Identitas Rahasia Sang Mafia

Identitas Rahasia Sang Mafia
Episode 30 Lusi Tirta Ayu


__ADS_3

Ilona dan Belmond sudah sampai ke Eropa mereka pun berpisah setelah sampai di bandara. Ilona di jemput oleh Lucifer.


“Bagaimana perusahaan selama aku tinggal?” Ilona mencecar Lucifer dengan pertanyaan.


“Perusahaan dalam kondisi yang stabil apalagi sekarang harga saham sedang melonjak naik,” jelas Lucifer.


“Lalu, selain itu ada kabar apa lagi?,” tanya Ilona ketika ia sudah duduk di kursi penumpang mobil.


“Eh- em, i- itu anu.” Lucifer bingung ingin menjelaskan tentang seseorang yang hari ini tiba - tiba ada di perusahaan nya.


“Anu apa?,” tanya Ilona penasaran apalagi sedari tadi Lucifer gelagapan.


“Kemarin ada seorang wanita datang ke perusahaan mencarimu, Wanita itu bilang kalau kau punya hutang makanya dia ingin kau membayar nya,” jelas Lucifer sembari terus mengemudikan mobilnya.


“Hutang?” beo Ilona bahkan kata - kata itu sepertinya tak pantas untuk Ilona. Bagaimana bisa Ilona mempunyai hutang kalau kemana - mana pasti membawa uang, kartu, lalu hutang apa yang dimaksud?


“Iya, hutang,” sahut Lucifer sembari melirik Ilona dari kaca mobil.


“Siapa namanya?” tanya Ilona lagi sembari mengusap kasar wajahnya.


“Entah, dia tidak bilang” jelas Lucifer sembari mengedik kan bahu nya.


“Ciri - cirinya seperti apa?” Ilona sangat penasaran siapa wanita itu sehingga Ilona terus mencecar satu pertanyaan demi satu pertanyaan kepada Lucifer.


“Ciri - cirinya seperti---” ucapan Lucifer menggantung begitu saja ketika tak sengaja Lucifer melihat Wanita yang ia maksud tengah menyebrang jalan raya ketika lampu merah.


“Itu orangnya,” pekik Lucifer sembari menunjuk seorang wanita berusia 25 tahun dengan pakaian yang sangat seksi, setengah dadanya terbuka dengan rok pendek yang super mini yang mampu membuat para kaum pria ber nafsuu.

__ADS_1


“Itu kan Lusi,” ujar Ilona sembari membuka pintu mobilnya untuk turun dan menghampiri Wanita yang menyebrang itu.


“Heyy, tunggu,” pekik Ilona sembari berlari mengejar Wanita yang diketahui bernama Lusi Tirta Ayu.


Lusi menoleh ke asal suara dan mendapati Ilona berlari menghampiri nya.


“Ilona,” ucap Lusi tak percaya melihat sahabat SMA nya kini sudah berada di depan nya.


“Lusi apa kabar?,” sapa Ilona menepuk bahu Lusi yang terbuka.


“Oh, hai aku tidak baik - baik saja,” sahut Lusi tersenyum getir.


“Heyy ada masalah apa ini?” Ilona menggandeng tangan Lusi supaya menepi dari jalan raya dan mencari sebuah Cafe yang ada di dekat tempat itu untuk bisa leluasa mengobrol.


Sesampainya di Cafe Ilona mengetik pesan kepada Lucifer supaya Lucifer pulang terlebih dahulu dan tidak menunggunya.


Lusi mengangguk kan kepalanya, tanda menyetujui permintaan Ilona.


Mereka pun duduk di meja yang ada dua kursi yang berada di sudut Cafe.


Lusi menatap dalam Ilona, Kemudian menghela nafas kesal sembari mengambil sebuah alat tespek yang ada di dalam tas nya. Kemudian menunjukkannya kepada Ilona.


“Lihat,” ujar Lusi dengan menyodorkan sebuah alat tespek yang sudah dipakai dengan 2 garis merah, menandakan jika pemakainya sedang hamil.


“Wahhh selamat ya,” ucap Ilona dengan gembira mengetahui bahwa sahabatnya sedang mengandung.


Lusi mengerucutkan bibirnya kesal.

__ADS_1


“Lo kok cemberut gitu?” Ilona heran dengan Lusi di ucapkan selamat malah kesal.


“Bagaimana tak kesal jika Ayah dari bayi itu entah kemana,” ujar Lusi jujur, membuat Ilona membelalakkan matanya tak percaya.


“Wait, jadi kau belum menikah?” tanya Ilona kaget.


“Ya, belum lah, masa muda ku saja belum ku nikmati, ” sahut Lusi.


“Lalu, kok bisa kamu hamil?, kau diperkosaa?” tebak Ilona.


“No,” sahut Lusi dengan melipat tangannya di depan dada.


“Lalu?” tanya ilona.


“Kau tahu kalau aku sering pergi ke Club malam?” tanya Lusi.


“Tahu lah,” jawab Ilona.


“Waktu itu beberapa minggu yang lalu aku sedang liburan ke California, malam nya aku pergi ke Club karena jenuh di apartemen. Kemudian ada seorang pria yang tiba - tiba mengajak ku bermalam saat itu aku dalam keadaan mabuk sehingga aku tak sadar jika pengaman nya robek. Aku tak mengenal sama sekali pria itu, aku hanya ingat sebuah kartu namanya yang tertinggal di nakas hari itu,” jelas Lusi sembari menghela nafas kasar.


“Siapa namanya?” tanya Ilona penasaran.


“Namanya adalah-


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2