
Tidak kunjung terbangun meski sudah dipercikkan air berulang kali, Arman membuang napasnya kasar karena geram. Sachinta malah mengubah posisi nyaman memeluk guling tanpa ingin membuka mata sedikitpun.
Mengangkat tubuh gadis masih tetap memejamkan mata, Arman membawanya ke kamar mandi. Meletakkan tubuh Sachinta kedalam bath up, lalu mengguyur menggunakan air shower hingga gadis masih hanyut dalam mimpi itu terbangun gelagapan.
"Banjir, banjir. Ada banjir" gelagapan Sachinta berusaha bangun dan keluar dari bath up.
"Banjir iler kamu!" tegas Arman mendorong kembali tubuh Sachinta ke dalam bath up, dengan menekan kuat pundaknya.
"Bapak ngapain sih? emangnya aku tanaman apa pakai di siram?" kesal Sachinta menghindar dari air masih mengguyur tubuhnya.
"Tanaman masih bangus ada wanginya, lah kamu? kecil kecil otak udah mesum aja. MImpi apa kamu sama yayang Kiki kamu?!" tegas Arman ingin tahu.
"Hehehe, Bapak mau tahu aja urusan anak muda" cengengesan Sachinta menjawab dengan malu malu.
"Mandi sana! bau kecoa badan kamu! sekalian itu otak dikeluarin, cuci yang bersih!" tegas Arman melempar botol shampo yang segera ditangkap gadis tengah berjongkok di dalam bath up.
"Otak dikeluarin terus dijual jadi otak otak gitu? orang tua kok mikirnya engga pernah benar. Katanya guru, wakil kepala sekolah, tapi kok engga pintar ya?" gumam lirih Sachinta memajukan bibir.
"Aduh dingin banget lagi nih air, engga ada yang anget gitu apa?" kembali Sachinta bergumam.
Arman sudah lebih dulu keluar kamr, membanting pintu kamar mandi geser dengan kuat. Merapikan sejenak rambut dan keluar menuju kamar Sachinta, untuk mengambilkan pakaian ganti karena tak ingin jika sampai gadis bandel tersebut keluar hanya dengan handuk saja.
"Mama, mama mertua? ngapain?" tanya Arman begitu membuka pintu melihat kedua perempuan engah membungkuk tetap menguping, tak ingin pergi meski tadi sudah sempat pergi dan rasa penasaran mereka membawa keduanya kembali.
__ADS_1
"Hehehe, ini pintu kamu kenapa ada debunya ya?" ucap Melati mengusap berulang pintu kamar putranya dengan tangan kosong.
"Iya ini tadi ada debu masuk banyak banget, eh nyangkut semua di pintu kamu" sambil cengengesan, Syibil menjawab ikut membersihkan pintu kamar.
Arman membuang napasnya panjang sekali lagi, menggelengkan kepala tak percaya akan apa yang ia lihat. Tahu betul jika keduanya kini tengah menguping ingin tahu apa yang terjadi antar dirinya dan Sachinta. Arman keluar dan menutup rapat pintu, memegang handle pintu dan memunggungi mengahadap kedau wanita dihadapannya.
"Ma, mama mertua, udah aku bilang kan aku engga mau sentuh Sachinta dulu. Dia masih pelajar ma, jadi engga bisa buat hamil. Aku tahu kalian pasti mau punya cucu, tapi aku engga bisa buat kasih sekarang. Nanti kalau Sachinta udah cukup umur baru aku kasih cucu" jelas Arman dengan ekspresi wajah serius.
"Kita ngerti kok, kita engga nuntut itu. Iya kan?" ucap Melati membela diri, mengedipkan mata ke arah besannya berulang untuk memberikan isyarat.
"Iya bener banget tuh" jawab syibil membenarkan dengan wajah tersenyum kikuk.
"Ya udah, sekarang Sachinta masih mandi. Lebih baik mama sama mama mertua tunggu aja di ruang makan, nanti kita susul kesana" pinta Arman lembut dengan nada sopan.
