
LIKE jangan lupa ya...
Merasa segar dengan caranya sendiri, sudah berganti pakaian lengkap. Sachinta menggeser pintu kamar mandi, dan dilihatnya Arman masih setia menanti dengan duduk di tepi ranjang membaca sebuah buku tebal. Melangkah menghampiri, Sachinta menatap pada buku tengah dipegang Arman dan membungkuk untuk mengintip judul pada cover.
"Apa?" tanya Arman menutup buku, seketika gadis masih membungkuk itu menatap ke arah Arman dan mulai cengengesan.
"Pinjam?" tambah kembali Arman, langsung Sachinta menegakkan tubuh dan melambaikan tangan tanda tak mau.
"Hehehe engga Pak, engga usah repot repot. Aku masih waras buat engga baca buku setebal ini" cengengesan Sachinta menjawab, tetap melambaikan tangan.
Arman membuang napas panjang, dan berdiri berjalan ke arah meja ada di sudut kamar. Meletakkan buku dan mengajak agar Sachinta keluar bersama. Namun isyarat ajakan dari mimik wajah Arman tak dimengerti Sachinta, yang masih saja diam berdiri.
"Kamu mau disini membaca buku atau mau makan?" tanya Arman ke arah gadis di ujung ranjang.
"Makan dong, masa iya baca buku sih Pak" kembali cengengesan, Sachinta segera berjalan ke arah Arman agar tak disuruh membaca.
Keduanya keluar menuju meja makan telah ada Melati dan Syibil disana. Mereka masih menunjukkan keakraban serta keharmonisan palsu, dengan Arman menggandeng tangan gadis mencoba melepaskan diri.
"Aduh, romantisnya pengantin baru" goda Melati menepuk tangan menatap ke arah dua orang langsung tersenyum lebar.
"Jadi pengen nikah lagi deh kalau lihat kalian gini" celetuk Syibil bersama raut wajah bahagia serta harapan.
"Mama, udah tua mau nikah lagi. Aku bilangin papa loh" sahut Sachinta dan menarik kursi di samping suaminya.
__ADS_1
"Kami engga tau ya kalau berondong sekarang itu banyak yang tampan?" ucap Syibil berbisik menutupi sisi wajah ke arah putrinya, namun jelas suara masih terdengar oleh semua orang di meja makan.
"Hahaha, kamu ini. Bagi satu dong buat aku kalau kenal berondong" tawa Melati menepuk pundak sahabat tengah duduk di sampingnya.
"Mama..." seru Arman mengingatkan.
"Punya anak kok susah bercanda" gumam lirih Melati.
"He, ambil buat suami dulu baru ambil buat kamu! sopan banget jadi istri!" bentak Syibil melihat putrinya mengambil makan untuk dirinya sendiri.
"Lah kan ada tangan sendiri sendiri, masa harus aku? lagian Pak Arman kan...." protes Sachinta belum sampai tuntas, terpotong mamanya tegas.
"Pak, Pak! kamu pikir suami kamu ini supir angkutan umum?! panggil tuh sayang, cinta gitu bukan Pak! dasar oding!" tegas kesal Syibil, malah ditertawakan lepas oleh putrinya.
"Aduh!" memekik Sachinta kesakitan, mengusap kaki telah ditendang wanita menatapnya tajam.
"Udah lah, belum terbiasa. Nanti kalau udah sering berduaan dikamar, berkebun bersama kan langsung lancar panggilnya" berbisik Melati disertai tawa pada sahabatnya.
"Berkebun?!" seru Arman dan Sachinta bersamaan dengan wajah aneh.
"Iya berkebun, tanam benih jagung" tertawa geli Syibil menjelaskan.
Sepasang suami istri baru yang tidak memahami arti dari berkebun dan menanam benih jagung itu, memasang wajah bodoh bersamaan menatap dua wanita masih tertawa berbisik dihadapan mereka. Arman menggelengkan kepala berulang melihat tingkah mamanya, sementara Sachinta malah melanjutkan makan meski lainnya belum memulai makan.
__ADS_1
"He! dasar engga sopan, lainnya belum makan udah makan duluan!" protes Syibil melihat putrinya sudah lahap.
"Aku lapar ma tadi latihan basket, pagi juga engga di kasih sarapan sama Pak Arman" sahut gadis dengan mulut penuh tersebut, menoleh cepat Melati juga Syibil ke arah Arman.
"Kamu kenapa engga kasih menantu Mama makan sih? kamu tau gak kalau dia harus sehat dan banyak makan biar bisa cepat hamil" ucap Melati, seketika Sachinta tersedak oleh makanan amat penuh dalam mulutnya mendengar kata hamil.
"Dasar ceroboh! gumam Arman menepuk punggung istrinya perlahan dengan memberikan minum.
Kedua wanita dihadapan mereka makin tertawa gemas melihat sikap yang dianggapnya romantis, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam biduk rumah tangga anak anak mereka. Terus membantu istrinya agar tetap lega, mengusap punggung dimana tangan tetap memegang gelas.
"Ma, udah aku bilang kan jangan nanya soal cucu atau minta cucu. Sachinta masih kecil ma dan belum saatnya dia hamil" ucap Arman sembari meletakkan gelas.
"Ya ditanam dulu kan engga apa apa, nanti kalau tumbuhnya cepat juga kita seneng" jawab Melati tersenyum, hanya dibalas hembusan napas panjang putranya.
Melamun menatap ke arah langit langit, Sachinta mengembangkan angan akan keadaan tubuh gemuk dengan perut membesar. Seketika ia berteriak dan menggelengkan kepala berulang kali sembari menepuk kedua sisi wajahnya, untuk menyadarkan pikiran dalam benak yang terus mengembang.
"Oh, engga engga! itu engga mungkin! kalau aku gemuk dan jelek, gimana bisa aku deket sama yayang Kiki?!" batin Sachinta menepuk berulang kedua sisi wajah untuk menyadarkan.
Arman hanya menggeleng heran melirik ke arah istri di sampingnya, seakan sudah menghapal betul bagaimana pola pikir Sachinta. Ia sudah menebak dalam benaknya akan hal hal konyol yang jelas menghinggapi pemikiran istrinya saat ini.
Sedangkan Syibil dan Melati malah tertawa melihat apa yang dilakukan Sachinta. Mereka amat berharap seorang cucu segera hadir ditengah keluarga, untuk menambah kebahagiaan yang ada. Padahal hingga kini, Arman belum menyentuh istrinya sama sekali, karena masih menjaga agar istrinya tak terjerumus pergaulan bebas ketika kesucian sudah tak lagi melekat.
Mengetahui betul bagaimana perkembangan zaman sekarang ini, Arman tidak mau jika Sachinta sampai terjerat masuk ke dalam arus pergaulan remaja yang dinilainya semakin gila. Untuk itu, ia tak pernah ingin menyentuh istrinya, sampai benar benar istrinya menyadari akan statusnya sebagai seorang istri.
__ADS_1