Ibu Rumah Tangga

Ibu Rumah Tangga
Omelan Ibu


__ADS_3

Setelah dari acara di rumah Bastian, keluarga ku berkunjung ke rumah ku. termasuk mbak Rani dan suami serta anaknya. Bastian seorang diri karena Siska sedang merawat bayi mereka yang baru lahir.


Sesampainya di rumah, ibu langsung menjelajahi setiap ruangan. Sembari mengomel ibu mengkritik Ningsih istriku yang tidak bisa merawat rumah. Disana sini kotor dan jorok. Padahal ku lihat rumah dalam keadaan tertata, ya maklum kami memiliki anak kecil jadi rumah sedikit berantakan mungkin tergolong wajar.


Tapi hari itu aku melihat rumah rapi dan bersih karena Ningsih baru membereskannya kemarin. Ibu tetap mengomel mencari-cari kelemahan istriku. Sepertinya ibu kelelahan karena memasak banyak di rumah Bastian dan ia melampiaskan lelahnya pada istriku.


"Kamu ngapain aja sih di rumah? lihat atap plafon kotor banyak sarang laba-laba, kamar mandi juga kotor, Dapur apa lagi!"


Ningsih hanya terdiam tanpa menjawab. Ia sibuk menggantikan baju Emma yang terkena keringat. Memang sehabis bepergian Ningsih selalu mengganti baju anak-anak kami dengan baju bersih. Agar kuman dari luar tidak menempel lama-lama pada anak-anak.


"Kipas angin juga kotornya minta ampun!" Ibu kembali mengomel setelah melihat kipas angin yang belum sempat ku bersihkan. Tugas ku adalah membersihkan kipas angin setiap dua Minggu sekali. Akhir-akhir ini aku malas jadi aku biarkan saja toh jarang di pakai karena sudah ada AC.


Ibu masih mengomel panjang lebar bahkan di kamar mandi ibu sempat membanting gayung karena kesal. Sekali lagi ku lihat istriku sama sekali tak terprovokasi. Ia tetap diam dan sekarang ia sedang menyuapi Emma.


"Iya Bu jorok ya coba di rumah kita, nyaman karena ibu selalu bersih-bersih" Julia memanasi ibu. padahal aku tahu sendiri kondisi rumah ibu ku tak lebih bersih dari rumah ku sekarang.

__ADS_1


Julia terlalu di manjakan sehingga tidak bisa masak ataupun bersih-bersih rumah. Kerjaannya hanya main dan kuliah saja.


"Arghhhh ibu nggak betah, ayo Julia kita pulang!"


Ningsih baru menghampiri ibu ketika ibu beranjak ingin pulang. Sementara Bapak hanya diam melihat ibu berperilaku seperti itu.


Ningsih mencium tangan bapak dan ibu meski saat berpamitan ibu sangat ketus padanya.


"Maafkan ibu, namanya juga orang tua" kata ku saat Ningsih duduk memangku Emma sembari menonton televisi.


"Sudah biasa"


"Iya, memang sukanya ngomel. Jika aku mantu kurang ajar sudah sedari tadi aku membalikan kata-kata ibu. lihat saja rumah ibu mu seperti apa? kotor dan berantakan"


"Ningsih!!" aku hampir saja kilaf saat ia membicarakan ibuku seperti itu. Ningsih kembali terdiam. Ia tidak bicara lagi, seolah sibuk menonton sinetron di tv.

__ADS_1


Paginya di telepon ibu masih mengomel soal kebersihan rumah kami.


"Sudahlah bu, Ningsih juga sudah merawat rumah dengan baik. Ibu jangan ngomel terus"


"Kamu malah membela istrimu?! berani ya sama ibu?"


Klik


Ibu memutus sambungan telepone. Aku melirik Ningsih ia tak bergeming.


"Ningsih kamu sebenarnya kenapa sih? kenapa kamu selalu bersikap kaku dengan keluarga ku?"


"Aku biasa saja, mereka yang memperlakukan aku seperti apa! mas nggak lihat? atau pura-pura nggak lihat dan nggak dengar?!"


"Ningsih!!" hampir saja telapak tanganku menyambar wajah mulus Ningsih.

__ADS_1


Wajah yang akhir-akhir ini nampak semakin cantik meski tanpa polesan makeup berlebihan.


Dan sampai sekarang aku tidak tahu dari mana Ningsih bisa membeli skin care itu.


__ADS_2