
Pagi hari...
Perlahan membuka mata, Sachinta mulai tersadar dari tidur lelapnya semalam. Menggeliat tanpa disadari dimana kini ia berada, gadis berulang kali berkedip untuk menyadarkan pandangannya itu memeluk erat suami yang di anggapnya guling.
Entah bagaimana caranya ia berpindah, hingga kini sudah meletakkan kepala indah pada dada bidang lelaki yang terjaga semalaman karena dengkuran keras dari istrinya. Merelakan sepenuhnya tubuh untuk di siksa oleh Sachinta karena pola tidur tidak beraturan.
Tidak lagi terhitung berapa kali Sachinta memukul wajah suaminya ketika mengigau berlatih basket, serta tendangan kuat mendarat pada kaki juga perut lelaki yang hanya bisa pasrah tanpa protes.
Sudah mencoba menjauh dan memindah posisi, namun tetap saja gadis asik terhanyut dalam mimpi itu mendekat dan menyiksa suaminya dalam gerakan kaki lebar.
"Klau udah bangun lebih baik kamu cepat pindah, berat dari semalam kamu seperti ini" ucap Arman, membulatkan mata Sachinta terkejut dan menatap keatas kepalanya.
"Lah, kenapa Bapak tidur di bawah saya? Bapak engga macam macam kan?" tanya Sachinta langsung memundurkan diri dan mengintip kedalam kaosnya.
"Aku mau macam macam juga mikir dulu, dasar" sahut lelaki mini mulai meregangkat otot dengan sekujur tubuh terasa sakit.
"Iya juga ya, kan aku cewek" tersenyum dan berbalik tubuh kembali ingin terlelap.
Mencoba duduk, meletakkan kedua telapak tangan di atass ranjang dan memutar bagian pinggang hingga berbunyi. Arman merasa sangat sakit juga lelah dan mengantuk karena terjaga sepanjang malam.
"Oh ya Tuhan, punggungku sakit" bergumam lirih Arman.
Telapak tangan kini telah bertumpu pada sisi dagu untuk membuat nyaman kepala, memijat tengkuk dan berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Sachinta sudah kembali terslelap tanpa diketahui oleh lelaki sangta ingin menyegarkan tubuh, karena bekas air liur membanjiri dadanya semalaman.
Menyalakan lilin aromatheray dan diletakkan di samping bath up untuk menenangkan pikiran, sembari berendan dalam busa sabun. Arman menyandarkan tubuh serta kepala menatap ke arah langit dengan mata terpejam.
__ADS_1
Merasakan sebuah ketenangan dalam acara mandi, hingga kehadiran tiba tiba Schinta mengejutkan dirinya. Menerobos masuk tanpa mengetuk pintu dan permisi lebih dahulu, Savhinta langsung duduk membuang air kecil tanpa memperhatikan sekitar lebih dulu.
"HE! KETUK PINTU APA TIDAK BISA?!" teriak kuat Arman terkejut dan menatap ke arah istri tengah duduk dengan mata seketika terbuka lebar.
"Bapak kenapa disini? mau intip ya?" sahut Sachinta tanpa rasa bersalah, membuat suaminya menatap kesal dan heran.
"Sudah, sudah, aku tutup mata biar bapak engga lihat" tambah kembali gadis kini memejamkan kuat matanyanya dengan menunduk, melanjutkan untuk membuang air kecil.
Membuang napas kasar dalam rasa kesal, Arman keluar dari bathup dan meraih satu handuk putih besar telah ia letakkan tadi di rak stainless samping bathup. Berjalan menghampiri dan berdiri tepat di hadapan gadis mulai mengendus aroma segar yang menggiurkan.
"Astaga!" terkejut Sachinta mendapati Arman berdiri hanya mengenakan handuk di pinggang dengan tubuh basah, refleks Sachinta memundurkan tubuh dan mencari tombil di samping wc duduk.
