
Ponselku berbunyi, seperti biasa ibu meneleponku untuk meminta uang. Alasannya Julia mau bayar semesteran. Padahal bulan ini aku berikan satu juta lebih pada ibu.
"Untuk apa lagi Bu uang sebanyak itu?"
"Julia mau bayar semesteran Dan, kamu apa nggak kasian kalau adik mu itu nggak bisa ikut ujian?"
"Yasudah nanti Danu siapkan"
Aku paling lemah kalau ibu yang meminta uang. Ibu dengan susah payah membiayai sekolah ku hingga aku sarjana dan bisa bekerja seperti sekarang. jadi sudah pantas aku berbakti dengan membalas jasa ibu meski tidak bisa semua ku balas.
Jadilah siang itu aku mentransfer uang ke rekening ibu sejumlah dua juta untuk membayar semesteran Julia.
Sesampainya di rumah, seperti biasa pemandangan yang selalu membuat ku muak. Emma yang mengompol, ruang tamu berantakan. Baju kotor menumpuk di sudut ruangan. Lantai yang hampir tidak pernah bersih. Goreng udang belum di ganti.
Ngapain aja kamu Ningsih!
Aku menjerit dalam hati melihat rumah seperti kapal pecah. Sebenarnya apa saja kerja Ningsih kenapa ia tidak membereskan semua ini.
"Mas sudah pulang?" ucapnya seperti biasa menyambut ku dari dapur. Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan sodet di sebelah tangannya.
"Mas tolong pegang Emma sebentar ya aku mau masak makan malam" ia lalu kembali sibuk dengan penggorengannya. Entah apa yang ia goreng paling juga tempe dan tahu lagi.
Kepalaku pening rasanya ingin pergi dari rumah yang berantakan ini.
"Ningsih ambilkan air minum!" pinta ku dari ruang tengah.
__ADS_1
"Iya mas" Ningsih langsung membawakan ku segelas air putih tidak terlalu dingin seperti yang ku minta selama ini.
"Aku mau langsung istirahat, bawa Emma ke dapur"
Tanpa menyahut ku Ningsing bergegas meraih Emma ke dalam gendongannya lalu ia pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya sembari mengasuh Emma.
Aku sedikit bingung kenapa tiba-tiba Ningsih jadi lebih kalem. Biasanya ia akaan menyemburkan kata-kata padaku secara membabi buta.
Aku berjalan menuju kamar untuk istirahat seperti bisanya. Kulirik di meja rias ada satu paket lengkap skin care. Pasti itu punya Ningsih. Darimana dia dapat uang sebanyak itu untuk membeli skin care. Padahal aku tidak menambah jumlah uang bulanan padanya.
Nanti ku putuskan untuk bertanya padanya. Sekarang aku tidur dulu karena lelah setelah seharian bekerja. di kantor juga sedang banyak masalah. Aku pusing, Ningsih enak tinggal di rumah tidak melakukan apapun dan hanya menghabiskan uang saja.
Aku terbangun dari tidurku, kulihat jam sudah menjelang isya. Aku bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu.
Kenapa Ningsih tidak membangunkan ku?! gerutu ku dalam hati. Selesai shalat aku menghampiri istriku yang sedang duduk di sofa menonton televisi bersama kedua anak kami.
"Bukan kah itu maunya mas?" jawabnya sedikit tapi membuat merah telingaku. Aku tidak lagi bicara dan duduk di meja makan.
"Ningsih aku lapar"
Ningsih menidurkan Emma di kamar lalu berjalan ke meja makan. Ia membuka tudung saji. Aku terkejut Karena Ningsih memasak cumi saus hitam dan kripik udang kesukaan ku.
"Sini nasinya" aku meraih piring berisi nasi yang ia suguhkan di hadapan ku.
Aku sebenarnya semakin bingung dari mana Ningsih dapat tambahan uang belanja. Ia tidak meminta pada ku.
__ADS_1
Selesai makan aku bertanya padanya. Ningsih sedang melipat baju untuk di tata di lemari.
"Darimana kamu dapat uang untuk membeli skin care? dan tadi kamu juga masak enak?"
"Kalau nggak masak enak nanti mas makan di tempat ibu, nanti saya di marahi ibu lagi"
Jawaban yang tidak ku harapkan. Bukannya menjawab pertanyaan ku ia malah menyindir ku.
"Skin care itu?" tanya ku lagi lebih jelas dan tegas.
"Uang ku sendiri, mas nggak perlu khawatir aku nggak pakai uang hasil keringat mu untuk membeli barang mewah seperti itu"
Sial! sebenarnya ada apa dengan Ningsih. Kenapa ia terlihat dingin dan berani pada ku!
"Kamu kenapa? biasanya kamu nggak kayak gini?!"
"Trus saya mesti kayak gimana? diam salah bicara salah"
Ningsih melengos dan merapikan pakaian ke dalam lemari. Ia lalu menarik selimut dan tertidur.
Pov Ningsih
Aku melihat bukti transferan uang dua juta ke rekening ibu mertuaku. Rasanya sakit dan sedih melihat Danu selalu memanjakan ibu dan adiknya.
Aku sudah muak dengan tingkahnya selama ini. Sudah pelit banyak bicara suka marah-marah dan menjelekkan ku di depan ibunya.
__ADS_1
Ia memberiku seratus ribu per Minggu dan merasa semua itu cukup.
Aku lelah.........