
Menyadari rasa takut serta tubuh menegang Sacinta, Arman pun menghentikan apa yang ia inginkan. Meski sudah sangat berhasrat untuk menyalurkan segala rasa terpendam selama ini, ia tak tega memaksakan sesuatu yang mungkin belum siap dilakukan oleh istrinya yang masih teramat muda.
"Maaf" tulus dan lirih Arman berucap pada gadis masih tak ingin membuka mata.
Turun dari tubuh Sachinta, merapikan apa yang telah ia acak acak. Arman mengecup lembut dan lama kening gadis dengan perlahan membuka matanya. Tampak binar mata ketakutan teramat dalam dari sorot Sachinta, membuat Arman merasa bersalah dalam dirinya sendiri.
"Gak usah takut, kalau kamu belum siap aku engga akan paksa kamu buat lakuin. Lebih baik kamu tidur aja di kamar kamu" ucap Arman di samping istrinya.
Terburu buru turun dari ranjang tanpa menyahut, Sachinta berlari ke arah pintu dan membuka cepat. Menutup kembali pintu rapat, melanjutkan langkah menuju kamarnya dengan dada berdebar kencang.
Arman terdiam di atas ranjang, menatap ke arah pintu sudah tertutup. Lengan ia letakkan di atas kening, membayangkan akan apa yang berusaha ia perbuat barusan. Rasa ingin bercampur dengan rasa bersalah, memenuhi sesak batin juga pikiran Arman seorang diri.
"Kenapa jadi kaya gini sih? dia masih kecil, engga seharusnya aku lakuin kaya tadi" gumam Arman menyesal telah membuat istrinya takut.
Sedangkan di kamar, Sachinta duduk di tepi ranjang mengatur napas dengan memegangi dadanya sendiri. Menatap lurus kedepan, terdiam mengatur perasaan campur aduk yang ia rasakan kini.
"Lele nya besar banget" gumam Sachinta merasakan telapak tangan, masih terasa seberapa ukuran yang sempat ia pegang.
"Ih merinding banget gue, tubuhku ternoda ini" tambah kembali Sachinta bergumam.
Mampu merasakan apa yang baru saja terjadi pada dirinya dan Arman, Sachinta merinding tidak karuan. Menalan saliva kasar, menyentuh sendiri tubuh telah terjamah bibir suaminya lembut.
__ADS_1
Malam ini keduanyasaling membayangkan apa yang telah terjadi, tak ada satupun yang bisa untuk memejamkan mata. Arman yang tadi amat mengantuk juga tak bisa untuk melelapkan diri dan mengarungi mimpi.
Waktu terus saja berjalan, tak terasa kegelapan malam telah berubah enjadi pagi cerah. Namun, baik Arman ataupun Sachinta belum juga ingin beranjak dari ranjang mereka masing masing.
Merasa canggung untuk bertatap muka, keduanya memilih untuk berada di kamar masing masing tanpa ingin sedikitpub beranjak. Hari libur yang mungkin menjadi hari paling membosankan oleh kedua orang yang sama sama enggan untuk keluar kamar.
Dering ponsel dari meja samping ranjang, menyadarkan Arman seketika. Meraih dengan malas, Arman melihat nomor Melati pada layar ponsel miliknya. Menggeser warna hijau dan mulai berbicara pada wanita cantik yang sudah merindukan dirinya.
"Mumpung libur, kerumah sekarang sama Sasa. Mama kangen banget sama kalian, mentang mentang udah nikah lupa jalan pulang" cerocos Melati tanpa basa basi menanyakan kabar.
"Kapan kapan aja lah ma, aku capek banget belum tidur dari semalam" malas Arman menjawab.
"Ngapain aja semalaman engga tidur? jangan kenceng kenceng, ingat istri kamu masih muda" goda Melati tertawa.
"Gak mau tau, kalian harus kesini sekarang!" pungkas Melati menegaskan kata sekarang pada putranya.
Menggaruk kepala, seraya membuang napas kasar. Arman meletakkan ponsel di ats meja kembali dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya sendiri.
Tidak bisa menolak keinginan orang tua sebagai seorang anak yang berbakti, Arman menuruti keinginan Melati meski tubuh masih terasa lelah dan pikiran kacau.
Satu jam menghabiskan waktu di kamar mandi, dan keluar mengganti pakaian dengan celana panjang di atas mata kaki serta kaos berlapis jaket. Arman keluar dan berjalan ke arah kamar istrinya, mengetuk lebih dulu pintu di hadapannya. Tidak mendapat jawaban, ia pun membuka dan mulai masuk meski dengan perasaan canggung.
__ADS_1
"Kemana lagi nih anak?" gumam Arman tak mendapati istrinya di kamar.
"Akhir akhir ini kamarnya selalu bersih" tambah kembali Arman, mengamti kamar yang dulu selalu berantakan.
Berbalik hendak mencari di luar, Arman terkejut melihat perempuan hanya membalut tubuh dengan handuk. Tampak jelas dada serta paha mulus Sachinta dengan rambut tergulung handuk kecil, menatap terkejut ke arah suami kini mengamati dirinya.
"Ehem, a-aku tunggu di luar" ucap Arman terbata, usai berdehem untuk menyadarkan dirinya sendiri dan melangkah lebar ke arah pintu.
"Pak, aku engga pacaran sama Riski" ucap Sachinta tiba tiba pada lelaki yang hendak pergi dari kamar.
Terhenti akan ucapan istrinya, Arman tersenyum menundukkan pandangan. Hatinya lega mendengar ucapan Sachinta pagi ini, setelah terasa amat sesak beberapa waktu akan kedekatan istrinya dengan pria lain yang membuat dirinya cemburu.
"I love you Pak Arman" memeluk suaminya dari belakang, Sachinta menguatarakan perasaan telah ia pikirkan semalam.
Semakin bahagia meski terkejut dengan pelukan mendadak pada dirinya, Arman berbalik dan menatap wajah cantik tampak sangat segar. Harum shampo dan juga sabun stroberry menusuk hidung Arman dalam rasa bahagia.
"Aku juga cinta sama kamu" tersenyum dan tulus, Arman memegang kedua pundak istrinya.
Meraih tubuh masih terasa dingin usai mandi, Arman memeluk istrinya hangat. Hati keduanya sama sama meledakkan taman bunga bersama, dapat meluapkan apa yang mereka pendam bersama.
Menyadari akan cintanya pada Arman, Sachinta tak ingin membuang waktu dengan menunggu untuk mengutarakan. Tak peduli apa yang akan dikatakan oleh Arman, namun kini ia lega jika perasaannya terbalaskan dengan sebuah perasaan yang sama.
__ADS_1
Semalam Sachinta terus saja bertanya tanya akan perasaan yang ia rasakan. Menimbang sendiri akan apa yang ia rasakan pada Riski juga Arman, hingga menemukan perasaan takut kehilangan lebih besar pada Arman. Jantungnya juga lebih tak terkendali ketia ia bersama lelaki sudah meminang dirinya.
Saling mendekap dalam rasa cinta, Sachinta tersenyum lebar di atas dada suaminya. Wangi parfum maskuln yang selalu tercium, kini bisa ia rasakan dekat dari lelaki yang enggan melepaskan dirinya.