I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 33


__ADS_3

"Kapan aku melakukan itu?!" tegas Arman bertanya.


"Saat jam pelajaran olah raga, Aku melihat Bapak jalan sama Bu Raisa. Bapak pegang pinggang Bu Raisa" jelas Perempuan masih dipegang tangannya menempel pada dinding dekat pintu.


Mencoba mengingat apa yang di utarakan istrinya, Arman teringat dimana ia memang mengantarkan Raisa ke ruang kesehatan. Kala itu Raisa tengah mengalami nyeri datang bulan dan tampak pucat, untuk itu Arman mengantar dan membopong tubuh Raisa.


Tidak mengetahui jika saat itu Sachinta melihat, Arman tak pernah menjelaskan apapun karena hubungan merenggang diantara keduanya. Sachinta merasakan hal lain ketika melihat keduanya berjalan bersama, dan bisa jadi saat itu adalah kali pertama ia merasakan cinta pada Arman.


"Bapak pergi aja" ucap Sachinta melepaskan diri dari lelaki di hadapannya.


"Aku bisa jelasin! waktu itu dia sakit, dan cuma aku yang ada di ruang guru, jadi aku antar dia ke UKS!" terang Arman menarik kembali tangan istrinya.


"Iya" singkat Sachinta.


"Sasa, aku cinta sama kamu! kamu istriku dan gak ada orang lain!" jelas kembali Arman menekankan setiap katanya.


"Aku kenyang Pak, mau tidur" ucap Sachinta.


"Bapak pergi aja, kasian Bu Raisa udah nunggu. Lagian juga Bapak udah janji" tambah kembali Sachinta.


"Aku engga mau pergi, aku mau sama kamu" tulus Arman, memegang sisi kanan wajah istrinya.


"Engga apa apa, kalau udah janji ya udah ditepati aja. Aku di rumah aja, Pak" sahut Sachinta.


"Aku mau pergi kalau kamu ikut, kalau kamu engga ikut ya udah biarin aja Raisa cari sendiri bukunya" tulus kembali Arman.


"Tapi, Pak..." seru Sachinta terpotong.


"Titik!" tegas Arman melotot.


"Ya udah aku ikut" pasrah Sachinta.


Tidak ingin jika suaminya harus membatalkan janji telah dibuat, Sachinta pasrah untuk ikut pergi bersama. Walau hatinya masih tidak terlalu nyaman, Sachinta tetap saja ingin menemani.

__ADS_1


"Ganti dulu, aku engga mau kamu keluar pakai pakaian kaya gini. Yang boleh lihat tubuh kamu cuma aku, engga ada lainnya" ucap Arman menatap Sachinta yang hanya mengambil tas kecil untuk tempat ponsel.


"Kalau aku ganti, nanti ketahuan" sahut Sachinta pada lelaki tengah mengganti kaos.


"Siapa juga yang peduli?! udah ganti!" tegas Arman.


Ekspresi wajah tanpa penolakan dari Arman, membuat Sachinta menghela napas kesal. Berjalan ke arah almari dan mengambil pakaian untuk berganti di kamar mandi.


Meskipun seluruh tubuh sudah terlihat bahkan dirasakan oleh lelaki masih mengganti pakaian tersebut, tetap saja Sachinta tidak merasa nyaman jika harus membuka semua di depan suaminya.


Di depan, Raisa terus saja mencoba mencari cari dengan mengintip kedalam ruangan. Tetap duduk, namun tak bisa tenang karena lelaki yang jauh mengisi relung hatinya tak kunjung kembali.


Pernah sekali datang ke rumah Arman untuk mengambil data siswa, Raisa baru kali ini masuk ke dalam rumah. Dulu ia hanya diperbolehkan menunggu di teras rumah, karena Sachinta tak ada di rumah.


Menjaga hubungan pernikahan walau dalam perjodohan, Arman tidak ingin jika istrinya menaruh kesal pada dirinya jika sampai ia membawa wanita lain masuk ke rumah.


Mata masih mencoba mencari, akhirnya bisa melebarkan senyum pada wajahnya. Tampak Arman berjalan ke arahnya, dengan celana pendek juga kaos berlapis jaket yang ia tarik sampai siku.


