
"Buat yang mau gabung GC tinggal ketik judul novel yang kalian baca ya, biar gak usah cek profil lagi aku"
****
Keinginan sudah mencapai ujung kepala, membuat Arman tak lagi peduli akan apa yang pernah ia janjikan pada dirinya sendiri. Bagaimanapun juga sudah menjadi haknya untuk memiliki seluruh yang ada pada istrinya.
Menatap dalam mata gadis tetap menahan handuk di tengah dada, Arman membelai wajah segar Sachinta. Mencium dari kening hingga kedua sisi wajah, berganti ke arah bibir dan mulai menikmatinya.
Sangat lembut juga berperasaan, Arman memperlakukan tubuh di bimbingnya untuk rileks dan bisa mengimbangi. Mendorong hingga membentur almari, Arman semakin tak bisa mengendalikan dirinya.
Mengehentikan sejenak apa yang diinginkan, lelaki sudah sangat berhasrat dalam pikiran dewasa itu menggendong Sachinta ke atas ranjang. Masih membiarkan handuk menutupi, Sachinta malu juga takut dengan apa yang akan terjadi.
"Pak..." seru Sachinta ketika tangan suaminya hendak menarik handuk masih membalut tubuhnya.
"Aku sayang kamu" sahut tulus Arman.
Tidak langsung menarik handuk pada tubuh istrinya, ia lebih dulu mengalihkan Sachinta dengan ciuman yang ia berikan. Tanpa menghentikan bibir dari gadis sudah memeluk tengkuknya, Arman melepaskan handuk dan menggantikan selimut sebagai penutup tubuh mereka.
"Aaaaaaaaaaaaa!" teriak kuat Sachinta ketika sesuatu mencoba menerobos, segera di bungkam mulutnya oleh telapak tangan Arman.
"Jangan teriak! baru juga ujungnya!" protes Arman melotot.
"Batalin, engga mau! aku takut, pokoknya aku engga mau itu!" menggelengkan kepala kuat, Sachinta menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Tanggung Sa, kalau kamu engga mau yang ada aku jadi gila" berubah ekspresi memelas wajah Arman menatap istrinya.
"Engga mau, engga mau, engga mau!" kembali menggelengkan kepala, masih menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Sasa!" teriak Arman menyadarkan istri tengah histeris di bawahnya.
"Percaya sama aku, aku engga akan sakiti kamu" ucap Arman meyakinkan, ditatap sendi istrinya.
"Aku takut..." seru Sachinta lirih.
"Mungkin sakit, tapi itu engga lama dan kamu bisa gigit aku atau apapun yang kamu mau" ucap Arman.
Meletakkan kedua tangan melingkar pada tengkuknya, Arman menempel pada tubuh istrinya. Hal itu dilakukan agar ketika Sachinta merasa sakit, ia dapat menggigit bahunya.
__ADS_1
Sangat perlahan dan hati hati, lelaki kini merelakan bahu untuk digigit menahan suara itu memperlakukan istrinya. Punggung rela untuk tertusuk kuku tak begitu panjang Sachinta yang kini menahan rasa sakit.
"Sakit?" lirih Arman mengangkat wajah dan menatap istrinya.
Mengangguk menjawab, Sachinta memang merasakan sakit untuk sesuatu baru pertama ia lakukan. Lelaki yang masih dekat menatap wajahnya itupun mulai mencium kening, usai tersenyum kecil.
Kembali melanjutkan kewajiban sebagai seorang suami, Arman sesekali mencium kening juga bibir istrinya untuk menenangkan. Hingga tiba dimana keduanya mendapatkan sebuah kenikmatan bersama, menumbangkan Arman tepat di atas tubuh istri mendekapnya sangat erat.
"Makasih sayang" tulus Arman berbisik dalam napas terengah.
Sachinta masih mencoba mengatur napas, tidak bisa menjawab suaminya.
"Bapak berat" polos Sachinta berucap, melebarkan senyum lelaki dengan wajah menyusup di bantal.
Lebih dulu mencium kening istri sudah memuaskan dirinya, Arman mencium lembut dan lama kening Sachinta. Tersenyum menatap dan berpindah tidur di samping tubuh istrinya, Arman menarik selimut menutupi tubuh disampingnya.
Posisi tubuh miring, mengamati wajah perempuan tengah tidur terlentang memegang selimut di atas dada. Senyum kembali merekah pada wajah tampan tersiram kebahagiaan Arman, memeluk Sachinta dengan melingkarkan tangan pada perutnya.
