Ibu Rumah Tangga

Ibu Rumah Tangga
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Akhirnya aku ajak pulang Ningsih dan anak-anak setelah menginjak hampir satu Minggu di rumah ibu. Dan selama.itu pula istriku di perlakukan kurang mengenakkan.


Pagi itu aku bersiap untuk berangkat bekerja.


"Sih mas berangkat dulu ke kantor" kataku setelah selesai memakai sepatu.


Ningsih dengan diamnya mencium punggung tanganku. Aku tidak memberinya uang belanja di hari itu.


Aku belum ambil uang di ATM jadi ku biarkan saja dulu Ningsih tidak pegang uang. Kulihat Ningsih juga tidak minta sepeser pun.


Tapi ada yang begitu aneh dengan Ningsih, ia terlihat semakin cantik dan kulitnya bersih sekali. Anak-anak kami juga kelihatan terawat bahkan Emma si bungsu bajunya hampir selalu baru.


Ah masa bodoh, aku segera berlalu dengan mobilku. Begitu tiba di kantor kulihat. jika sedang meemoles riasan di wajahnya. Aku sempat melihat wajahnya yang belum terias dan masih polos tadi. Ternyata istriku jauh lebih cantik dari Chika.


"Pagi mas...." sapa Chika genit..


"Pagi" kataku malas..


"Mas nggak bawa bekal makan siang lagi?"

__ADS_1


"Bawa tapi akan ku makan sendiri ini buatan istriku"


"Oh....."Chika langsung merasa tidak enak dan menyingkir dari meja kerja ku.


Selama ini aku salah kaprah menilai Chika lebih baik dari Ningsih. Kurasa itu tidak benar. Ningsih tetap yang terbaik meski dia rewel dan suka berani padaku. Akhir-akhir ini Ningsih hanya diam dan aku rindu cerewetnya istri ku.


***


"Untuk apa lagi Julia?" adikku Julia menelpon ku seperti biasa yang dia pikirkan hanya uang dan uang sama seperti ibu.


"Untuk uang saku mas"


"Iya tapi di pakai sama ibu karena ada keperluan mendadak"


"Arghhh! yasudah nanti mas transfer!"


Aku bosan dan jengah pada Julia yang selalu meminta uang. Padahal Ningsih istriku saja tidak pernah meminta uang.


Kembali lagi aku mulai ngeri membayangkan dari mana Ningsih dapat uang untuk beli skincare dan baju baru. Baju dan mainan anak-anak juga.

__ADS_1


Apa jangan-jangan Ningsih selingkuh? batinku mulai kacau karena berpikir yang bukan-bukan. Benar kata orang-orang jika istriku cantik pasti banyak yang mau dengan dia. Apa lagi sekarang Ningsih semakin putih dan glowing.


Akhirnya sepulang beekkerja aku mentransfer uang pada Julia. Dan aku lupa membuang struknya.


"Mas ngasih uang lagi buat Julia?!" nada suara Ningsih tidak enak. Ia sedang memegang struk bukti transfer dari ATM.


"Untuk uang saku Julia,.kasian dia tidak punya uang jajan"


"Mas kasihan pada Julia tidak punya uang jajan tapi mas tidak kasihan pada Dito dan Emma?!" kulihat mata Ningsih mulai berkaca-kaca.


"Tidak peduli bagaimana?.bukankah mas juga selalu memikirkan kalian?!"


"Memikirkan saja tidak cukup mas, semua kebutuhan kita di beli dengan uang bukan dengan memikirkan semua akan selesai"


Wajahku terlihat memerah ketika Ningsih membalikkan kata-kata ku tadi.


"Mas selalu memberikan jatah bulanan lebih besar pada ibu dan Julia. Kalau begitu aku akan bekerja jadi mas urusi anak-anak"


"Ningsih jangan gila kamu! memang mau bekerja dimana? kamu sudah lama tidak bekerja dan menganggur di rumah enak-enakan. Pasti kamu sudah lupa dengan semua pengalaman kerja yang kamu miliki"

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti" Ningsih berlalu ke dapur. aku masuk kedalam kamar dan kali ini aku terkejut sekali melihat tas baru di atas meja rias. Disamping tas baru itu ada tumpukan baju baru milik Ningsih dan anaak-anak.


__ADS_2