Sedangkan Arman menatap kearah dua wanita berjalan seperti bebek ke arah meja makan itu dengan menggelengkan kepala. Sedikit memijat kening karena mertua, mama serta istrinya cukup membuat kepalanya sangat pusing hari ini.
Berjalan ke arah kamar Sachinta usai lebih dulu mengintip ke arah ruang makan, dan memastikan jika kedua wanita tadi menguping itu tidak mengintip. Arman mengambilkan satu setel pakaian dalam almari di kamar istrinya, dan mengambilkan pakaian dalam ganti.
"Hahaha, celana dalam orang udah nikah kenapa bentuknya aneh?" tertawa Arman mengangkat celana dalam berwarna pink dengan gambar kartun menghiasi.
"Hahaha apa lagi ini? memang dia anak sd?" tambah kembali Arman mengamati pakaian dalam atas istrinya dengan desain kartun yang sama dengan celana dalam.
Menata satu set pakaian dalam agar mudah untuk diambil ketika memerlukan, Sachinta memang menyukai semua bentuk bentuk lucu dari berbagai tokoh kartun.
__ADS_1
Arman masih menertawakan pakaian dalam yang dinilainya kekanakan, dan tak menunjukkan kedewasaan sama sekali. Berpikir jika semua barang yang dimiliki Sachinta menunjukkan betul bagaiaman karakter serta sifat pemiliknya.
Menghentikan tawa, menggulung menjadi satu semua pakaian dalam juga satu setel pakaian, Araman melangkah kembali ke kamarnya usai mengunci kamar istrinya dari luar.
Menggulungnya dengan handuk berwarna pink hello kitty milik Sachinta, Arman segera masuk ke kamar dengan cepata agr tak ketahuan oleh kedua orang dengan rasa penasaran juga ingin tahu yang besar.
Membuka pintu kamar mandi dimana istrinya masih ada di dalam. Arman meletakkan pakaian ganti di atas meja wastafel dalam kamr mandi dal kembali keluar, sebelum ia mengetahui tubuh Sachinta di dalam. Karena bagaimanapun juga ia tetap lelaki normal yang memiliki hasrat dan tak mungkin bisa dikendalikan ketika hasrat itu datang menggoda.
"Pakaian kamu ada di wastafel, ganti di kamar mandi aja baru keluar!" teriak Arman.
"Iya. engga terima kasih!" teriak Sachinta menjawab dari dalam.
"Harusnya kan terima kasih? kenapa jadi engga terima kasih>? orang aneh, otaknya muter kaya jam dinding" bergumam Arman lalu pergi meninggalkan kamar mandi, dan menutup kembali ruangan masih ada istrinya di dalam.
Di dalam bath up, Sachinta tak langsung mandi dan hanya memainkan air. Dinginnya air shower, membuatnya berpikir seribu kali untuk mengguyur tubuhnya. Hanya bermain dengan jari telunjuk untuk mengusap tubuhnya, Sachinta cukup merinding akan dinginnya air.
"Jatah engga usah mandi, malah harus mandi. Satu jari aja lah udah cukup, kan tadi udah disiram" tersenyum mengusap tangan dengan air di jari telah dibasahi.
"Gini kan udah segar, udah wangi" kembali tersenyum Sachinta mematikan shower.
"Wangi keringat maksudnya, hahaha" terbahak sendiri dan keluar dari bath up.
Mengintip lebih dulu sebelum keluar dari ruangan kaca yang menutupi bath up, Sachinta memastikan lebih dulu jika tak ada Arman di sana. Setelah jelas tak ada sosok laki laki yang memaksa membasahi tubuhnya itu, Sachinta langsung keluar mengambil pakaian.
__ADS_1
Berdiri di depan wastafel terdapat cermin besar, Sachinta mulai mengganti baju yang telah basah tadi. Kemudian memeras di dalam wastafel dan meletakkan tepat di samping wastafel di atas meja, baru keluar usai membasahi kembali mata serta ujung bibir.