"Masih terasa sakit?" lembut Arman bertanya.
"Sakit, lele Bapak gede banget" polos Sachinta, tidak dapat di mengerti oleh Arman langsung mengernyitkan kedua alis.
"Iya, itu yang tadi masuk" sahut Sachinta masih dengan nada bicara polos, secepatnya Arman terbahak hingga terlentang meletakkan telapak tangan di atas kening.
"Kenapa ketawa? lebar banget? awas kemasukan jendela loh Pak" ucap Sachinta melirik pria disampingnya masih tertawa terbahak.
Mendengar ucapan Sachinta malah membuat Arman semakin terbahak lagi hingga mengeluarkan air mata. Perut terasa kaku setiap kali mendengar celotehan asal istri terpaut usia lumayan jauh tersebut.
Merasa kesal akan ucapan tak dihiraukan, Sachinta memukul lengan Arman kuat dan memunggunginya. Menarik selimut kasar lalu di pegang di depan dada, sembari menggerutu sendiri.
"Siapa yang mengajarimu menyebut itu lele?" tanya Arman mencoba menghentikan tawa dan mengusap air mata di ekor matanya.
"Gak tau!" sinis Sachinta menjawab kesal.
"Sa, Sa...kamu benar benar orang aneh yang pernah aku kenal" ucap Arman menggelengkan kepala.
"Aneh, aneh tapi di embat juga!" menggerutu Sachinta lirih.
__ADS_1
Menyadari sikap kesal ditunjukkan perempuan terus bersuara berbisik disampingnya, Arman memeluk dari belakang dengan mencium kepala belakang istrinya.
"Dibilang aku aneh, tapi deket deket terus!" kesal Sachinta, tersinggung akan ucapan suaminya.
"Kamu aneh, tapi aku cinta" sahut Arman.
"Bisa gak kamu jangan panggil Bapak terus pas kita lagi berdua? kesannya tua banget aku" tambah kembali Arman.
"Ya kan emang Bapak tua" santai Sachinta menjawab.
"Tua darimana?! jangan panggil aku Bapak lagi! panggil sayang atau Andra gitu kan bisa!" mendorong punggung Sachinta memprotes.
"Iya, yayang Andra" malas Sachinta, mendapat dorongan lagi di punggungnya oleh Arman.
"Ngeselin banget" lirih Arman bergumam.
Berdebat mengenai panggilan, Arman tak suka dipanggil dengan sebutan yayang seperti halnya Riski. Ia juga tak mau jika istrinya memanggil Arman seperti lainnya.
Lelaki kini kembali memeluk dari belakang itu, ingin agar Sachinta memanggil dengan nama aslinya yaitu Andra. Hanya ketika mereka tengah berada di tengah keluarga atau berdua saja.
Asik memeluk dan menyusupkan wajah pada tengkuk istrinya, pintu kamar tiba tiba terbuka dan membuat keduanya terkejut bukan main. Langsung terperanjat mengangkat kepala mengintip wanita cantik kembali menutup pintu, wajah keduanya memerah seperti udang rebus.
"Mama..." seru Arman, menahan tubuh dengan siku menatap ke arah pintu.
"Bapak kenapa engga kunci pintunya?!" protes keras Sachinta.
"Ini kamar kamu, harusnya kamu yang kunci pintu bukan aku" sahut Arman.
"Bener juga ya? berarti aku yang salah" sahut Sachinta polos.
Arman yang terakhir masuk kamar, memang tak mengunci pintu. Karena ia pikir jika pelayan takkan berani masuk ke kamar tanpa ijin. Namun dengan mudahnya ia membodohi Sachinta dan dipercaya begitu saja tanpa protes.
Melati yang tak sabar ingin mengetahui tentang perkembangan hubungan antara menantu dan putranya, langsung datang bersama suaminya mengunjungi.
Hal tak terduga harus ia saksikan, namun malah membuatnya sangat senang. Lebih dulu bertanya pada pembantu akan keberadaan putra juga menantunya, Melati langsung saja menerobos masuk kedalam.
Karena memang pembantu mengatakan jika hanya ada Sachinta di kamar tersebut, dan Arman tengah berada di kamarnya untuk bekerja.
__ADS_1
Tanpa mengatakan kejujuran jika keduanya pindah kamar, pelayan rumah Arman yang tak tahu jika keduanya tengah bersama hanya mengatakan apa yang selalu menjadi kebiasaan keduanya dikamar terpisah.
EH LIKE NYA LUPA.... BALIK DULU LIKE😂