I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 14


__ADS_3

Duduk melipat kaki, memegang buku dan mulai membaca untuk menunggu Sachinta belajar. Sesekali Arman mengintip dari samping buku, tersenyum kecil ketika melihat wajah frustasi istri baru saja dinikahi. Seketika senyumnya berubah menjadi rasa terkejut, ketika melihat Sachinta tiba tiba bergerak seperti orang kejang.


"He! kenapa?!" tegas Arman berteriak pada gadis dengan mimik wajah ingin menangis.


"Aku engga ngerti" merengek dengan wajah sedih, Arman pun membuang napas panjang.


"Sini, mana yang kamu engga ngerti?" menutup buka dan membungkuk ke arah meja meraih buku paket matematika.


"Semua" memelas menggigit pensil, membulatkan mata Arman.


"Selama ini kami datang ke sekolah untuk apa? tidur? gimana bisa satupun engga ada yang ngerti?" berulang kali Arman bertanya dengan rasa tak percaya.


"Aku mana pernah ada waktu pelajaran matematika, kan Bapak tiap pagi hukum saya" tersenyum cengengesan, lagi lagi Arman membuang napas panjang.


"Kamu beneran telat apa telat buat hindari pelajaran matematika?" ingin tahu Arman karena Sachinta selalu telat pada hari hari yang sama.


"Hehehe, Bapak tau lah jawabannya" cengengesan masih menggigit pensil.


"Tuhan..." seru Arman frustasi mengusap wajahnya.


Berpindah duduk bersama di atas karpet, Arman mengajari perlahan matematika dari pelajaran dasar agar dapat di mengerti. Namun tetap saja semua penjelasan yang diberikan laki laki menunduk fokus pada buku paket matematika tersebut, tidak dimengerti Sachinta dengan mata sayup lalu menggeleng cepat.


Terus memberikan contoh dan menjelaskan dengan cara sederhana, tapi tak ada jawaban yang di dengar ketika bertanya. Arman pun menoleh dan mengelus dada melihat Sachinta sudah tidur dengan kepala di atas sofa. Memperhatikan gadis dengan mulut terbuka lebar seperti goa, Arman menggelengkan kepala tak percaya.


"Pantas saja dia dijodohkan, orangtuanya pasti sudah engga sanggup sama dia" menggelengkan kepala tetap memperhatikan Sachinta.


Merapikan kembali semua buku dalam tas ransel ada di atas sofa, Arman mengangkat tubuh Sachinta untuk dipindahkan ke kamarnya sendiri. Tidak ingin lepas kendali sebagai lelaki normal dan melakukan hal sebelum waktunya, Arman sengaja tinggal dikamar terpisah dengan istrinya.

__ADS_1


***


Pagi hari, Arman sudah siap dengan kemeja dan celana panjang serta kacamatanya. Ia keluar dari kamar dan menghampiri ke kamar Sachinta berencana untuk membangunkan. Namun ternyata gadis yang sengaja bangun lebih awal untuk bisa bertemu Kiki itu sudah rapih dengan seragam sekolah.


"Kamu mau kemana?" tanya Arman heran melihat untuk pertama kalinya Sachinta tampak rapih dengan rambut tergerai serta jepit warna hitam di sisi kanan.


"Sekolah dong, masa mau main sih?" santai Sachinta masih berdiri di depan cermin merapikan seragam.


Menatap heran karena tak biasanya Sachinta berpenampilan rapih, Arman masuk kedalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Matanya tetap tertuju pada gadis tengah bersenandung riang di depan cermin, senyumnya tak berhenti mengembang.


"Cantik gak Pak?" memainkan alis naik turun, berbalik badan menatap suaminya.


"Biasa" santai Arman, memajukan bibir Sachinta kesal.


"Mana mungkin biasa aja? pagi ini kan aku mandi sama keramas" bergumam lirih Sachinta.


"Bapak kalau di rumah engga pakai kacamata, kenapa kalau di sekolah pakai kacamata? kelihatan jelek" polos Sachinta membungkuk mendekat ke depan wajah Arman.


