I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 26


__ADS_3

Dua bulan setelah apa yang membuatnya cemburu, Arman tak pernah lagi menegur Sachinta meskipun berada dalam satu atap. Ia hanya memberikan uang saku bulanan yang di letakkan di atas meja belajar di kamar Sachinta tanpa ingin berbicara.


Sachinta sendiri merasakan keanehan akan sikap dingin yang ditunjukkan Arman padanya. Berangkat dan pulang pun terpisah, Arman tak pernah lagi langsung pulang kerumah ketika usai melaksanakan kewajiban di sekolah. Ia memilih untuk pergi ke showroom dan baru kembali ketika tengah malam.


Selalu saja seperti itu yang dilakukan Arman setiap hari, namun pandangannya tak pernah lepas sedikitpun untuk mengamati istrinya. Kedekatan semakin menjadi antara Sachinta dan Riski pun diketahui oleh Arman dan membiarkan saja walau tidak menyukainya.


Suatu malam, Sachinta sengaja bermain playstation hingga larut demi menunggu kepulangan Arman, untuk menanyakan apa yang terjadi. Gadis yang kini lebih memperhatikan penampilan dan semakin bersih itu tidak pernah merasa tenang akan keadaan yang terjadi antara dirinya dan Arman.


Berjalan memasuki rumah, memijat tengkuk terasa lelah, Arman melewati begitu saja gadis dengan pakaian tidur pendek tengah bermain di karpet depan TV. Mengetahui kehadiran Arman, Sachinta melirik ke arah jam dinding dan baru mengetahui hari ini jika pria selalu menghindari dirinya itu kembali 00.30.


"Bapak setiap hari pulang jam segini" tanya Sachinta begitu masuk tanpa permisi kedalam kamar lelaki tengah bersiap ingin mandi.


"Lain kali ke kamar orang ketuk pintu lebih dulu" santai Arman, melingkarkan handuk pada tengkuknya.


"Aku ada buat salah sama Bapak? kenapa Pak?" tanya Sachinta menghadang di tengah pintu kamar mandi cepat.


"Keluar, aku capek mau mandi terus tidur. Besok kamu juga harus sekolah jadi cepat tidur" santai kembali Arman tanpa melihat gadis tengah menggulung tinggi rambut, menghiasi kepala dengan bando warna pink.


Menyingkirkan tubuh Sachinta yang menghalangi jalnnya, Arman langsung memasuki kamar mandi. Tubuh teramat lelah sangat ingin ia segarkan, rasa kantuk yang mendera juga sudah tak mampu ia tahan.


"Dikira gue kotoran kali, disingkirin gitu aja?" gerutu Sachinta.


Gadis berbalut celana tidur sampai batas paha atas tersebut, memilih duduk dan menunggu di tepi ranjang. Ponsel di atas meja kecil samping ranjang milik Arman, tiba tiba menyala dan ia intip. Terdapat sebuah pesan belum terbuka dari pukul 16.00 tadi dari Raisa, sangat ingin diketahui oleh Sachinta.

__ADS_1


Ponsel tidak terkunci memudahkan Sachinta untuk membuka pesan milik guru matematika yang membuatnya membulat hebat. Banyak pesan dimana ucapan terimakasih atas keluar bersama, makan bersama juga bantuan lain yang di berikan Arman pada Raisa.


Walaupun dalam pesan tersebut Arman hanya membalas biasa saja, nemaun entah mengapa hal itu menyakitkan untuk Sachinta. Ia semakin ingin tahu dan membuka galeri ponsel mencari beberapa foto di dalam. Menemukan sebuah foto Arman bersama Raisa, Sachinta merasakan sesak tak pernah ia rasa.


"Apaan coba?!" geram Sachinta, terus mencari manakala ada lagi foto lain di dalam.


Tidak menemukan kembali foto, Sachinta kembali pada aplikasi pesan dan mengamati satu per satu pesan dalam ponsel berwarna hitam milik suaminya. Tak kalah terkejut ketika melihat foto Arman dengan Raisa, kini keterkejutan itu semakin menjadi saat melihat kontak dirinya dengan nama "My Wife" dalam ponsel Arman.


