I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 39


__ADS_3

Memiliki anak berusia 5 tahun, Derin harus merelakan rumah tangganya hancur. Menjadi seorang duda beranak satu dalam sebuah rasa trauma pernikahan, membuatnya menutup rapat pintu hati hingga bertemu dengan sosok Vina yang menjadi adik angkatnya.


Kuy lah kepoin "Menikahi Adik Angkat" karya Alvarendra.


____________________________________


"Maafin aku, Pak. Namanya juga cewek kalau cemburu udah buta aja tinggal main marah" lirih Sachinta berucap dalam sesal.


"Tapi kenapa mantan Bapak cantik banget? apalah aku yang cuma remahan kripik sisa lebaran tahun kemarin" tambah kembali Sachinta, melebarkan senyum gemas Arman.


"Udah jamuran dong?" goda Arman.


"Garing" sahut Sachinta.


"Emang garing, kalau mau gak garing ya ini" sahut Arman langsung mencium bibir Sachinta tanpa aba aba dan menikmatinya.


Terbawa suasana akan ciuman yang ia lakukan sendiri, Arman bangkit perlahan dari duduk tanpa melepaskan bibir istrinya. Lelaki sudah terpancing gairah itu, mendorong tubuh istrinya ke atas ranjang agar lebih leluasa menikmati.


"Pak..." seru Sachinta menahan tangan suami tengah bergerak kesana kemari.


"Kamu sih, aku jadi pengen kan?" sahut Arman dengan wajah dekat di atas wajah istrinya.


"Bapak sendiri yang mulai, Bapak juga yang pengen. Kenapa jadi aku yang salah?" jawab Sachinta seraya bertanya.


"Itu karena kamu udah kasih ke aku, makanya aku pengen lagi" batin Arman tanpa berani berucap dan hanya tersenyum.

__ADS_1


Diberikan hak sebagai suami oleh istrinya, Arman mulai cepat tergoda walau hanya melihat sedikit lekuk tubuh juga bibir merah alami istrinya. Seakan ingin terus mengulang apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.


"Aku ini masih kecil loh, Pak. Bapak engga ngerasa kaya pedofil gitu ngelakuin kaya gini ke aku?" tanya Sachinta polos, melemas Arman seketika.


"Kita keluar aja, nanti Mama nungguin lagi diluar" ucap Arman berdiri dan berjalan lebih dulu.


Merasa aneh akan ucapan istrinya, Arman sendiri seperti seorang pedofil ketika melakukan kewajibannya sebagai suami. Walaupun telah resmi menikah, namun tetap saja tak merubah kenyataan jika Sachinta adalah seorang murid.


Beranjak dari tempatnya berbaring, Sachinta merasa aneh akan perubahan sikap suaminya. Mulai terpikir akankah apa yang telah terlontar dari bibirnya telah menyinggung lelaki yang langsung pergi begitu saja atau tidak.


Sachinta melepaskan tas pada bahunya dan meletakkan di atas ranjang. Ia mengejar suaminya keluar tanpa lupa menutup rapat pintu lebih dulu. Tampak Arman sudah duduk di ruang makan bersama kedua orang tuanya, menunduk berekspresi tak seperti biasa.


"Kenapa sih? labil banget" gumam Sachinta lirih, menatap ke arah suaminya.


"Eh, Sasa. Sini duduk, calon Ibu harus banyak makan makanan bergizi. Ini macan udah siapin yang enak buat kamu" girang Melati, berjalan menghampiri menantunya dan memegang pundak membantu untuk duduk.


"Ya ini dong macan, mamel cantik" bangga Melati menunjuk dirinya sendiri, diiringi senyum suaminya.


"Ini, kita jadi makan makanan sisa seminggu lalu?" tanya Sachinta menatap ke arah meja makan berekspresi ragu.


"Hahaha, engga dong masa iya sih tega kasih anak makanan seminggu lalu. Orang kaya, pasti kasihnya makanan sebulan lalu dong" sahut Melati terbahak sendiri.


"Hehehe, orang kaya kasih makan sebulan lalu ya? engga sekalian setahun lalu aja ma biar irit kita" sahut Dirga tersenyum ke arah istrinya.


"Itu sih pelit, Papa" jawab Melati memprotes.

__ADS_1


Sachinta tersenyum paksa dalam ekspresi ragu, ia takut jika apa yang ada dihadapannya benar benar makanan sisa lama. Tak seperti hari hari biasanya yang selalu cepat mengambil begitu melihat makanan, kini ia hanya diam saja memperhatikan.


"Kamu gak makan?" tanya Arman menoleh ke arah perempuan terus menatap semua makanan terhidang.


"Aku takut keracunan" bisik lirih Sachinta.


"Tenang aja, ini bukan makanan sisa kok. Mama masak tadi, lihat aja di dapur masih berantakan" sahut Arman.


Sangat hapal betul bagaimana kondisi dapur ketika mamanya yang masuk, Arman tahu jika masakan itu baru saja di masak. Melati memang selalu fokus memasak hingga tak peduli seperti apa bentuk dapurnya sendiri.


Walaupun tak masuk langsung ke dapur, sudah sangat jelas seperti apa berantakannya dapur melihat ekspresi dari Dirga yang tadi meminta pelayan untuk membereskan.


"Makan dong, masa mau dilihatin aja sih?" tegur Melati ke arah menantunya.


"Hehe, iya mamel" sahut Sachinta.


Meraih piring dihadapannya, Sachinta mengisi makanan untuk suaminya lebih dulu seperti ajaran Syibil. Ia memenuhi piring dengan nasi, sayur juga lauk dan dihentikan suaminya karena terlalu banyak.


"Kebanyakan" protes Arman melihat piring seperti masing hajatan.


"Udah sih, makan sepiring berdua kan enak. Terus suap suapan, habis itu..." ucap Melati tersenyum menatap ke arah langit langit ruangan seperti tengah membayangkan sesuatu.


"Udah deh, Ma" protes Arman.


"Ih, iya iya udah makan sana. Jadi anak kok nyebelin banget, gak bisa lihat emaknya bahagia!" kesal Melati karena lamunannya buyar seketika.

__ADS_1


Menuruti apa yang diinginkan mamanya karena tak ingin membuang buang makanan, Arman dan Sachinta memakan berdua makanan yang sudah memenuhi piring.


__ADS_2