"Biar kelihatan kalau guru aja. Kamu tanya cantik emang kenapa?" jawab Arman dan bertanya karena penasaran.


"Oh, kan yayang Kiki udah putus nih Pak, jadi aku harus mulai menebarkan pesona kecantikan yang selama ini tersembunyi" bangga Sachinta mengibaskan rambut tersenyum.


Arman langsung menunjukkan raut wajah kesal, membanting buku tadi ia raih untuk di lihat lihat dan berdiri. Keluar meninggalkan Sachinta, Arman menutup pintu keras mengejutkan gadis tengah menyiapkan tas di atas tempat tidur.


"Lagi PMS kali ya?" bergumam menganggukkan kepala.


Siap dengan tas ransel juga kunci motor yang ia mainkan memutar pada jari telunjuk, Sachinta keluar kamar dan melihat Arman sudah duduk di ruang makan menikmati sarapan seorang diri. Sachinta menghampiri dan berpamitan pada wakil.kepala sekolah yang kini menjadi gurunya.

__ADS_1


"Berangkat dulu ya Bapak, biar engga di hukum lagi" tertawa kecil menggoda laki laki bahkan tak menatapnya.


Menyudahi sarapannya dan berjalan cepat menyusul istri sudah berjalan lebih dulu setelah pamitan, Arman menarik lengan Sachinta dan memasukkannya ke dalam mobil.


"Pak, aku mau ke sekolah naik motor gak mau bareng sama Bapak" protes Sachinta.


"Diam! atau nilai kamu bakal jadi merah semua!" mengancam, lalu memutar untuk naik mobil.


"Apaan ancamnya kasih nilai merah, engga usah di ancam juga nilai aku udah merah tiap hari" menggerutu memeluk tas di dalam mobil.


Arman masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin dan mulai melaju keluar halaman rumah.


"Pak, kalau bareng gini engga takut apa kalau ada yang lihat?" tanya Sachinta memajukan tubuh mengintip ke arah lelaki tetap diam tanpa perduli sedikitpun.


Terus fokus mengemudi walau di sampingnya terus saja menyala radio tanpa gelombang. Tidak peduli akan siapapun yang akan melihat kehadirannya dengan Sachinta, Arman yang tengah merasa kesal karena terus mendengar nama Kiki, memasukkan mobil kedalam area sekolah.


"Pak, kenapa harus masuk sih? kan bisa turun di depan?" takut Sachinta dengan kepala terus menoleh kesana kemari.


"Kalau perlu aku kasih pengumuman hari ini, biar semua tau kita udah nikah" santai Arman menjawab, cepat Sachinta membulatkan mata menatap.


"Bapak jangan matiin pasaran dong, lagi mau usaha deketin yayang Kiki malah mau ngomong aneh aneh aja. Lah Bapak enak, pacar Bapak engga di sekolah jadi engga bakal marah. Lagian pacar Bapak tau kalau Bapak engga suka sama cewek, lah aku?" panjang lebar Sachinta nyerocos.


Mengintip ke arah luar kaca mobil, Sachinta mengendap endap untuk keluar dari mobil begitu dipastikan tidak ada yang melihat. Arman selalu menggelengkan kepala tak percaya melihat semua tingkah Sachinta yang dirasa aneh.


Arman masih setiap di balik kemudi, memperhatikan gadis tengah berjalan membungkuk memeluk tas ransel. Sachinta pun menoleh, dan melambaikan tangan untuk meminta Arman pergi. Lalu membulatkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk o, mengisyaratkan kata oke jika tak ada yang melihatnya.


"Apa dia pikir engga ada yang tau?" gumam lirih Arman memperhatikan dari dalam mobil.

__ADS_1


Banyaknya siswa mulai berdatangan jelas menatap ke arah Sachinta yang merasa dirinya aman tanpa ada yang melihat. Padahal sedari ia turun dari mobil sudah banyak pasang mata menatap memperhatikan. Hanya saja karena Sachinta menundukkan wajah ke atas tas ransel telah dipeluknya, membuatnya tak bisa melihat siapapun. Dan diyakini oleh pemikirannya jika tak ada yang melihat karena ia juga tak dapat melihat.


__ADS_2