
Cinta ada bukan untuk mencari kesempurnaan, tapi cinta ada untuk melengkapi kekurangan menjadi suatu yang sempurna.
Ilona Shanum...
________________________
Melepaskan pelukan dari gadis tetap mengenakan handuk menutupi tubuh, Arman memegang kedua sisi wajah terasa dingin di depannya. Mencium hangat dan lama kening istrinya, Arman meluapkan kebahagiaan hati yang tak bisa untuk diutarakan.
"Pakai pakaianmu, kita pergi ke rumah mama setelah sarapan" lembut Arman berucap, menatap mata gadis juga menatap dirinya.
"Aku ngantuk, nanti sore aja gimana pak? aku belum tidur, nih tadi abis mandi mau langsung tidur" sahut Sachinta.
"Kamu ngomong mama sendiri deh, kalau aku yang ngomong engga bakal percaya" ucap Arman meraih ponsel pada saku jaket.
"Makanya jadi orang jangan suka bohong Pak, biar dipercaya" santai Sachinta meraih ponsel ditangan suaminya.
"Enak aja kalau ngomong" protes Arman.
Menundukkan pandangan ke arah ponsel, Sachinta menekan tombol panggilan pada nomor mertuanya. Duduk di tepi ranjang, tidak menyadari jika masih mengenakan handuk untuk membalut tubuh polosnya.
Berbicara pada Melati dan mengutarakan jika akan ke rumah mertuanya sore hari, karena masih sangat mengantuk belum tidur semalaman. Mendengar ucapan menantunya, Melati menyetujui dengan pikiran akan sesuatu yang telah terjadi diantara kedua orang yang memiliki alasan sama.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk menghubungi mertuanya, Sachinta mengembalikan ponsel pada lelaki sudah duduk di samping dirinya ikut mendengarkan.
"Lebih percaya menantu daripada anak sendiri" batin Arman meraih ponsel diberikan oleh Sahinta.
Sementara dirumah kedua orang tua Arman, Melati yang sudah menutup panggilan tampak ceria dan membuat bingung suaminya. Wanita cantik dengan celana jeans pendek serta kaos putih berlogo chanel tersebut tersenyum sendiri, diiringi mata terus berbinar.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu ma?" tanya lelaki berkacamata di sampingnya.
"Kita mau punya cucu" bahagia Melati berucap, menepuk tangan dan beranjak pergi begitu saja untuk menghubungi Syibil.
"Ha? cucu?" bingung lelaki tengah mengarahkan mata melihat istrinya pergi dengan riang keluar rumah.
Mengambil kesimpulan sendiri karena alasan lelah dan mengantuk dari anak juga menantunya, Melati merasa sangat bahagia dengan anggapan cucu akan hadir di antara keluarganya. Sesuatu amat ia harapkan, meski putranya sudah memberi pengertian akan usia Sachinta dan tak meminta cucu lebih dulu.
Namun sebagai seorang Ibu dan orang tua yang banyak mengetahui kehidupan, Melati dan Syibil memiliki keyakinan jika keduanya takkan sanggup untuk menahan hubungan yang sudah menjadi kewajiban mereka. Apalagi tinggal bersama dalam satu rumah dengan banyak kesempatan, membuat keduanya yakin jika hubungan itu akan segera terjadi cepat atau lambat.
Sementara Arman masih duduk dengan santai di tepi ranjang menunggu istrrinya mengganti pakaian di kamar mandi. Sudah melepaskan jaket dan meletakkan di atas tempat tidur, karena tak jadi pergi pagi ini. Rasa kantuk karena tak tidur semalaman, membuat matanya terasa berat, namun ditahan untuk menemani istrinya sarapan pagi ini.
"Udah yuk pak" ajak Sachinta sudah keluar dan mengganti pakaian.
"Kamu mau keluar kamar pakai kaya gitu?" tanya Arman memperhatikan jumpsuit pendek sampai paha, dengan bentuk kerut bagian atas menunjukkan mulus dada dan punggung atas istrinya.
"Iya pak, kan cuma di rumah aja" santai Sachinta, melihat ke arah pakaiannya sendiri.
Menatap dari atas ke bawah penampilan istrinya, Arman tak begitu suka akan pakaian mini yang di kenakan Sachinta pagi ini. Meski hampir tiap hari hanya mengenakan hotpant, namun gairah semalam yang masih tersisa di benaknya membuatnya kembali berfantasi dewasa.
Bersama keluar kamar dan menikmati sarapan sudah disiapkan oleh pelayan, Arman tanpa sengaja melihat leher kiri istrinya. Mengamati lebih dekat dengan memajukan kepala, Arman menatap sekain tajam padda leher kiri tanpa ada rambut sedikit basah menutupi.
"Bapak ngapain?" bingung Sachinta memiringkan tubuh ke samping kanan.
"Engga ada, cepet habisin makan kamu" kilah Arman kembali duduk santai menikmati makan.
"Apa aku engga sengaja ninhgalin semalam?" batin Arman.
__ADS_1
Terkejut melihat tanda merah pada leher samping istrinya, yang tanpa sengaja ia tinggalkan ketika mencumbu semalam. Sesekali matanya masih tertuju pada leher putih gadis yang lahap menikmati makanan.
Beberapa waktu menikmati makan, Sachinta menyudahi acara sarapan dan mendorong kursi ke belakang. Hanya menikmati roti selai coklat dengan susu, Sachinta tak begitu berselara makan karena mengantuk.
"Jangan langsung tidur, tunggu perut kamu lega dulu" ucap Arman.
"Iya.." seru Sachinta berjalan meninggalkan ruang makan.
"Bi, aku istirahat dulu ya. Bibi kalau engga ada yang mau dikerjain mending istirahat aja" ucap Arman pada pelayan rumahnya.
"Iya, Den" sahut pelayan paruh baya tersebut sopan menganggukkan kepala.
Menyusul istrinya ke dalam kamar untuk beristirahat bersama, Arman lebih dulu mengganti pakaian dengan celana bokser dan kaos oblong rumahan. Di dalam kamar sudah dilihatnya Sachinta duduk di ranjang menyandarkan tubuh dengan tumpukan bantal, menunggu hingga perutnya merasa lega.
Melepaskan kaos dan hanya mengenakan celana bokser, Arman naik ke atas ranjang tanpa peduli protes terlontar dari bibbir Sachinta. langsung meraih tubuh istrinya untuk dipeluk, Arman ingin untuk tidur bersama dan menghabiskan libur mereka berdua dalam kamar.
"Pak, gerah lepasin" protes Sachinta mencoba melepaskan diri dari dekapan lelaki beraoma wangi maskulin di depannya.
"Aku ngantuk Sa, mau tidur kaya gini" Sahut Arman, mulai meletakkan kepala di atas dada istrinya sembari memeluk.
"Ya iya, tapi pakai baju dong Pak" malu malu Sachinta berucap.
"Kamu juga buka baju aja biar enak tidurnya" santai Arman berucap di atas dada istrinya.
"Ha?" seru Sachinta tak mengerti.
"Kenapa? engga ngerti? kamu buka baju terus tidur sama aku, kan aku udah buka baju. Lagian suami istri kalau tidur engga pakai baju itu malah lebih bagus" ucap Arman menatap ke arah wajah istrinya.
__ADS_1
"Emang iya?" tak percaya Sachinta.
"Iya" singkat Arman, hanya berniat menggoda.