
"Bagaimana kalau kita makan dulu sekarang? ngobrolnya bisa lebih enak nanti kalau perut sudah terisi" ucap Syibil menepuk tangan memberi usul.
"Bener juga tuh, aku kangen sama masakan kamu" sahut Melati tersenyum.
Masih belum menyadari jika lelaki yang akan dijodohkan dengannya adalah Arman, Sachinta berjalan bersama mamanya ke ruang makan. Langsung menarik kursi dan duduk menunggu hingga makanan dihidangkan mamanya.
Arman terus menatap penuh tanya pada gadis yang tengah menundukkan pandangan karena kesal. Ia heran mengapa Sachinta sama sekali tidak bereaksi apapun, dan mengira jika Sachinta sudah tahu jika dirinyalah yang akan mengisi kehidupannya sehari hari.
"Sasa ini pendiam sekali ya" seru Melati, mengembangkan senyum sinis Arman.
"Di foto aja engga diam, darimana pendiam?!" batin kesal Arman.
Menikmati makan malam bersama dengan obrolan obrolan ringan tentang masa kuliah, Melati dan Syibil terlihat akrab bersama. Keduanya kerap melakukan banyak kegiatan tanpa pernah terpisah semenjak kuliah, dimana ada Syibil pasti akan ada Melati di sana, begitu juga sebaliknya.
"Dek, ambilin kakak itu dong. Udang di depan kamu" pinta Leo pada adiknya.
Menghentikan makan dan meraih udang di depannya, untuk pertama kalinya malam ini Sachinta mengangkat kepala. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Arman duduk di samping kakaknya, hingga harus tersedak nasi yang masih sedikit di dalam mulut. Cepat Melati mengambilkan minum untuk calon menantunya itu, dan mengusap punggungnya.
"Ba, Bapak kenapa disini?!" terkejut Sachinta melotot ke arah Arman, mengejutkan semua yang ada di meja makan.
"Eh? kamu baru tahu?" heran Melati bertanya.
"Sudah biasa itu, engga perlu ditanya lagi" menepuk punggung tangan sahabatnya, Syibil berucap walau sedikit terkejut dengan panggilan putrinya pada Arman.
"Bapak?" tanya Leo menatap adiknya juga lelaki di sampingnya bergantian.
"Iya, dia ini wakil kepala sekolah di sekolahku kak" jawab Sachinta mengejutkan kakak, mama juga papanya.
__ADS_1
"Oh iya, saya lupa kasih tau kalau Arman ini guru di sekolah Sasa" tersenyum Melati menjelaskan.
"Dia calon suami kamu, ganteng kan anak Tante?" tambah Melati, membulatkan mata Sachinta semakin menjadi.
"Ha?!" terkejut Sachinta.
Arman meminta ijin untuk bisa berbicara berdua dengan Sachinta di luar, keluarga pun mengijinkan agar mereka bisa saling berkomunikasi sebelum perjodohan dilangsungkan. Arman lebih dulu berjalan keluar, diikuti malas oleh Sachinta di belang berjalan menghentakkan kaki sengaja.
Menjauh dari rumah, Arman sengaja membawa Sachinta untuk berbicara di dekat pagar. Berdiri melipat tangan dengan tatapan sinis, Arman mengamati gadis yang berdiri dengan tubuh malas di depannya. Terlihat jelas dari raut wajah Sachinta yang tak ingin berbicara berdua, namun untuk menghormati semua orang dan mengingat ancaman mamanya, Sachinta pun bersedia untuk ikut.
"Kamu tidak setuju dengan perjodohan ini kan? bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menolak perjodohan ini?" ucap Arman tiba tiba.
Sachinta mulai berpikir tentang pernikahan bersama wakil kepala sekolah galaknya itu, terlintas dalam benaknya untuk menyetujui saja pernikahan itu karena mungkin akan membuatnya mudah ketika terlambat ke sekolah lagi. Senyum mengembang dengan pikiran pikiran licik di dalamnya, Sachinta bergumam dalam hati untuk segala keuntungan yang akan ia dapatkan.
"Siapa bilang? aku setuju kok" santai Sachinta menjawab, mengejutkan Arman.
