
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya hingga sampailah di sebuah rumah tua yang sudah reot bahkan bisa dibilang rumah itu sudah tidak layak untuk di huni.
“Tok - tok - tok”
Ilona mengetuk pintu rumah itu dengan sangat hati - hati, karena kayu di pintu itu sudah rapuh dimakan usia.
“Tok - tok - tok”
Karena tak kunjung dibuka akhirnya Belmond mengetuk pintu nya agak keras hingga terdengar suara..
“Krek - kretekk - brukk”
Pintu rumah itu sudah terlepas dari engsel nya. Membuat Ilona melotot kan matanya kepada Belmond, “KAU...” geram Ilona, ia sudah susah - susah tidak mengetuk pintunya dengan keras tapi Belmond malah mengetuk nya dengan sangat keras hingga akhirnya pintu itu terlepas dari engselnya.
Sedangkan Belmond ia sudah tertawa cekikikan.
“Hahahahah..., pintunya lepas” ledek Belmond kepada pintu itu hingga tidak sadar tuan rumah yang mereka datangi sudah berdiri di belakang mereka.
“Apa yang lepas??” tanya seorang pria paruh baya, dari arah belakang mereka sontak mengagetkan keduanya.
“Pin-tu he... he.. he...” Belmond menyengir kuda seperti merasa tidak salah.
“Ya Tuhan.... pintu ku” ucap pria paruh baya itu kaget akan kondisi pintu rumahnya yang sudah lepas dari tempatnya.
“Nanti saya ganti Tuan” ucap Ilona memberi pengertian kepada pria paruh baya yang ada di depannya saat ini.
“Anda yang punya rumah ini?” tanya Ilona antusias tekadnya untuk mencari alamat orang yang dimaksud tidak sia - sia jika di depannya ini adalah orang yang di maksud.
“Iya, saya yang punya rumah ini, ada apa mencari saya?” tanya Pria Paruh baya itu sembari menelisik penampilan Ilona dan Belmond.
“Kami tamu tidak di persilakan masuk??” tanya Belmond yang kurang ajar itu.
“Oh, iya saya lupa. Silakan masuk” ucap pria paruh baya itu sembari menunjuk sebuah karpet yang sudah robek dimana - mana.
Ilona pun duduk di karpet itu di sampingnya tentu ada Belmond. Setelah menunggu 5 menit akhirnya pria paruh baya itu keluar dari dapur Dan membawa 3 gelas teh hangat.
Setelah semuanya duduk Ilona mulai membuka pembicaraan.
“Sebelumnya perkenalkan saya Ilona Delvisa Anumarta, panggil saja Ilona. Terus yang di samping saya dia Belmond Azbara Turgana, panggil saja Belmond. kedatangan kami kesini untuk bertanya kepada Anda soal pembunuhan 15 tahun lalu di laut lepas California ” ucap Ilona mengutarakan niatnya.
“Oke, perkenalkan juga saya kakek Marko. Kalau boleh tau kalian siapa ya, bertanya - tanya soal kejadian pembunuhan 15 tahun lalu?” tanya kakek Marko.
“Saya anak dari korban pembunuhan 15 tahun lalu” terang Ilona membuat Kakek Marko tersedak air liur nya sendiri.
“Uhuk - uhuk - uhuk”
__ADS_1
Mereka tidak tahu jika ada sepasang mata yang mengawasi gerak - gerik Ilona sedari tadi.
“Bukannya yang saya dengar waktu itu semua keluarganya di bantai semua?” tanya kakek Marko keheranan.
Lantas Ilona tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Saya sangat bersyukur bisa selamat waktu itu, dulu seingat saya orang tua saya menyerahkan saya ke orang tua angkat saya yang kebetulan waktu itu belum punya momongan dengan sarana sebuah surat ” jelas Ilona.
“Anda tahu kronologi tentang kejadian itu, saya tahu alamat anda dari seorang nelayan yang ada di sekitar laut. Beliau bilang jika anda mengetahui sesuatu tentang pembunuhan itu?” jelas Ilona.
“Saya hanya tahu beberapa saja. Tetapi apakah benar anda anak orang yang di bunuh? ” ragu Kakek Marko.
“Benar, saya anaknya ” jawab Ilona lantang.
“Oh ya? ada bukti?” tantang Kakek Marko.
“Ini” Ilona pun mengeluarkan selembar Kartu Keluarganya dulu sewaktu ia masih berumur 9 tahun.
