
Ambarwati namanya, semua mata yang melihatnya pasti akan sedih, badannya tinggal tulang, sorot matanya sayu dan pakaiannya pun sangat lusuh.
"Baiklah, anak ini bisa tinggal dengan kami" jelas Pak Joni disambut anggukan istrinya
"Saya tidak mau pak, makasih saya disini saja" jawab Ambar sambil menahan tangis
"Bik Inah mau ada kerjaan nak, nanti kamu sendirian" jelas Ibu Joni
" Saya kalo boleh sama tante ini saja" terang anak itu sambil menunjuk ke arah Sisi
Sisi terdiam, dia sesungguhnya terpaku melihat keadaan anak itu yang begitu menyedihkan, sambil berfikir, orang tua macam apa yang anak ini miliki, sangat kejam dan tak berperasaan, batinnya begitu.
Sisi paling membenci orang orang yang menelantarkan anak anak.
"Kasihan kalo tante itu nak, anaknya sudah banyak, dengan oma aja ya" bujuk Bu Joni lagi
Sisi pun tersentak, dan menjawab
"Sudah bu gak apa apa, anak ini memang kerap ikut saya tiap pagi dia mau sekolah, tapi saya tidak tahu rumahnya dimana, dan dia tidak pernah menjawab pertanyaan kami" jelas Sisi disertai dengan jawaban oooh yang panjang oleh para tetangga lainnya
__ADS_1
"Ya sudah kalo begitu, kan tetap disini disini juga, kita bantu aja Sisi, sementara Si MakNyak anak ini gak ada kita bantu perbulan berapa begitu untuk meringankan Sisi, setuju gak?" tanya Pak Joni dengan bijak kembali
" Setuju..." kompak dijawab para tetangga yang lainnya
Lalu para warga patungan, setengah dikasih untuk Bik Inah supaya bisa balik ke kampung, setengahnya mereka akan kasih ke Sisi, namun Sisi menolak.
"Bu ibu, pak Bapak, bukan saya menolak, tapi saya ikhlas merawat anak ini, mungkin ini adalah rejeki saya, Ibu Joni tolong simpan saja ya bu, kalo anak ini membutuhhkan, baru kita keluarkan dananya, bagaimana?" jelas Sisi,
lalu tidak berapa lama.....Brukkk... sang anak jatuh pingsan.
Para tetangga bergegas membawa anak tersebut kerumah sakit, selang satu jam, dokter pun keluar dari ruang perawatan.
"kami semua orangtuanya" jawab Pak Joni mewakili para warga
Dokter pun bingung, namun akhirnya menjelaskan tentang kondisi pasiennya
"Anak ini sangat lemah, mungkin makannya tidak beraturan dan jarang, kondisi malnutrisi seperti ini bisa menyebabkan keadaan yang sangat parah, bisa dikategorikan Busung Lapar "
Semua warga terdiam termasuk Sisi, akhirnya Bu Edo yang merupakan seorang jaksa bersuara
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kami lakukan dokter, rawat anak tersebut dengan baik dokter, saya akan menanggung biayanya" jelas Bu Edo dengan mata yang sangat geram
dan dokter tersebut pun mengangguk dan permisi pergi
"Aku penasaran dengan ibunya,ayahnya, apakah anak itu tidak punya siapapun, rumahnya masuk kawasan elit tapi anak itu yg punya rumah kena busung lapar, ahhh pengen aku tonjok orangtuanya" geram Bu Inka, seorang guru di International Schooll ternama di Ibukota
Dan disambut dengan makian makian para tetangga lainnya, Sisi pun terenyuh melihat para tetangganya tersebut, Sisi bangga situasi perkotaan tidak menghilangkan rasa persatuan dan kemanusiaan di perumahan mereka.
"Sudah, sudah, dengan memaki orangtuanya, tidak akan langsung menyehatkan anak tersebut, kita sembuhkan dulu sang anak, mana bik Inah tadi (mata mencari Bik Inah), begini saja Bik Inah kenapa mau pulang kampung?"
"Saya ingin mencari pekerjaan, pak " terang Bik Inah sambil menangis
"Begini saja, ambar kan mau tinggal dirumah Sisi, kamu pun begitu, Bik Inah bekerja saja mengurus ambar, nanti gajinya kami kami ini yang bayar, bagaimana?"
" Yah yah betul, kesian juga Sisi kalo semuanya sendiri" teriak warga lain...
"Baiklah pak kalo begitu, saya mengurus Ambar kembali, saya merepotkan tidak Bu Sisi?" tanya Bik Inah
" Tidak Bik, saya masih ada ruang untuk bibik, kebetulan di kamar Bik Yanti, kasurnya pun dua kok, tapi ya seadanya ya bik, biar Ambar nanti ada kamar sendiri diatas" jelas Sisi
__ADS_1
Lalu mereka pun pulang satu satu meninggalkan Bik Inah dengan ambar dirumah sakit.