
Yuda menemui dokter untuk berkonsultasi tentang bayi tabung. ia belum mengajak Tia karena Yuda baru akan mencari informasi tentang bayi tabung.
Tentang prosedur dan biayanya yang tidak murah. Yuda tidak khawatir tentang biaya. ia punya lebih dari cukup untuk membiayai Tia melakukan proses bayi tabung. yang ia cemaskan kondisi Tia, karena bayi tabung bisa di lakukan jika kondisi calon ibu juga memenuhi syarat.
Yuda menemui dokter spesialis kandungan dokter Faiz Rahman.
"Bagaimana peluangnya dengan istri saya dok". Tanya Yuda.
"Kita perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tingkat keberhasilannya nanti. silahkan bawa istri bapak untuk pemeriksaan secepatnya". Kata dokter Faiz.
"Baik dok, saya akan ajak Tia lusa kemari".
Yuda memantapkan hatinya untuk mengajak Tia mencoba proses bayi tabung. melihat Tia yang setiap hari murung Yuda tidak sampai hati. ia juga ikut stress melihat keadaan psikis istrinya.
Suatu siang Yuda membawa Tia ke rumah sakit bertemu dokter Faiz. Pemeriksaan di mulai dengan secepatnya.
"Jangan stress ya". Kata dokter Faiz.
__ADS_1
Tia mengangguk dokter Faiz mengajaknya mengobrol sembari memeriksa kondisi Tia. memungkinkan atau tidak untuk prosedur bayi tabung.
"Nanti jika semua hasil pemeriksaan selesai kami dari pihak rumah sakit akan menghubungi pak Yuda dan bu Tia untuk tidakan lebih lanjut".
"Iya dok, terimakasih banyak". Kata Yuda.
Tia dan Yuda meninggalkan rumah sakit selesai pemeriksaan. Yuda kembali bekerja dan Tia memutuskan pulang ke rumah.
Tia berbaring sambil membaca novel di ruang tengah. Tia terpikir ingin resign dari pekerjaannya. ia tidak mau stress dan kelelahan. Tia berharap peluang bayi tabung yang ia jalani akan sukses.
Bel pintu berbunyi, Tia berjalan ke depan dan membuka pintu. Ibu mertuanya berkunjung sendiri.
"Ibu kok tidak memberi kabar saya atau mas Yuda kalau mau kemari?".
"Kenapa memangnya?, masa ibu nggak boleh ke rumah anak sendiri".
"Boleh bu, maksud saya kalau ibu mengabari kami bisa menjemput".
__ADS_1
"Tidak perlu, ibu mau bicara sama kamu".
Tia menatap ibu mertuanya dengan serius. ia sebenarnya ingin mebuatkan minuman dan menyiapkan makanan tapi sepertinya ibu mertuanya ingin bicara serius pada Tia.
"Tia, kalian menikah sudah lama. ibu lihat kamu tak kunjung hamil".
Ada rasa perih menelusup ke dalam hati Tia. ia terdiam mendengarkan ibu mertuanya bicara.
"Ibu tidak mau keturunan keluarga kami terhenti di Yuda saja".
Tia menunduk matanya memanas ada buliran bening menetes di pipinya yang putih.
"Maafkan saya bu, saya dan mas Yuda sedang berusaha. kami akan mencoba bayi tabung". Kata Tia sumringah. ia merasa memiliki harapan dengan apa yang akan di lakukannya dan Yuda.
"Kalau itu tidak berhasil bagaimana?".
"Saya....saya....".
__ADS_1
Tia tak mampu melanjutkan ucapannya. airmata membanjiri wajahnya. ia hanya bisa terdiam. wajar jika ibu mertuanya mendamba seorang cucu dari anak lelakinya.
Tia menguatkan hatinya. ia sudah berusaha sejauh ini. ia sudah melakukan pemeriksaan dengan dokter Faiz yang terkenal dengan reputasinya yang bagus. Tia pergi ke dapur begitu ibu mertuanya pulang. ia menyiapkan makan malam. dan meminum susu yang mengandung folat. Tia mengunyah biskuit dan tersenyum menikmati dan bersyukur atas kekuatannya sampai saat ini, ia tidak menyerah.