
"Mas berangkat dulu" kataku pada Ningsih yang seperti biasa sibuk di dapur sembari menggendong Emma.
Penampilannya tampak lusuh dengan baju daster yang bolong sana sini di tambah rambutnya yang di ikat tidak rapi. Wajahnya selalu saja tidak di rias. aku sebal melihatnya. Ningsih berbeda sekali dengan Chika teman sekantorku yang cantik, fresh dan menyenangkan sekali karena ramah dan selalu mengajakku makan siang bersama.
Terkadang kalau Ningsih membuatkan ku bekal, aku berikan bekal itu pada Chika. Aku tertarik dengan wanita cantik itu.
Siang itu di kantor aku sedang istirahat makan siang bersama Aji dan Bian. Aku sering mengeluh soal istriku ke mereka karena aku pusing kalau harus diam menahan kemarahan pada Ningsih yang menyebalkan itu.
"Istrimu itu kan wanita yang cantik kalau ia mau dandan sedikit saja pasti si Chika kalah" kata Bian.
"Dulu memang Ningsih cantik tapi sekarang boro-boro dandan bajunya aja bikin aku pusing melihatnya!"
Dulu Ningsih memang cantik, istriku itu juga wanita berpendidikan. Ia bahkan sempat bekerja di salah satu perusahaan ternama sebelum menikah dengan ku.
__ADS_1
Ningsih memutuskan resign dari pekerjaannya saat menikah dengan ku dan ikut pindah kota. Lalu kami memiliki anak yaitu Dito sejak itu Ningsih tidak lagi memiliki cukup waktu. Ia mengurus ku dan Dito, waktu itu aku memang melarangnya untuk kembali bekerja kantoran. Alasannya karena anak kami Dito masih kecil dan kami belum mampu membayar jasa pengasuh.
Akhirnya Ningsih menjadi ibu rumah tangga sampai sekarang. Dan semakin kesini ia semakin tidak memiliki waktu untuk dirinya. Ia tidak pernah berdandan seperti dulu. Bajunya juga asal-asalan saja. Aku jadi kesal kalau mengingat penampilan Ningsih sekarang.
"Kamu tidak memberinya uang lebih untuk belanja skin care mungkin?" tambah Aji, ia juga membela Ningsih.
"Untuk apa? ibu rumah tangga seperti Ningsih tidak butuh skin care"
"Katamu mau istrimu tampil cantik ya modali dia dong kalau nggak kamu terima dia apa adanya. Toh kalau aku lihat selama menikah dengan Ningsih kamu jadi terawat dan terlihat lebih baik dari segi penampilan"
Ningsih selalu menyiapkan seragam kerjaku setiap pagi. Ia sudah menyetrikanya dengan halus dan rapi. Ia juga membelikan ku facial wash katanya agar wajah ku tampak segar dan bersih. Entah dapat uang dari mana ia membeli barang itu untukku.
Ningsih juga memberi ku ikat pinggang kulit terbaik yang harganya cukup mahal. Aku pernah melihat barang itu di salah satu gerai di mall dan aku terbelalak melihat harganya.
__ADS_1
Selama ini aku malah mengabaikannya, memberi uang belanja pas-pasan, tidak peduli ia jerawatan atau tidak, tidak peduli bajunya bolong sana sini.
Ningsih...kadang kasian tapi seringnya juga menyebalkan.
"Hai mas Danu, kok nggak bawa bekal lagi?" Chika menghampiri meja kerja ku.
"Oh istriku nggak sempet masak Chik"
"Yah sayang sekali...."
"Gini aja besok aku traktir kamu makan siang ya?"
"Siap kalau gitu, kamu emang baik banget mas Danu" kata Chika tersenyum menggoda.
__ADS_1
Aku jadi klepek-klepek di buatnya. Aji dan Bian menatap ku dari jauh. Mereka memasang wajah "Awas gua aduin ke bini lu!"