
Sore itu Damar bertemu teman lamanya Surya. keduanya sedang mengobrol di sebuah cafe. Surya sudah menikah dan memiliki satu anak sama seperti Damar.
Surya datang dengan emngendarai mobil mewah miliknya. ia bercerita kalau usahanya sekarang sudah membuahkan hasil. sudah sukses.
"Aku sudah berhasil membeli rumah dan mobil mewah yang ku impikan". Kata Surya.
Damar terlihat berkecil hati melihat kesuksesan Surya.
"Ayolah gabung saja dengan bisnis ku, kau keluar saja dari perusahaan temoat mu bekerja"
Damar terlihat merenung. ia mempertimbangkan tawaran Surya. Damar berpikir ia bekerja selama ini tidak memiliki tabungan, belum bisa membeli rumah dan mobil. Damat merasa uang yang ia cari selama ini entah habis kemana saja.
"Oke Sur nanti aku akan bicara dengan Nisa menanyakan pemdapatnya dulu".
"Jangan lama-lama daripada nanti aku mencari orang lain".
__ADS_1
Damar mengangguk. Surya banyak bercerita tentang teman-teman lama mereka yang sekarang sudah sukses dan emmiliki usaha sendiri.
Damar semakin ciut. ia merasa kesal dengan dirinya sendiri karena tertinggal jauh dari teman-temannya.
Damar oulang ke rumah dan bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Surya kepada Nisa. tentang keberhasilan Surya yang sekarang memiliki rumah dan mobil. tentang usaha Surya yang sekarang sukses besar.
Nisa mendengarkan sembari menggendong anaknya. dengan wajah datar Nisa mencoba mencerna setiap perkataan dan cerita suaminya.
Nisa termasuk irang yang cuek dan tidak ambil ousing tentang kehidupan orang lain. karena baginya setiap orang memiliki jalan masing-masing dan keinginan sendiri.
"Aku nggak setuju kalau kamu keluar dari pekerjaan mu mas".
"Tapi usaha Surya terlihat lebih menjanjikan Nis".
"Aku nggak setuju mas keluar dari perusahaan sekarang, lagi pula mas kan baru juga bertemu Surya lagi setelah sekian lama tidak bertemu".
__ADS_1
Damar terdiam. ia sadar istrinya bukanlah orang yang mudah terpengaruh dan terhasut meski di iming-imingi kesuksesan di depan mata.
"Ya sudah nanti mas bicara lagi sama Surya".
Damar pergi mandi, Nisa geram dengan teman-teman suaminya. Damar termasuk irang yang mudah terpengaruh dengan temannya. entah kenapa Nisa juga heran. biasanya Damar adalah irang yang punya prinsip tapi ketika melihat temannya sukses dan mempengaruhinya seolah semua pendiriannya nya luntur entah kemana.
Nisa membuka hp Damar dan membaca percakapannya dengan Surya. Surya terlihat memanasi Damar dengan bercerita ia batu saja membeli sebidang tanah untuk didirikan cabang baru dari usahanya.
Entah kenapa perasaan Nisa pada teman suaminya itu tidaklah enak. ia merasa ada yang aneh saja ketika seseorang mengumbar kesuksesan pada orang lain. jika itu niatnya adalah untuk memotivasi seharusnya tidak perlu berlebihan.
Nisa meletakan hp Damar diatas meja. ia menyiapkan baju ganti Damar dan pergi kedapur untuk menyiapkan makan malam.
Nisa masih kepikiran tentang Damar yang punya niat untuk resign dari pekerjaannya dan ikut usaha temannya yang belum pasti itu.
Andaikan damar bisa sedikit cuek terhadap omongan orang lain. Nisa menggelengkan kepalanya. ia fokus memasak di dapur. Nisa menghidangkan tumis kacang panjang, tempe goreng dan semur ayam untuk makan malam. kebetulan kemarin ibunya berkunjung dan membawakan makanan kesukaan Nisa yaitu semur ayam.
__ADS_1