
Raya, Pramadya, Alex yang baru saja tiba dari luar negeri langsung berkumpul di rumah Raya. mereka menunggu Nicolas yang belum datang karena masih di perjalanan dari luar kota.
"Kenapa bunda bisa kembali ke rumah lama itu?". Tanya Raya bingung.
"Darimana bunda dapat uang sebanyak itu untuk membeli kembali rumah itu?". Tanya Pramadya.
"Iya bagaimana bisa pembeli rumah itu menjual rumahnya lagi pada bunda?". Alex ikut tidak yakin.
"Jawabannya adalah Mahendra". Nicolas yang baru saja tiba langsung menjawab pertanyaan kakak-kakaknya.
"Mahendra?". Tanya Raya.
"Kakak semua lupa kalau kak Mahendra CEO perusahaan terbesar di negara ini. untuk menyelesaikan permasalahan rumah bunda ia tidak perlu bersusah payah. sekali perintah rumah itu pasti jatuh ke tangannya dan ia berikan kembali pada bunda".
"Bennar juga". Gumam Pramadya.
"Kita biarkan dulu, aku ada urusan yang lebih penting". Raya pergi dengan mobilnya. sementara Pramadya, Alex dan Nico juga pergi.
Pagi itu bunda membuat teh hangat di teko besar dan di sajikan di meja makan.
Anak-anak kost bunda terlihat senang dan rindu dengan teh bikinan bunda.
__ADS_1
Mahendra datang dengan istrinya. ia mengunjungi bunda dan melihat apakan bunda baik-baik saja setelah kembali ke rumah.
"Bunda senang bisa kembali ke rumah ini Hen".
"Apa kak Raya sudah kemari bund?". Tanya Mahendra.
"Belum". Jawab bunda sedih.
Mahendra menyalakan tv dan melihat siaran berita. bunda ikut menyaksikan sekilas. wajah Raya anak bunda terlihat di beritakan di siaran tv itu. bunda tertegun mendengar dengan seksama. perusahaan Raya bangkrut dan terlilit hutang besar. terpaksa ia menjual semua asetnya untuk menutup hutang-hutangnya.
Bunda duduk lemas di kursi. Mahendra mengambilkan segelas air.
"Hen kenapa Raya?, ada apa dengan semua usahanya?". Tanya bunda cemas.
"Kak Raya bangkrut bund".
Bunda terdiam dan meneteskan air matanya.
Sore itu bunda duduk di ruang tamu. hari menjelang maghrib. bunda menyalakan lampu di ruang tengah. ia mengenakan syalnya. suara deru mesin mobil terdengar dari halaman rumah bunda. Raya, Pramadya, Alex dan Nicolas tiba di rumah bunda. keempat anak bunda meminta maaf pada bunda. terutama Raya ia bersimpuh di kaki bunda meminta maaf sebagai anak sulung ia tidak bisa memberi contoh baik pada adik-adiknya.
"Maafkan Raya bund, Raya bersalah pada bunda dan adik-adik". Bunda terisak menangis dan memegangi bahu Raya.
__ADS_1
"Maafkan kami bunda kata ketiga adik Raya".
Bunda mengangguk dan memeluk anaknya.
"Kesalahan kalian adalah kesalahan bunda juga. bunda yang mendidik dan membesarkan kalian".
Mahendra datang, ia terpaku memandang saudara-saudaranya terlihat meminta maaf pada bunda.
"Mahendra saudaraku terimakasih banyak atas kebaikan mu pada bunda". Kata Raya.
"Kak bunda juga orangtua ku jadi aku berkewajiban untuk menjaga bunda".
Raya menepuk bahu Mahendra. dan ketiga adiknya ikut berterimakasih dan meminta maaf pada Mahendra.
Selesai shalat maghrib bunda menyiapkan hidangan di meja makan. teko lawas yang diisi teh hangat dan gorengan singkong keju.
Bunda terlihat bahagia anak-anaknya bercengkrama dengan akur. ia terkenang masa dahulu ketika menjadi ibu rumah tangga dan anak-anak masih kecil. bunda harus pontang panting membagi waktunya. dan sekarang semua terbayarkan melihat anak-anak sukses dengan kehidupan mereka.
"Ayo kita foto dulu". Kata Nicolas sambil menyiapkan kameranya.
Bunda duduk di kursi tersenyum cerah di kelilingi anak-anak laki-lakinya berlima.
__ADS_1