
Masih merasa kenyang, namun ingin berduaan. Sachinta dan Arman memutuskan pergi ke food court hanya sekedar menikmati minum dan makanan ringan.
Tampak Nino terengah engah mengejar keduanya, dan mulai mengatur napas membungkuk berpegangan pada kursi. Ia pun menarik kursi berwarna merah di depan keduanya, langsung duduk tanpa ijin lebih dulu.
Seperti tak ada orang datang, kedua orang yang menunggu pesanan tiba tetap saling mengobrol lirih. Tak terima di cueki, Nino langsung menatap tajam keduanya dan memukul meja.
"Kalian berdua pacaran?!" tanya Nino langsung dengan mata melotot, melihat kedua orang saling mengisi sela jari dihadapannya.
"Jawab dong!" tambah kembali Nino.
"Engga" sahut Sachinta dan Arman bersamaan, tampak mata Nino heran.
"Bohong, kalau engga pacaran ngapain kalian berdua mesra kaya gitu?" tanya kembali Nino masih sangat penasaran.
"Emang engga pacaran, tapi udah nikah" santai Arman menjawab.
"Oh, baguslah" sahut Nino belum sepenuhnya mencerna ucapan Arman.
"Ha?! apa?! nikah?!" terkejut Nino berteriak saat ia mulai menyadari jawaban dari sepupunya.
"Biasa aja kenapa sih?! berisik banget!" protes Arman kesal, menendang kaki Nino di bawah meja hingga memekik kesakitan.
"I, ini maksudnya apa sih?" terbata Nino bertanya, masih tak bisa mempercayai.
"Bukannya kak Arman mau nikah sama Bu Raisa ya? terus Lo kan pacaran sama Riski?" bingung Nino memperhatikan keduanya dengan tangan menunjuk bergantian.
Bersama membuang napas panjang, Arman dan Sachinta malas untuk menjelaskan pada Nino yang tak mengerti dari tadi. Arman meletakkan siku di atas meja, mengarahkan pandangan pada istrinya.
Sedangkan Nino tetap tidak bisa memahami apa yang terjadi. Ia terus saja menyaksikan pemandangan dihadapannya. Heran dan tak percaya, itu lah yang kini tampak jelas dari sorot mata Nino.
"Ada orang ini, disini ada orang!' protes Nino menggoyangkan tangan kakak sepupunya.
"Ih apaan sih Lo? suami gue nih main goyang goyang kaya gitu!" protes Sachinta, menarik tangan Arman dan meletakkan di atas pangkuan.
__ADS_1
"Sama Nino aja cemburu sih?" goda Arman tersenyum pada istrinya.
Mencubit gemas pipi Sachinta dengan tangan satunya, Arman tampak seperti orang tengah di mabuk cinta. Nino segera menyadarkan diri dengan menggeleng keras berulang, sembari memukul lirih kedua sisi wajahnya.
"Gue pasti mimpi, mana mungkin kak Andra kaya gitu?" gumam lirih Nino, tetap memukul wajahnya sendiri.
Arman atau Andra yang dikenal oleh Nino, memang seseorang yang dingin dan cuek. Tak pernah sekalipun ia melihat kakak sepupunya itu berjalan ataupun berhubungan dengan perempuan selain Raisa.
Nino masih belum bisa bekerjasama dengan mata juga pikirannya sendiri. Ia masih saja mencoba membuat dirinya sadar, tapi semakin ia mencoba menyadarkan diri, makin membuatnya bingung.
Sachinta mengisyaratkan mata pada lelaki masih menatapnya. Ia meminta agar Arman melihat wajah bodoh Nino yang tampak lucu. Arman pun menoleh dan menggertak sepupunya hingga terkejut.
"Kerasukan kamu nanti" ucap Arman mengusap kasar wajah Nino, diiringi tawa istrinya.
"Aku nih mimpi gak sih?" tanya Nino seperti orang linglung, diraih tangannya oleh Sachinta dan menggigit kuat.
"Aaaaaaaaa! sakit!" teriak Nino keras, ditertawakan oleh Arman.
"Gila tangan Lo rasanya engga enak banget" ucap Sachinta menjulurkan lidah dengan mata terpejam kuat.
