
Tia bangun pagi, ia dan assiten rumah tangganya terlihat di halaman rumah mereka yang luas. Tia memesan bibit tanaman dan sayuran. ia mulai menggarap tanah itu dan ingin mrnanaminya.
Yuda bangun dengan wajah cerah ia menikmati sarapan yang di sajikan di meja. lalu menyusul Tia ke halaman. Yuda memandang bibit tanaman yang berjajar rapi. ia senang Tia mencari kesibukan di rumah jadi ia tidak terlalu larut dalam masalah yang sedang di hadapi.
"Mas berangkat kerja dulu ya". Yuda mengecup kening Tia yang masih lengkap dengan sarung tangan dan kotor terkena tanah. Tia sudah mulai menanam beberapa bibit sayur di antaranya ada paprika dan terong.
"Hati-hati ya mas".
Yida berangkat dengan mobilnya. Tia melanjutkan berkebun.
"Bu ada tamu". Asisten rumah tangga nya memberi tahu ada yang datang. Tia bergegas mencuci tangan dan berganti pakaian. ibu mertua dan Monica sudah duduk di ruang tengah. Tia menatapa perut Monica yang sudah mulai membesar. Monica terlihat berisi dan cantik dengan kehamilannya.
"Bu". Tia menyapa ibu mertuanya cium tangan dan memeluk Monica.
"Hati-hati mbak!". Monica memekik karena perut besarnya berhimpitan dengan badan Tia yang memeluknya.
__ADS_1
"Maaf Mon, mbak nggak sengaja, berapa bulan ini?". Tia mengelus perut besar Monica.
"Tujuh bulan".
"Bagaimana hasil program bayi tabung kamu?". Ibu bertanya sembari meminum teh nya.
"Belum berhasil bu, tapi kata dokter masih bisa di mulai lagi".
"Ibu sudah menduga".
"Maaf ya bu, nanti Tia dan mas Yuda akan berusaha lagi untuk program bayi tabung kedepannya".
"Lalu kalau kalian gagal lagi bagaimana?, usia kalian terus bertambah. Yuda seharusnya sudah memiliki anak dan di panggil ayah".
"Saya akan ikhlas jika mas Yida menikah lagi bu". Monica tersedak makanannya. ia menoleh ke arah Tia. Monica tidak menyangka kakak iparnya akan senekat itu.
__ADS_1
Monica terdiam memandang Tia yang terlihat tenbg dengan senyum tersungging di bibirnya. tapi sebagai seorang wanita nalurinya tetaplah ada. ia memandang senyum itu seperti sebuah luka, luka yang tak terlihat.
"Mbak Tia pasti hamil bu, sabar aja mas Yuda yang suaminya saja sabar. lagi pula ibu kan sebentar lagi dapat cucu dari Monic". Kata Monica membela Tia. ia tidak tega melihat kakak iparnya.
"Iya benar sekali kamu Monica". Tia merasa terharu adik iparnya akhirnya mengerti perasaannya sebagai seorang wanita.
"Ayo bu kita pulang, Monic capek mau istirahat di rumah".
"Mbak kita pulang dulu, semoga berhasil dengan program nya". Meski sedikit ketus tapi Tia bisa melihat kebaikan dari setiap kata-kata Monica tadi.
"Terimakasih ya Monic, ibu". Ibu mertua dan adik ipar Tia pulang ke rumahnya. Tia duduk santai memandang halaman rumahnya yang sedang ia tanami. ada semangat besar yang muncul dalam dirinya. ia terlihat lebih sumringah. Tia menunda program selanjutnya. ia ingin menikmatinsemua dalam hidupnya dengan santai dan bersyukur.
Tia menyambut Yida oulang bekerja dengan menyajikan makanan enak di meja makan.
Setiao malam sebelum tidur ia dan Yuda menghabiskan waktu untuk mengobrol berdua. paginya Tia berolah raga keliling komplek rumahnya dan menyap para pedagang di sekitar rumahnya atau tetangganya yang juga berolah raga.
__ADS_1
Siangnya Tia membuat kopi kesukaannya. ia membaca novel-novel kesukaannya sambil menunggu Yuda pulang kerja. Tia mulai mrnata dirinya untuk tidak ngoyo. ia ngin menikmati semua dengan lebih bersyukur.