Ibu Rumah Tangga

Ibu Rumah Tangga
Acara Keluarga


__ADS_3

Aku empat bersaudara, memiliki seorang kakak perempuan bernama mbak Rani, lalu kakak lelaki bernama Bastian dan adik perempuan bernama Julia.


Keluarga kami sering mengadakan acara dan berkumpul melepas rindu. Tidak seperti keluarga Ningsih yang anyep saja tanpa ada acara atau kumpul. Mertuaku pun hampir tidak pernah berkunjung ke rumah kami.


Berbeda dengan keluargaku yang selalu ramai dan perhatian. Besok di rumah Bastian akan ada acara syukuran kelahiran anak ke dua mereka. bapak, ibu, mbak Rani sekeluarga dan aku akan datang. Aku sudah mengatakan pada Ningsih untuk ikut ke rumah Bastian.


Seperti biasa ia menurut dan setuju ikut datang berkumpul di rumah kakak lelaki ku itu.


Hari itu aku sengaja masuk kerja hanya setengah hari supaya bisa lebih cepat ke rumah Bastian dan bertemu keluarga ku. Aku sudah menyiapkan mobil, kami memiliki mobil atas jerih payah ku sendiri. Tidak ada bantuan dari keluarga Ningsih.


Mereka mana peduli dengan anak mereka. Ningsih hampir tidak di perhatikan secara materi oleh keluarganya. berbeda dengan istri Bastian yaitu mbak Siska, ia anak orang kaya dan terpelajar. Hidupnya mapan, sebelum menikah saja sudah punya rumah dan mobil. Ia juga memiliki pekerjaan sebagai bidan.


Memang beruntung sekali kakak ku itu, ia menikah dengan gadis yang tepat. Keluarganya juga jelas dan kami dekat seperti saudara dengan keluarga Siska. Malah dengan keluarga Ningsih aku tidak dekat sama sekali.


"Mas aku sakit nggak enak badan" kata Ningsih begitu aku selesai menyiapkan mobil.


"Sakit? cepet minum obat terus kita berangkat ke rumah Bastian" kata ku setengah emosi. Acara ini sudah di rencanakan keluarga ku jauh-jauh hari dan enak saja Ningsih mau mengacaukannya dengan rasa nggak enak badan nya itu.

__ADS_1


"Mas tapi aku sakit, bisa tidak kita kesana nya nanti saja. Aku mau istirahat dulu"


Aku memang mendengar Ningsih muntah di kamar mandi. Ia sepertinya masuk angin karena kelelahan bersih-bersih rumah kemarin.


Jujur aku kesal dan dongkol bukan main. Sebal sekali dengan Ningsih. bisa-bisanya dia mau membatalkan pertemuan ku dengan keluarga ku.


"Kamu gimana sih malah sakit? aku nggak mau tahu pokoknya kamu siap-siap!"


Aku tidak mau mengalah, karena aku ingin bertemu dengan keluarga ku dan membawa dia anak ku. Ningsih memintaku berangkat sendiri ke rumah Bastian. Jelas aku tidak mau. Aku ingin ke dua anak kami dekat dengan keluarga ku.


Meski si bungsu selalu saja tantrum kalau di ajak kumpul keluarga. anak ke dua ku itu seperti anti bertemu keluarga besar ku. Kalau diajak ke taman bermain, atau ke pusat perbelanjaan yang notabene ramai, ia senang-senang saja. Malah bermain dan tidak mau di ajak pulang. tapi jika di ajak kumpul keluarga dia pasti tantrum seharian, tidak mau makan, tidur dan tidak diam. Menangis terus.


"Mertua Bastian hebat banget ia seorang insinyur pembangunan, ia ikut terlibat lho di proyek jalan tol" kataku dengan bangga menceritakan mertua Bastian. tak ku lihat Ningsih menengok atau menyahut. Ia tetap diam seribu bahasa sampai kami tiba di rumah Bastian.


"Hebat sekali, rumah Bastian besar dan luas. bagus pula!" kataku dengan senyum bangga.


"Rumah Bastian? rumah istri Bastian kali!" Ningsih menjawab dengan gesit. membuat telingaku merah.

__ADS_1


Kami memasuki rumah di sambut oleh bapak dan ibu. Bapak langsung bermain dengan cucu-cucunya sementara ibu sibuk menyiapkan masakan di dapur bersama Siska.


"Mbak Rani mana Bu?" tanya ku karena tidak kulihat kakak perempuan ku di rumah itu.


"Baru keluar sebentar ada perlu katanya, mau ke rumah teman mas mu" yang di sebut ibu sebagai mas mu itu adalah ipar ku mas Bowo.


Ku lihat Rani ikut ke dapur membatu ibu dan Siska. Sementara aku menggendong Emma yang mulai merengek. Entah kenapa anak bungsuku selalu terlihat tidak senang jika bertemu keluarga ku. aku jadi kesal! apa yang sebenarnya diajarkan Ningsih pada anak ku ini.


Ningsih berlari dari dapur dan mengambil alih Emma. Ia tidak bicara sepatah kata pun. Emma terdiam di gendongan Ningsih.


"Anak kok rewel sekali, nggak kayak Dava udh nurut, pinter, ganteng, Sholeh pula" Dava adalah anak pertama Bastian dan Sika. mereka memang di karuniai anak cukup lama setelah pernikahan jadi anak pertama mereka baru usia dua tahun.


Ibu dan bapak memang dekat dengan cucu mereka dari saudara lelaki ku itu. Ibu bahkan cenderung membandingkan Dava dengan Emma. Tidak ada sesuatu pujian yang keluar dari mulut ibu untuk Emma. Pasti selalu kritik.


"Dava badannya keras dan makannya lahap, Emma badannya empuk dan makannya susah" begitu kata ibu.


Aku tidak bisa membela, meski kenyataannya ku lihat Dava sering sakit-sakitan dan terlihat selaku lesu. anak itu wajahnya selalu murung. Sedangkan Emma ia ceria dan sehat, badannya juga gemuk.

__ADS_1


Ningsih terlihat diam di ruang tengah sembari menyuapi Emma makan. Ia lagi-lagi tidak bicara atau menjawab perkataan ibu barusan. Mungkin ia bosan mendengar Emma di bandingkan terus dengan Dava.


__ADS_2