
“Iya,” jawab Ilona, kemudian matanya celingukan mencari keberadaan seseorang.
Belmond yang memperhatikan itu pun mulai penasaran.
“Kau sedang mencari apa?,” tanya Belmond penasaran.
“Oh ya, itu anak kecil itu,” ucap Ilona memberitahu Belmond.
“Dia sekarang bersama baby siter,” jawab Belmond menunjuk sebuah kamar yang sudah ia desain seperti kamar bayi.
“Mulai sekarang aku akan menjaga bayi itu dan menyayangi nya,” celetuk Ilona tentu membuat Belmond kaget.
“Benarkah?” tanya Belmond dengan mengerutkan keningnya.
“Iya, benar,” sahut Ilona sembari berjalan menuju kamar bayi.
Belmond yang masih was-was pun mengikuti setiap langkah Ilona.
Hingga Ilona berhenti di ambang pintu kamar bayi. Dengan menarik nafas dalam - dalam akhirnya Ilona pun sudah menginjakkan kakinya kedalam kamar itu. Entah perasaan apa yang sedang menyelimuti dirinya sehingga hanya dengan melihat bayi yang sedang tertidur pulas, Ilona sudah merasa senang.
Didalam hati Belmond bertanya- tanya. “Ada apa dengan Ilona,” batin Belmond.
Ilona yang merasa ada yang memperhatikan sedari tadi pun menoleh ke arah Belmond.
“Ada apa?,” tanya Ilona dengan mata menyelidik.
“Ti- tidak, aku hanya heran kenapa kau sedari tadi tersenyum,” ujar Belmod dengan jujur.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, entahlah aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku merasa bahagia,” jawab Ilona jujur.
“Syukurlah kalau begitu,” sahut Belmond.
“Ya sudah kalau begitu aku kembali lagi ke kantor,” ucap Belmond pamit.
“Iya, hati-hati di jalan,” ucap Ilona sembari mengantarkan Belmond sampai di halaman mansion.
Belmond pun berangkat ke kantor dengan sang sopir pribadinya. Setelah melihat mobil yang dikendarai Belmond sudah menghilang. Ilona pun berbalik badan kemudian ia kembali lagi ke mansion.
Sampai di mansion, Ilona pun bergegas menuju ke kamar bayi itu. Ternyata sampai di sana Bayi itu sudah bangun dari tidur nya.
“Oh ternyata kamu sudah bangun sayang,” ucap Ilona gemas sembari menggendong bayi itu.
Bayi itu pun menangis mendapati dirinya sudah berada di tangan Ilona. Bayi itu masih ingat betapa kasarnya Ilona membentak nya dulu.
“Kau kenapa heyy, aku tidak akan melukaimu,” bujuk Ilona.
“Nona, sini biar saya yang menenangkan nya,” ucap wanita paruh baya dengan baju khas baby sister.
Ilona pun memberikan bayi itu kepada baby sister itu.
“Kalau begitu saya pamit ke depan bi,” ucap Ilona sembari tersenyum manis ke arah bayi itu. Sontak saja bayi itu pun berhenti menangis seketika.
“Iya, Non,” sahut wanita paruh baya itu sembari menunduk hormat.
Ilona pun berjalan dengan santai nya menuju kamar nya. Sampai di sana Ilona pun,melihat seisi kamar yang ya, lumayan membosankan hanya warna putih yang selalu ada di cat dinding kamar itu, entah siapa yang mendesain nya.
__ADS_1
Terlintas di benak Ilona untuk merubah warna cat dinding itu.
“Bagaimana kalau warnanya aku ubah menjadi warna hitam dan abu - abu sepertinya menarik,” gumam Ilona tiba-tiba saja mendapatkan ide.
“Ya, sekarang aku harus membeli cat terlebih dahulu,” ucap Ilona sembari tangannya mengambil sebuah telepon genggam yang ada di atas nakas nya.
Ilona pun menelpon seseorang. Sambungan telepon telah tersambung.
“Hallo,” sapa Ilona.
“Hai,” jawab pria di ujung telepon.
“Saya Ilona ingin memesan cat warna hitam dengan jumlah 1 truck dan satu cat warna abu-abu dengan jumlah 1 truck juga” pinta Ilona dengan tegas.
Pria yang ada di ujung telpon pun kesusahan menelan saliva nya sendiri.
“Ja- jadi totalnya 2 truck,” ucap Pria itu memastikan.
“Iya, Tuan,” sahut Ilona.
“Mau dikirim kemana ini?,” tanya pria itu.
“Nanti alamat nya saya kirim lewat pesan saja,” jawab Ilona.
Kemudian Ilona mematikan teleponnya secara sepihak.
.
__ADS_1
Bersambung.....