Sebuah sengatan listrik tak beraturan ia rasakan tiba tiba, membuatnya makin aneh akan apa yang terasa pada laki laki beda usia yang telah mengikatnya dalam perjodohan.


"Jangan lancang periksa hp orang!" tegas Arman menarik ponsel dari tangan Sachinta kuat.


"Bapak bener pacaran sama Bu Raisa? jadi setiap hari Bapak pulang jam segini buat ketemu Bu Raisa? lalu kenapa nomor saya Bapak tulis istri Bapak?" tanya Sachinta beruntun pada lelaki berdiri di hadapannnya dengan kaos panjang putih sudah membalut.


"Kenapa bukan urusanku? aku kan istri Bapak, jadi aku harus tau dong" ucap Sachinta masih duduk tidak beranjak sedikitpun.


"Siapa bilang kamu istriku?! keluar aku bilang!" bentak Arman.


"Bapak yang bilang, di hp Bapak aja kaya gitu kok" jawab Sachinta.


"Lihat! sudah aku hapus!" menunjukkan ponsel dan menghapus kontak my wife dalam ponselnya.


"Kamu masih kecil dan gak akan pernah tahu apa itu istri, bahkan kamu engga pernah sadar kalau kamu sudah menikah! istri apa yang malah pacaran dengan pria lain? kewajiban istri mana yang sudah kamu lakukan?" panjang Arman berucap.

__ADS_1


Kecewa akan apa yang telah dilakukan istrinya, Arman memendam sendiri dan baru mengeluarkan apa yang ada dalam isi hatinya. Sachinta tidak merasa berpacaran dengan siapapun, tidak merasa bersalah sama sekali. Karena memang antara dirinya dan Riski hanya sebuah kedekatan tanpa ada kata cinta terucap.


Sudah menyadari posisi dirinya dalam ikatan bersama Arman dari beberapa minggu lalu, Sachinta menyadari jika tak seharusnya ia dekat denga Riski. Lagipula perasaan pada Riski pun telah berkurang sedikit demi sedikit, dan menyisakan sebuah perasaan khusus pada lelaki kini di hadapannya.


"Aku mohon kamu keluar sekarang, aku capek mau tidur" ucap kembali Arman menarik tangan Sachinta agar beranjak dari duduknya.


"Suami istri harus tidur satu kamar, jadi aku engga mau keluar" sahut Sachinta kembali duduk dan merebahkan dirinya.


"Aku laki laki normal, jadi sebelum apa apa terjadi ke kamu lebih baik kamu kelua" ucap Arman memperingatkan.


"Baguslah kalau Bapak sudah normal, aku juga sudah tau kalau Bapak normal dari Nino" santai Sachinta menghadap arah lain memunggungi Arman.


"Apa maksud kamu? kamu ngomong ke Nino kalau kita menikah?" terkejut Arman bertanya, masih berdiri di samping ranjang.


"Engga, aku cuma nanya apa Bapak suka laki laki atau perempuan. Katanya Bapak suka sama perempuan, makanya Bapak pacaran sama Bu Raisa dan mau nikah sama Bu Raisa" santai Sachinta, hanya menoleh tanpa mengubah posisi.


"Siapa bilang aku mau nikah sama Raisa?! aku udah nikah dan itu sama kamu! bodoh!" teriak kesal Arman.


Hanya menjawab dengan pundah terangkat, Sachinta sudah kembali merebahkan kepala nyaman di atas bantal tanpa ingin lahi menoleh. Melihat paha terbuka amat puti dan muslus di hadapannya, Arman membuang napas kasar. Apalagi baju atasana tanpa lengan milik Sachinta menunjukkan tali pakaian dalam berwarna pink, menggelayut pada pundak.


"Aku bisa gila kalau dia tidur disini" batin Arman membuang napas kasar seraya mengginggit ujung bibir bawah.


Pemandangan indah yang ingin ia hindari agar tak terpancing hasrat dewasa, terlalu menggoda untuk ingin terus di tatap. Berulang kali membuang napas, menenangkan dirinya sendiri. Arman naik ke atas ranjang dan tidur di balik tubuh istrinya, usai lebih dulu mendorong punggung Sachinta menggunakan kedau tangan.

__ADS_1


__ADS_2