"Buka pakaian kamu dan mandi cepat, kalau tidak kamu bisa terlambar ke sekolah" ucap Arman tanpa basa basi.
"BURUAN!" teriak Arman seraya membentak gadis langsung menelan saliva kasar karena takut akan amarah lelaki di hadapannya.
"Iya.." berseru sambil berdiri, mengenakan pakaian bawah cepat sebelum ia beranjak.
Melangkah hendak keluar, Sachinta ditahan oleh Arman dan terpaksa berhenti. Mendekat pada tubuh istrinya, menarik kaos ke atas hendak melepas namun refleks Sachinta berjongkon menutupi tubuh depan dengan lutut.
"Bapak jangan yang aneh aneh" takut gadis kini sudah berjongkok tersebut berucap, meneggelamkan wajah pada kedua lutut.
"Kenapa? kamu sudah sah menjadi istriku, tidak ada salahnya aku melihat semuanya" santai Arman bertumpu pada satu lutut tepat di hadapan istrinya.
"Engga, aku engga mau! pokonya engga mau! ini baru boleh dilihat sama suamiku nanti, dan bapak cuma suami sementara sampai bapak sembuh!" teriak Sachinta menggelengkan kepala, terdengar mengesalkan untuk Arman.
__ADS_1
"Aku tidak tau sampai kapan bisa menahan keinginanku sendiri, kenapa aku sangat ingin menjadikannya istri seutuhnya tiap kali dia berbicara seperti itu?" batin Arman frustasi.
"Pergilah ke kamarmu dan cepat bersiap ke sekolah" ucap Arman.
Secepat kilat Sachinta berdiri dan berlari keluar kamar mandi, lalu ke kamarnya sendiri. Sementara di dalam kamar mandi, Arman memegang dada menatap ke arah istrinya pergi. Jantungnya kembali berdetak sangat cepat dengan sensasi terbakar dalam tubuh, sama seperti semalam saat istrinya tidur di atas tubuhnya.
"Haruskah aku menyentuhnya? paling tidak dia tau kalau aku suaminya dan dia cuma milikku, bukan suami sementara seperti yang dia pikirkan" gumam lirihn lelaki tampak sangat frustasi juga sakit hati tersebut.
"Tapi gimana mungkin? aku engga boleh sentuh dia dulu. Tapi kalau dia terus seperti ini, pasti dia engga akan paham apa posisi dia, dijelaskan dengan kata kata juga engga akan mampu buat di tangkap otaknya" tambah kembali Arman bergumam.
Tuhan, aku lelaki normal. Sampai kapan aku asnggup menahan semua?" frustasi Arman.
Berdiri dan kembali masuk ke dalam bath up menenangkan pikirannya, sedangkan Sachinta dengan jantung berlompatan duduk di tepi ranjang kamarnya. Sma seperti Arman yang memegang dada, kini gadis sangat terkejut akan apa yang terjadi juga memegangi dadanya sendiri.
"Aku sakit jantung" gumam lirih Sachinta memegang dada.
"Kenapa aku masih kecil harus sakit jantung? apa karena sering dimarahi guru? atau sering dimarahi mama? oke fix ini semua salah guru juga mama sampai jantungku engga normal" tambah kembali gadis dengan duduk di tepi ranjang itu bergumam, mengengguk berulang kali.
Merebahkan diri dengan kaki tetap di atas lantai, Sachinta mengontrol debaran jantungnya dengan menarik napas dalam, dan membuangnya panjang melalui mulut. Lebih dari apa yang ia pernah arsakan ketika dekat dengan Riski, kini ia merasakan debaran lebih kuat hingga susah dikendalikan.
Memasang wajah hendak menangis karena mengira menderita sakit jantung diusia muda, Sachinta menggelengkan kepala kuat ke akana dan ke kiri. Memejamkan mata dan terus hinggap bayangan wajah Arman dengan tubuh atletis tampak putih mengkilat karena basah air menghiasi.
__ADS_1