah luar rumah.
"Mau apa lagi?" heran Arman memperhatikan gadis sudah naik lagi ke atas motor.
"Tadi kan sudah dibilang Pak kalau mau ketemu sama Ria, Bapak ih kenapa lupa lupa terus sih?" santai Sachinta menggelengkan kepala tersenyum aneh.
"Kenapa bawa tas?" tanya kembali Arman.
"Kan tadi Bapak bilang mau kunci pintu, suruh aku tidur di luar. Ini pelajaran sama seragam buat besok udah aku bawa nanti tidur tempat Ria aja" tersenyum menoleh lelaki langsung menepuk kening dengan membuang napas kasar.
"Kenapa susah sekali bicara dengannya?!" batin Arman.
Mesin motor sudah menyala dan mulai berjalan, Arman cepat melebarkan langkah menghadang motor gadis langsung memprotesnya itu. Mematikan mesin motor, mengambil kunci dan memasukkan dalam saku celana. Arman menarik tangan Sachinta masuk ke dalam rumah, tak mengijinkan untuk keluar usai perjalanan jauh.
__ADS_1
"Belajar! besok kamu ada ulangan matematika!" tegas Arman menghempaskan istrinya duduk di ruang tamu.
Malas meraih buku dalam tas, tidak berani protes ketika wajah wakil kepala sekolahnya sudah seperti kutub es. Kedua mata seperti berputar melihat banyak angka, dan menggelengkan kepala berulang untuk menyadarkan pandangan. Pelajaran paling tidak di sukai dalam sejarah kehidupannya, kini harus ia pelajari meski tak mengerti sama sekali.