
Ibu sedang tidak enak badan jadi aku mengajak istri dan anakku untuk datang ke. rumah ibu. Sementara mbak Rani baru bisa datang besok karena suaminya masih bekerja dan tidak bisa cuti.
Ningsih terlihat merapikan baju ke dalam tas, jaga-jaga kalau nanti menginap di rumah ibu meski jarak rumah kami hanya berbeda kecamatan tapi kalau harus bolak-balik juga lelah.
"Sudah siap semua?"
"Sudah" jawab Ningsih sekenanya. entah kenapa istriku selalu saja terlihat tertekan ketika akan bertemu keluarga ku. Apa lagi kalau ada Bastian dan Siska di rumah ibu.
Sepertinya Ningsih kesal karena anak kami selalu di bandingkan dengan anak Bastian. Dan ibu bapak terlihat lebih sayang dengan anak Bastian dan Siska.
Aku meraih kunci mobil dan memasukkan barang-barang yang sudah di tata oleh Ningsih.
Sesampainya di rumah ibu, kami disambut oleh bapak yang berdiri di depan pintu gerbang sembari menggendong anak Bastian.
"Jadi kak Bas udah sampai duluan?" tanya Ningsih ragu. Ia terlihat berat ketika melangkahkan kaki memasuki rumah ibu.
Kulihat di meja makan kosong, tidak seperti biasanya ketika ibu sehat, ibu akan masak banyak sekali jika anak-anaknya kumpul di rumah.
"Kalian datang telat kemana saja? ibu butuh bantuan. Sengaja ya datang telat biar nggak repot?!" semprot ibu.
"Bu sudah lah, ibu kan lagi sakit jangan marah-marah nanti malah tambah sakit" kataku Melerai omelan ibu yang aku tahu di tujukan pada istriku Ningsih.
Ningsih tidak menghiraukan sindiran ibu. Ia kekamar tamu dan meletakkan baju ganti kami di atas tempat tidur. Lalu ia keluar lagi dan menyusul ibu yang berada di dapur.
__ADS_1
"Kamu nanti ke pasar dan belanja sayuran. ibu nggak bisa ke pasar Karena nggak boleh kelelahan. besok ibu ada jadwal checkup kesehatan"
"Iya Bu, mau belanja apa saja ini?" tanya Ningsih bersiap mencatat setiap belanjaan pesanan ibu.
Ibu ku wanita yang pandai memasak. ketika berbelanja pun ibu jeli dan hasil belanjaan tidak pernah mengecewakan. Tidak ada salah pilih sayur atau bumbu. semua serba segar dan dalam kondisi bagus serta harga terjangkau.
Istriku Ningsih sebenarnya juga pandai memasak. Tapi di mata ibu ia seperti menantu yang tidak bisa memasak.
"Beli kol, wortel, tempe, sama ikan"
"Iya Bu, nanti kita mau masak apa Bu?"
"Kamu masak sayur sop saja. ibu mau istirahat"
Kulihat wajah Ningsih sedikit ragu. Istriku pasti tidak percaya diri ketika ibu memintanya memasak untuk semua anggota keluarga. padahal masakan istriku enak.
Setengah jam kami putar-putar di los sayur dan ikan. akhirnya keranjang belanjaan penuh terisi. Tak lupa Ningsih juga membeli tempe pesanan ibu.
Sesampainya di rumah, Ningsih langsung turun ke dapur mencuci sayuran dan meraciknya. Terkadang ku dengar ia bertanya beberapa hal pada ibu tentang cara memasak.
Aku yang sedang menggendong Emma ikut memperhatikan Ningsih di dapur. Kulihat istriku cekatan seperti biasanya dan sayur sop sudah matang. lanjut ia menggoreng tempe dan ikan lalu membuat sambal.
Semua sudah terhidang di meja makan. Aku dengan senang hati dan sumringah mengambil piring untuk kami sekeluarga.
__ADS_1
Kuambilkan nasi untuk bapak dan ibu. Meleset dari perkiraan ku ternyata bapak malah memakan sayur kemarin hasil beli di warung sebelah. Sayur itu sebenarnya terlihat sudah tidak segar.
"Lho pak kenapa pakai sayur itu lauknya? kenapa tidak pakai sayur sop buatan Ningsih?" tanya ku pada bapak yang sudah mulai makan.
"Sudahlah sama saja" jawab bapak.
Ibu juga mengambil nasi dengan sedikit sekali sayur sop. Ibu tidak mengambil lauk apapun dan terlihat kurang berselera memakan masakan Ningsih.
"Bu coba ikannya enak sekali" kataku mengambilkan ikan goreng dan akan ku taruh di piring ibu. Ibu segera menolak nya dengan menggeser piringnya.
"Ibu sedang batuk nggak makan ikan, tenggorokan sakit" jawab ibu.
Hancur hati ini melihat istriku di perlakukan sedemikian rupa oleh bapak dan ibuku. Bastian dan Siska memilih makan di luar.
Aku iba pada Ningsih yang sudah susah payah memasak tapi tidak di hargai. Aku memakan banyak-banyak masakan Ningsih setidaknya itu bisa mengobati sakit hatinya.
Ningsih diam tidak bicara sepatah kata pun. Kulihat dia mengambil banyak-banyak sayur sop di mangkuknya lalu lauk tempe dan ikan. Selesai makan Ningsih mengambil ikan di piring dan memberikannya pada kucing di depan rumah.
Bapak yang melihat hal itu sepertinya tahu jika istriku sakit Hati. Lalu aku masuk kedalam dan kulihat Ningsih dengan susah payah menghabiskan sayur sop di panci.
Rasanya aku ingin menangis melihatnya seperti itu. Sorenya aku mengajak Ningsih dan anak-anak untuk jalan-jalan di sekitar pasar. disanaa kalau sore menjelang malam ramai sekali dengan pedangang kaki lima.
Ningsih terlihat bahagia meski ia tidak mau membeli sesuatu. Aku sudah berusaha menawarinya tapi ia menolak.
__ADS_1
bersambung....
Kami keluar rumah sekitar satu jam.lalu kembali pulang ke rumah ibu. Sesampainya di rumah, ibu dan bapak memasang wajah masam. I u dan bapak tidak suka melihat kami jalan-jalan keluar. Ibu terlihat marah dan ketus pada Ningsih. Bapak pun juga begitu.