
Damar dan Nisa memutuskan menikah di usia 26 tahun. setelah Damar diangkat menjadi karyawan tetap di kantornya.
Awal pernikahan Damar dan Nisa menjalani LDR berpisah kota satu tahun lamanya. Nisa bekerja di sebuah perusahaan konstruksi di kota Semarang. sedang Damar ada di Jakarta.
Tepat satu tahun pernikahan keduanya memutuskan untuk tinggal bersama dan mengakhiri LDR mereka. alasannya keduanya sepakat ingin memiliki momongan dalam waktu dekat. Nisa meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan perusahaan konstruksi dan pindah ke Jakarta menyusul Damar. di sana Nisa menjadi ibu rumah tangga. Damar dan Nisa tinggal di sebuah rumah kontrakan yang cukup luas.
Hari-hari di jalani Nisa dengan kegiatan layaknya ibu-ibu rumah tangga kebanyakan memasak, bersih-bersih rumah, berbelanja ke pasar, dan melayani keperluan suami ketika akan berangkat bekerja.
"Mas mau bawa bekal apa?". Tanya nisa pagi itu.
"Apa aja, ayam kecap juga enak".
"Besok Nisa siapin ya". Kata Nisa senang. suaminya tidak ribet untuk urusan makanan. Damar terbiasa membawa bekal ke kantor. mereka sedang berhemat untuk membeli rumah sendiri.
Biaya mengontrak rumah tidaklah murah. cukup mahal dan seharga dengan cicilan KPR perbulannya.
Sore itu Damar pulang belerja lebih awal. ia ingin mengajak Nisa pergi jalan-jalan ke mall untuk berbelanja bulanan sekalian.
"Nisa...Nisa?".
__ADS_1
"Ya mas". Sahut Nisa dari dalam kamar mandi.
Terdengan Nisa muntah dari dalam kamar mandi. Damar bergegas membuka pintu kamar mandi, tapi Nisa mengunci dari dalam.
"Nisa kamu nggak apa-apa?". Tanya Damar cemas.
"Nggak apa-apa mas. cuma masuk angin kayaknya".
"Masuk angin?". Damar tersenyum ia berharap istrinya hamil.
"Nisa buka pintunya".
"Kamu hamil ya sayang?". Tanya Damar antusias.
"Hamil?". Nisa mulai mengingat kapan terakhir kali ia menstruasi. dan sepertinya sudah satu bulan ia telat belum mendapat mens lagi.
"Kita ke dokter yuk". Ajak Damar.
"Nggak usah dulu mas, biar aku check pakai tespek dulu ya".
__ADS_1
Damar segera ke apotik dan emmbeli tespek untuk Nisa. setelah Nisa memakainya ternyata memang hasilnya positif. Nisa hamil anak pertama mereka.
Damar senang sekali ia semakin sayang dan menjaga Nisa dengan baik. Damar melarang Nisa melakukan banyak aktivitas rumah yang melelahkan. ia membantu Nisa mengurus rumah sepulang bekerja.
Kandungan Nisa mulai berjalan. banyak hal yang harus di pikirkan. Nisa mwnghitung uang tabungan keduanya. baru mencapai sedikit. belum cukup untuk Dp rumah dan Nisa juga harus berjaga-jaga untuk biaya lahiran. siapa tahu ia lahiran caesar nantinya. dan itu akan butuh biaya besar.
"Sudahlah sayang jangan cemas kasian anak kita. kita dahulukan uang tabungan untuk berjaga-jaga biaya lahiran". Kata Damar.
Nisa mengangguk ia setuju dengan saran Damar.
Kandungan Nisa mulai berjalan empat bulan. Damar dan Nisa menggelar syukuran di rumah kontrakan mereka. keduanya mengundang anak pantinasuhan untuk datang ke rumah kontrakan.
Damar dan Nisa mendapat kabar jika ayah Damar sakit dan harus berobat. biaya beribat yang tidak sedikit membuat Damar kebingungan. akhirnya Nisa mengikhlaskan tabungan mereka untuk berobat ayah Damar.
Sekarang Nisa dan Damar tak lagi memegang uang. mereka harus berhemat untuk menekan biaya kebutuhan rumah tangga.
Ada keinginan Nisa untuk kembali bekerja tapi ia sedang hamil. dan tidak ada oerusahaan yang menerima orang sedang hamil.
Nisa sedih dan bingung. ia ingin membantu Damar agar bisa menambah penghasilan.
__ADS_1
Nisa kasihan melihat Damar pontang panting mecari tambahan untuk biaya melahirkan nanti.