
Nisa merawat anaknya berdua dengan Damar di rumah kontrakannya di Jakarta. orangtua Damar sudah kembali ke rumahnya. begitu pun orang tua Nisa.
Damar membayar pinjaman lahiran kemarin dengan menjual perhiasan Nisa termasuk cincin perkawinan mereka.
Nisa menjalani harinya sebagai seorang ibu. ia mengasuh anaknya dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Damar dan Nisa mulai mencoba berhemat. keinginan Damar untuk membeli rumah secepatnya memaksa keduanya untuk menabungkan separuh dari gaji Damar.
"Makanya anak itu di beri asi jangan susu formula". Kata ibu mertua Nisa di telepon.
Nisa menutup telepon. badannya demam tinggi. Damar mengompres Nisa dengan handuk basah.
Nisa duduk di depan cermin melepas handuk di keningnya. ia tersenyum menatap Damar yang tertidur di sampingnya.
Aku baru tahu jika mejalani pernikahan pun selelah ini.
Nisa bisa saja meminta bantuan orangtua nya untuk membeli rumah. tapi ia mengurungkan niatnya karena melindungi harga diri Damar.
Sampai suatu hari Damar berhasil mendapat harga rumah yang cocok.
__ADS_1
"Kita akan mulai pindahan minggu ini juga Nis". Kata Damar.
"Damar menyelesaikan semua administrasi rumah baru mereka.
Disini kembali di uji dengan Nisa yang menyadari dirinya tak bisa membantu Damar. dan keluarga suaminya yang selalu ikut campur. bahkan urusan rumah mereka.
"Kasihan Damar". Kata ibu Damar yang datang berkunjung.
"Kamu kan bisa bekerja membantu Damar, cicilan rumah besar sekali. kamu enak-enakan di rumah". Kata ibu Damar.
Nisa mulai tidak peduli dengan ucapan ibu mertuanya. ia sibuk berada di dapur mencuci piring.
Nisa tidak mungkin kembali bekerja, anaknya masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian lebih darinya.
Semakin hari Nisa melihat Damar selalu kalut dengan pikirannya. ia lebih banyak diam tidak seperti dulu.
Permasalahan sepele atau sekedar salah bicara antara Nisa dan Damar menjadi konflik hebat di keluarga mereka.
"Mas bisakah kau bicara pada ibu untuk tidak mencamouri urusan kita?!".
__ADS_1
"Apa maksud mu Nis?!, kenapa bawa-bawa ibu ku?".
"Kalau begitu biar aku sendiri yang bicara pada ibu agar mengurangi campur tangannya di rumah tangga kita".
"Kamu jangan kurang ajar Nis, ibu cuma mengarahkan yang baik buat kita".
"Mengarahkan, mengkritik, membebani pikiran itu cuma beda tipis mas".
"Terus kamu mau apa sekarang?".
"Bisa kah kamu bersabar sebentar sampai tabungan kita cukup untuk dp rumah?, aku lelah melihat mu selalu kalut dengan pikiran mu sendiri!, aku juga terbebani melihat mu muram setiap kali pulang kerja dan aku salah bicara sedit saja amarah mu sudah memuncak!" .
"Nis sebagai suami dan kepala rumah tangga aku memikul tanggungjawab besar. sampai sekarang kita belum punya rumah sendiri. aku sedih dan malu Nis".
"Tapi aku juga mau ketentraman mas. aku tak sanggup jika harus melihat mu muram dan marah hanya karena hal sepele. belum lagi di tambah ibu yang selalu menyalahkan ku".
Nisa terisak dan pergi ke kamar. ia melepas semua emosinya dengan menangis. Nisa bingung bagaimana ia bisa membantu Damar sedang dirinya tidak berpenghasilan.
Damar sudah mulai melakukan penghematan dengan meminta Nisa mencatat semua keperluan. Nisa tertekan dan stress menghadapi permasalahan tentang rumah. Nisa berbaring di sebelah anaknya yang tertidur pulas.
__ADS_1