Kakek Marko pun mengecek KK itu dan benar saja berkas itu asli.
Kakek Marko pun mulai berbicara tentang kejadian yang ia ketahui 15 tahun lalu.
“Dulu sewaktu saya masih menjadi nelayan saya melihat segerombolan orang memakai pakaian warna hitam ” Kakek Marko menghembuskan nafas nya sembari mengingat - ingat kejadian 15 tahun lalu.
“Nahkoda kapal yang memakai pakaian serba hitam pun memepet sebuah kapal mewah yang diketahui tengah berliburan kemudi-----”
Belum sempat Kakek Marko menyelesaikan ucapannya seseorang sudah menembak jantung kakek Marko dengan sebuah pistol.
“Bruk”
Kakek Marko jatuh tergeletak di lantai dengan darah mengalir dari dadanya.
Ilona mendadak mengeluarkan pistol nya dari dalam baju bersiap - siap untuk menembak orang yang telah menembak Kakek Marko.
Ilona memberi kode Belmond untuk segera membawa kakek Marko ke Rumah Sakit, sedangkan Ilona akan mencari orang yang sudah berani mengacaukan rencananya.
Hanya secuil informasi yang Ilona terima dari kakek Marko, Ilona berharap kakek Marko masih bisa di selamatkan.
Ilona dengan hati - hati menyisir setiap jengkal rumah Kakek Marko. Ilona tidak menemukan apa pun hingga tiba - tiba ketika Ilona sudah berada di belakang rumah Kakek Marko sebuah puluru melayang dan akan mengenai kepalanya jika Ilona tidak siap menghindari nya.
“Dor”
“Shit” umpat Ilona ketika ia berhasil menghindari serangan mendadak dari seseorang.
Tanpa basa - basi Ilona mengarahkan pistol nya ke kaki seseorang yang menyerangnya tadi menarik pelatuk dan....
__ADS_1
“Dor” peluru itu tidak mengenai sasaran lantaran ada lagi orang yang menembak pistol Ilona sehingga membuat Ilona sedikit oleng.
“Brengsekk” umpat Ilona kemudian ia berlari mengejar 2 orang berpakaian serba hitam.
Tak lupa pistol nya selalu ia tembak kan ke atas sebagai tanda ancaman untuk orang yang berani mengusiknya.
Cukup lama Ilona mengejar 2 orang itu hingga 2 orang itu berhenti di tengah hutan sepi dengan pohon - pohon yang mengelilingi hutan itu.
“Wait... mengapa mereka berhenti? ” gumam Ilona tangan nya siap mengarahkan senjatanya berupa pistol ke 2 orang itu.
Tiba - tiba satu dari 2 orang itu bertepuk tangan.
“Prok - prok - prok”
Munculah seorang pria berjubah hitam dengan tato dimana - mana. Beserta anak buahnya yang masing - masing memegang senjata nya masing - masing.
Ilona mengerutkan dahinya.
“Dia siapa?, aku tidak pernah berurusan dengan mereka ” batin Ilona ia dalam keadaan waspada jika akan ada sesuatu terjadi di luar nalar.
Pria itu memperhatikan Ilona dari atas hingga bawah membuat Ilona risih di buat nya.
Ilona menatap pria itu dengan tatapan tidak suka.
“Dasar tidak sopan ” batin Ilona.
“Wah - wah - wah, siapa yang datang di markas kita....” ujar pria itu sembari mengelilingi Ilona.
Ilona tetap bungkam seribu bahasa ingin rasanya ia mencongkel bola mata pria itu, tetapi ia urungkan.
Bersambung......
.
Hayyoo... Pria yang mengenakan jubah hitam siapa coba???
Penasaran nih ya.....????
Kira - kira setelah ini Ilona akan melawan atau tidak yah????
Trailer Next Episode :
Sedangkan di Rumah Sakit.
Belmond tergopoh-gopoh membopong tubuh kakek Marko kedalam ruang IGD. Banyak dari mereka yang keheranan dengan Belmond, pakaian Belmond kemeja putih kini sudah berubah menjadi warna merah akibat terkena darah Kakek Marko yang terus mengalir dari dadanya, tetapi Belmond tak peduli akan penampilannya. Yang ia fikirkan saat ini adalah kondisi Kakek Marko
__ADS_1
Budayakan tap like setelah membaca setiap Episode.
See you nex Episode Guys....