
Nicolas telah lulus kuliah, ia baru saja di wisuda. pemotretan wisuda di adakan di Jogka di rumah bunda. semua kakaknya ikut hadir.
"Bunda senang kamu sudah wisuda Nic". Kata bunda sembari mengelus rambut Nicolas yang berbaring di pangkuan bunda.
"Bund, Nico mau bikin usaha baru. Nico mau jadi pengusaha seperti ayah".
"Bagus bunda dukung kamu".
"Bunda senangkan kalau Nico jadi seperti ayah".
"Tentu bunda senang".
"Bund Nico butuh modal besar untuk memulai usaha baru Nico".
"Memang berapa modalnya?".
"500 juta bund".
"Besar sekali usaha apa itu Nico?".
"Tambang bund, nanti Nico janji akan kembalikan modal itu bund. bunda mau kan ngasih modal itu ke Nico".
__ADS_1
"Nico bunda nggak menggang uang sebanyak itu nak, uang peninggalan ayah sekang tinggal berupa aset. karena tabungan uang sudah untuk biaya sekolah kalian".
"Kalau begitu jual saja salah satu aset peninggalan ayah bund".
Bunda terdiam, ia sedang berfikir bagaimana membujuk anak-anak yang lain untuk setuju dengan ide Nicolas.
"Kamu bicara dulu dengan kakak-kaka mu ya".
"Ah bunda kan tahu mereka. pasti nggak akan setuju bund!".
"Nico kalau kak Raya, Pramadya, Alex dan Mahendra nggak setuju pasti ada lasannya nak".
"Kamu tetap harus ijin dulu dengan kakak mu".
"Saya tidak setuju bund!". Kata Raya kesal.
"Saya juga tidak setuju bund!" . Timpal Pramadya.
"Saya apa lagi, itu modal yang sangat besar kalau gagal bagimana?". Tambah Alex.
Mahendra hanya terdiam menimbang setiap pembicaraan dengan saudara-saudaranya.
__ADS_1
"Bagaimana Mahendra?".
"Apa modalnya memang sebesar itu Nic?". Tanya Mahendra.
"Iya, kakak kan CEO pasti kaka tahu lah modal yang aku butuhkan sekitar berapa".
"Saya tergantung bunda dan yang lain". Mahendra menyadari ia tidak bisa terlalu ikut campur dengan harta peninggalan ayah karena ia tetaplah bukan anak kandung ayah dan bunda.
"Kalau kamu tetap ngotot kita bagi rata saja aset peninggalan ayah". Kata Raya.
Bunda kaget dengan keputusan Raya. tapi memang harta peninggalan suaminya adalah haknya dan anak-anaknya.
Hari berikutnya semua berkumpul untuk pembagian warisan. Mahendra datang paling terakhir karena tujuannya datang adalah untuk menemani bunda. bukan untuk tahu atau meminta harta itu.
"Kak Mahendra juga berharap harta ayah ya?". Tanya Alex sinis. Pramadya tersenyum tak kalah sinis ke arah Mahendra yang hanya terdiam di samping bunda. bunda menggenggam tangan Mahendra memintanya bersabar dengan perilaku saudaranya.
Semua sudah di rundingkan dan di bagi rata. termasuk rumah dan kos-kosan yang bunda kelola. semua akan di jual dan di bagi ber empat. Mahendra tidak mau menerima haknya meski namanya di cantumkan dalam daftar ahli waris.
Bunda tidak bisa tidur semalaman. memikirkan rumah kos yang sudah berpuluh tahun ia kelola. anak-anak kos bagi bunda bukanlah orang lain melainkan keluarga. dari mereka bunda menjumpai banyak hal dan belajar banyak.
Terkadang anak-anak itu uang saku nya mepet dan tidak bisa makan karena harus membayar foto copy atau untuk ngeprint tugas. bunda langsung sigap dengan masakannya untuk mengobati rasa lapar mereka. terkadang ada yang nunggak belum bisa membayar kos karena harus bayar semesteran dulu. bunda mamahami dan memberi toleransi.
__ADS_1
Air mata bunda menetes membayangkan semua kenangan bersama rumah dan kost miliknya.