"Jadi kalian berdua beneran nikah? terus kak Andra pindah bukan gara gara mau dekat showroom tapi gara gara tinggal bareng sama Sasa?" tanya lelaki dengan topi berwarna putih dihadapan dua orang mengangguk bersama.
"Kok bisa? kalian kan beda usia? lagian Lo juga masih sekolah" tambah Nino.
"Kita udah nikah berapa bulan lalu, itu juga gara gara dijodohin. Sasa ini anak sahabat mama, makanya kita dinikahin" cerita santai Arman, masih belum mampu diterima otak Nino.
"Lo hamil duluan?" hati hati Nino bertanya, langsung ditendang kakinya oleh Arman juga Sachinta bersamaan.
"Kejem banget sih dari tadi di aniaya terus?!" protes Nino mengusap kaki dengan dua tangan sembari memajukan bibir.
"Lo awas aja sampai ngomong kesana kemari soal ini, gue bom tuh mulut pakai cabai sekilo" ucap Sachinta memperingatkan.
"Tapi kenapa aku engga di undang sih? kita kan saudara" memelas Nino, meraih makanan ringan di hadapannya.
__ADS_1
"Besok makan malam di rumah, sekalian aku kenalin Sasa ke keluarga besar" santai Arman, mengejutkan Sachinta menoleh ke arahnya.
"Bapak jangan ngaco deh, mana mungkin kita ngomong ke semuanya? aku masih kecil dan aku masih sekolah SMA" protes Sachinta menekankan kata SMA, langsung dibalas senyum dan di genggam tangannya oleh Arman.
"Kamu istriku Sa, mau kamu usia berapapun dan siapapun yang gak setuju aku gak peduli. Aku cinta sama kamu, dan kamu calon ibu dari anak anakku", tulus Arman menjelaskan, seketika Nino memuntahkan minuman dalam mulutnya sambil melongo.
"Kenapa tiba tiba mual gue?" batin Nino bergidik jijik mendengar ucapan tulus Arman.
Menyadari akan ekspresi Nino, keduanya semakin menjadi dengan memanasi menggunakan kata kata mesra. Tak segan, Arman juga mengusap lembut rambut Sachinta dan membuat Nino makin merasa gila akan apa yang dilihat.
Orang yang selama ini di anggap berwibawa dan memiliki karakter dingin terhadap perempuan, kini mengatakan hal hal diluar pemikiran Nino. Apalagi Sachinta yang dikenalnya lemot juga urakan, malah menjadi seseorang penurut yang hanya bisa membalas dengan senyum juga kata kata manis.
"Aku gak lagi nonton film India kan ini?!" protes Nino menatap keduanya.
"Kenapa? yayang Andra mirip Sharukhan ya?" sahut Sachinta memainkan alis naik turun.
"Kamu Kajol dong, baby" tersenyum mencubit pipi Sachinta gemas, masih meletakkan siku pada meja menatap ke arah istrinya.
"Howeeeeekkkkk" balas Nino bergaya memuntahkan sesuatu, dapat protes cepat oleh kedua orang dihadapannya.
"Iya, Kajol sembunyi balik pohon pas diintip ternyata monyet yang nongol!" geram Nino, ditertawakan hebat Sachinta dengan pikiran melambung.
"Hus, cantik cantik ketawa mulutnya kaya goa" protes Arman menutup paksa mulut istrinya.
"Goa, goa. Rawa!" sahut Sachinta, ditertawakan geli oleh Arman.
"Rawa kamu lebat banget, mau masuk rawa lagi deh" senyum geli Arman, tak dimengerti Nino.
"Janganlah, lele nya gede rawa engga muat buat dimasukin" sahut Sachinta, makin melongo Nino.
"Eh dodol, rawa lebih gede timbang lele. Tuh rawa dimasukin lele seratus juga muat!" protes keras Nino, meledakkan tawa keduanya.
Nino hanya menggaruk kepala dengan wajah bodoh ditertawakan sangat keras oleh sepasang suami istri di hadapannya. Tidak mengerti apapun yang dibahas hingga membuatnya ditertawakan, Nino makin bodoh dan lebih bodoh lagi dibuatnya.
__ADS_1
LIKE nya ya mba.. maaf late up, aku up satu satu lagi bed rest soalnya😘😘