"Bapak, kita ini kan seorang anak jadi harus berbakti dan menuruti orang tua. Lagipula, pernikahan ini kan sudah ditentukan jadi tidak mungkin untuk kita mundur menolak" tersenyum Sachinta menjelaskan, terdengar lebih aneh oleh telinga Arman.
"Gini, usia kamu masih 17 tahun dan seorang siswa. Kalau kamu ketahuan sudah menikah, kamu pasti dikeluarkan dari sekolah. Lagipula apa kamu tidak takut menikah dan menjadi seorang istri yang harus melayani suami?" jelas Arman sembari menakuti gadis terlihat berpikir di depannya.
"Sudahlah, aku engga mau mikir lagi. Capek otak aku udah mikir pelajaran masih suruh mikir juga, udah jalani aja" santai Sachinta melenggang ingin kembali masuk, mengembangkan senyum tidak percaya Arman menarik tangannya.
"Dengar baik baik, kamu siap untuk tidur bersamaku tiap hari? kamu siap menjalani hubungan badan setelah menikah?" tanya Arman kembali berniat menakuti Sachinta.
"Bapak kan engga suka perempuan, jadi kenapa harus takut?" menaikkan kedua pundaknya dan tersenyum.
"Apa maksudmu?" tidak mengerti Arman.
__ADS_1
"Sudahlah, aku mau makan lagi masih lapar" melepas tangan Arman dan kembali masuk kedalam rumah.
"Lumayan kan kalau nikah sama dia, ponsel engga bakal kena rampas terus bisa minta ajari buat pelajaran sekolah. Ini sih namanya dibalik musibah ada keuntungan tersembunyi" batin Sachinta tertawa lepas.
Mengacak rambut kasar, memperhatikan langkah gadis yang tak.menoleh sedikitpun. Arman tidak tahu seperti apa jalan pikiran gadis itu, yang awalnya ia kira bisa bekerja sama untuk menolak perjodohan. Namun ternyata semua pikirannya salah dan semakin menganggap Sachinta adalah gadis aneh yang pernah ditemui dalam hidupnya.
Melihat Sachinta berjalan masuk dengan ekspresi senang, semua orang turut senang juga lega mengira semua akan berjalan dengan lancar. Gadis masih melebarkan senyum itu kembali duduk, dan mengambil makan lagi usai meminta piring baru pada asisten rumah tangganya.
"Arman dimana?" tanya Bobby pada putrinya.
"Di depan Pa, kayanya lagi mikir buat kabur" santai Sachinta di tatap semua orang di meja makan.
"Maksudnya?" tanya Melati.
"Iya Tante, tadi Pak Arman minta buat kita sama sama nolak.perjodohan ini. Tapi aku bilang engga mau karena aku mau berbakti sama orang tua dan yakin kalau pilihan orang tua tidak akan salah, benar kan mama?" tersenyum Sachinta pada mamanya.
"Anak kamu ini pemikirannya sangat dewasa sekali loh, biarpun usianya masih muda tapi pemikirannya benar benar matang. Kamu pasti bangga punya anak seperti ini Syi" tersenyum membelai rambut Sachinta, Melati berucap mengembangkan senyum paksa Syibil saling tatap dengan suaminya.
"Habis makan racun tikus apa dia kok bisa ngomong manis banget?!" gumam Leo dalam hati, sambil memperhatikan adiknya.
"Papa keluar dulu lihat Arman ya" pamit Dirga berbisik pada istrinya.
Dirga berpamitan keluar sejenak pada semuanya, dan keluar untuk menemui Arman berbicara empat mata pada putranya. Dilihatnya Arman masih berdiri di dekat pagar dan cepat di hampiri, menepuk pundak laki laki terlihat frustasi tersebut.
"Kamu menolak perjodohan ini? kenapa?" tanya Dirga.
"Dia murid aku Pa, engga mungkin aku nikah sama dia. Gimana kalau sampai sekolah tahu? oke itu milik om, tapi kalau guru dan murid lainnya tahu gimana? dia masih kecil loh pa, belum mengerti apa itu rumah tangga" jelas Arman panjang lebar.
__ADS_1