Identitas Rahasia Sang Mafia

Identitas Rahasia Sang Mafia
Episode 25 Rencana Ilona si Licik


__ADS_3

Mereka bertiga pun masuk ke mansion itu tentu saja di sambut oleh para maid.


Mereka bertiga ternyata digiring ke ruang makan karena memang waktunya sudah menunjukkan jam makan siang.


Para maid disana pun menyiapkan makanan untuk Tuan dan para tamu. Setelah semua makanan terhidang kan mereka semua itu mulai menyantap makanan itu dengan diam tanpa ada pembicaraan. Hingga makanan yang ada di piring berpindah ke perut mereka masing - masing.


Ilona sangat penasaran dengan mansion Barron yang menurutnya sangat aneh ini. Bagaimana tidak aneh di setiap jengkal rumah itu selalu ada penyadap suara. Sehingga membuat Ilona semakin curiga akan mansion Barron ini. Kecurigaan Ilona membawanya untuk bisa menelusuri setiap jengkal Mansion Barron.


Ilona berdiri dari kursi meja makan sontak membuat Barron Dan Belmond melihat ke arah Ilona.


“Ada apa?,” tanya Belmond dengan penasaran sembari mengerutkan keningnya.


“E- aku ingin ke kamar mandi sebentar ya,” ucap Ilona dengan gugup.


“Semoga saja tidak ada yang curiga,” batin Ilona melihat Barron sekilas.


“Kamar mandi?” sahut Barron sembari berdiri.


“Iya kamar mandi,” jawab Ilona dengan kebohongan yang hakiki.


“Memang kau tahu Nona, dimana letak kamar mandinya,” tantang Barron.

__ADS_1


“Disana kan?,” tebak Ilona sembari menunjuk sebuah lorong untuk para maid tadi keluar dari ruang makan tadi.


“Anda salah Nona, disana adalah lorong menuju dapur,” ucap Barron dengan menampilkan senyum smirk nya.


“Mari ikuti saya Nona, jika Nona ingin ke kamar mandi,” tawar Barron sembari berjalan ke arah lorong yang ada di samping.


“Sialan!!!, rencana ku gagal kali ini,” umpat Ilona di dalam hati sembari dengan terpaksa mengikuti langkah lebar Barron.


“Ini kamar mandinya Anda sudah sampai,” ucap Barron dengan tersenyum miring.


Ilona bergidik ngeri melihat senyum Barron kemudian ia secepat kilat masuk kedalam kamar mandi.


Ilona mondar - mandir tidak jelas di dalam kamar mandi itu hingga sebuah ide cemerlang tiba - tiba melintas di otaknya.


“Pasti kali ini rencana ku berhasil,” gumam Ilona berharap rencananya kali ini semulus yang ia pikirkan.


Ilona pun berteriak dari dalam kamar mandi itu mengetes apakah Barron masih ada di luar untuk menunggunya.


“Tuan Barron!!!,” teriak Ilona dengan keras.


Barron yang memang masih ada di luar pun menjawab teriakan Ilona.

__ADS_1


“Iya, ada apa Nona?,” tanya Barron balik.


Ilona menghembuskan napas nya kesal.


“Sial dia belum pergi,” umpat Ilona dalam hati.


“Mari kita mulai rencana berikutnya,” gumam Ilona dengan seringai mengerikan.


“Tuan maaf, saya boleh minta tolong,” Benar saja Ilona memulai rencananya.


“Boleh silakan Nona,” sahut Barron yang masih setia di luar kamar mandi yang Ilona kunci dari dalam.


“Maaf Tuan, tolong belikan pembalut Tuan. Ternyata hari ini saya sedang menstruasi sedangkan saya tidak membawa pembalut sama sekali,” jelas Ilona sontak membuat Barron ketar - ketir.


“Pembalut?,” beo Barron sembari memikirkan bagaimana caranya ia membeli sebuah barang itu sedangkan di mansion ini Barron sama sekali tidak menyimpan pembalut. Karena memang Mansion ini hanya dihuni Barron dan Ayah angkat nya. Beserta beberapa pengawal, dan beberapa maid saja.


Barron sangat gengsi jika ingin meminta pembalut kepada salah satu maid. Mau ditaruh dimana mukanya.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2