"Ganteng banget" batin Raisa, masih mengamati lelaki juga menutupi kepala dengan topi warna hitam.


"Yuk, Sasa ikut kita" singkat Arman ke arah wanita masih mengamati Sachinta.


"Kamu kok udah ganti baju?" beranjak dari duduk, Raisa mengamati curiga.


Ingin menjawab, namun tangannya sudah tertarik lebih dulu oleh Arman untuk berjalan mendahului. Sontak saja apa yang dilakukan Arman membuat Raisa tidak suka dan kesal.


"Kita pakai kendaraan masing masing aja, aku ada kerjaan soalnya" dingin Arman.


Langsung masuk kedalam mobil usai membantu istrinya masuk lebih dulu, Arman meninggalkan Raisa dengan ekspresi curiga juga ingin marah.


"Jangan gitu dong Pak, kan kasian" ucap Sachinta merasa tak enak.


"Biarin aja, yang penting tuh kamu bukan lainnya" sahut Arman, menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


Apa yang dilakukan Arman demi menjaga perasaan istrinya, membuat Sachinta merasa amat tak enak dengan Raisa. Terlebih wanita yang kini mengemudi sendiri di belakang itu, adalah gurunya di sekolah.


Dalam perjalanan, Arman meraih tangan perempuan dengan celana jeans panjang juga kaos putih di sampingnya. Menggenggam dan meletakkan di atas pangkuan, usai lebih dulu ia cium punggung tangan istrinya.


"Emang aku orang tua apa dicium tangannya?" gumam lirih Sachinta aneh, mengembangkan senyum Arman masih bisa mendengar.


"Bukan orang tua, itu namanya sayang" sahut Arman tetap tersenyum.


"Sayang sih sayang, tapi tanganku jangan taruh situ juga Pak entar kusut lagi tanganku" protes Sachinta menarik tangannya, mendapat tatapan aneh lelaki duduk dibalik kemudi.


"Kok kusut?" tanya Arman heran.


"Iya, pegang lele kelamaan entar lama lama kusut kaya penjual lele di pasar tuh" celoteh asal Sachinta, ditertawakan suaminya.


"Ini lele masih kering baru tadi masuk rawa" sahut Arman tak kalah asal di sela tawa.


"Hahahaha rawa, lebat dong Pak kaya budidaya tanaman?" tawa Sachinta.


Meraih ujung kepala istri masih tertawa, Arman mengacak rambut Sachinta gemas. Celotehan seenak hati tanpa berpikir dari istrinya, membuat Arman bergidik geli sendiri membayangkan.


Melajukan kendaraan dan berhenti di sebuah toko buka terlengkap di Kota mereka tinggal, Arman memarkirkan kendaraan dan disusul oleh kendaraan Raisa di sampingnya.


Wajah masam ditunjukkan jelas oleh Raisa, ketika melihat keduanya tampak bahagia. Langsung menghampiri dan menggeser tubuh Sachinta, Raisa melingkarkan tangan pada lengan Arman.


Segera Arman melepaskan tangan Raisa dan berjalan masuk ke dalam toko buku. Namun tanpa putus asa, Raisa masih berusaha mendekati Arman dan membiarkan Sachinta berjalan sendirian di belakang.


Langsung menuju rak buku dimana buku yang ingin dibeli Raisa berada, Arman cepat mengambil dan memberikannya tanpa basa basi.


"Udah ya, saya duluan masih ada pekerjaan" pamit Arman usai menyerahkan buku pada Raisa, tak ingin terlalu lama bersama.


"Bapak kan janji mau makan malam juga sama saya waktu itu, kenapa buru buru?" menahan tangan langsung dihempaskan, Raisa mencoba menahan.


"Saya engga ada janji apa apa, saya udah antar beli buku!. Sekarang saya harus pergi, kasihan Sasa nunggu diluar kaya gitu!" jelas Arman tegas.

__ADS_1


LIKE guys jangan lupa.


Jangan asal pergi lah, LIKE itu GRATIS😂


__ADS_2