
“Ilona, kau tahu Aku akan mengadakan pertemuan dengan Barron,” jelas Lusi dengan girangnya layaknya seorang anak kecil yang diberi hadiah oleh ibunya.
“Hah, syukurlah kalau dia ingin bertanggung jawab,” ujar Ilona bernafas lega.
“Dia bilang katanya dia akan kemari,” jelas Lusi.
“Oh ya?” tanya Ilona sembari menaik turunkan alisnya.
“Iya,” sahut Lusi.
“Memang nya kalian akan ketemu kapan?,” tanya Ilona penasaran.
“Besok lusa,” jawab Lusi dengan tegas.
“Ya sudah, masih ada yang ingin kau bicarakan lagi?” tanya Ilona memastikan.
“Tidak,” jawab Lusi.
“Ya sudah, aku akan mengecek beberapa berkas dulu. Kau mau minum apa?” ucap Ilona sembari menunjuk lemari es yang ada disudut ruangannya.
“Sirup” jawab Lusi.
“Oke, sebentar aku buatkan dulu,” jawab Ilona.
Ilona pun dengan cekatan segera bergegas membuatkan sirup untuknya dan untuk Lusi. Setelah selesai membuat Sirup barulah Ilona membawanya kepada Lusi. Lusi pun menerimanya kemudian ia meminum sirup itu hingga tandas.
__ADS_1
“Ya sudah ya, Ilona, Aku pamit dulu,” ucap Lusi sembari mengambil tas mini nya.
“Iya” sahut Ilona sembari mengantar Lusi untuk turun kelantai bawah, sekalian Ilona ingin mengambil laporan keuangan.
Sampailah mereka berdua dilantai bawah.
Lusi pun turun dan kemudian ia masuk ke dalam mobilnya menancapkan gas.
Sedangkan Ilona ia bergegas masuk ke ruang keuangan.
Sampai di ruangan itu Ilona pun meminta laporan keuangannya dalam bentuk dokumen.
Salah satu staf yang berada di ruangan itu pun memberikan dokumen yang di minta. Kemudian Ilona pun mengeceknya.
Beberapa staf pun merasa tersanjung kala Ilona mengatakan jika kinerja mereka sangat baik. Apalagi jika tak ada seorang koruptor.
Setelah mengecek beberapa dokumen Ilona pun kembali lagi ke ruangan nya.
.
2 Hari kemudian.
Kini adalah hari pertemuan antara Lusi dan Barron. Dua manusia itu nyatanya kini sudah berada di sebuah Cafe Green.
Karena menurut Barron membuang waktu itu berarti membuang uang. Barron pun langsung bertanya to the point.
__ADS_1
“Hayy, Nona apa benar jika Anda sedang hamil?” tanya Barron matanya menatap tajam manik hitam milik Lusi itu. Membuat Lusi kesusahan hanya untuk menelan saliva nya sendiri.
“Glek”
“Iya, Aku memang sedang hamil” jelas Lusi mantap.
“Boleh aku tahu siapa Ayah nya” Barron pun memastikannya.
“Ya, Ayahnya kamu lah, siapa lagi jika bukan dirimu,” bentak Lusi nafasnya terengah-engah.
“Oh, oke. Aku akan bertanggung jawab ” ucap Barron tentu membuat mata Lusi berbinar.
“Ya, benar kamu harus menikahi ku,” tegas Lusi sembari menyunggingkan senyum licik nya.
“Ya, tidak masalah” jawab Barron.
“Besok kita akan menikah” ucap Barron sembari berdiri meninggalkan Lusi.
“Oke” jawab Lusi mantap.
Begitulah pertemuan singkat yang terjadi antara Lusi dan Barron. Meskipun singkat nyatanya pertemuan itu membuat suatu keputusan pernikahan yang akan di lakukan oleh Lusi dan Barron. Kalau biasanya jika orang - orang menika,pada bahagia tapi tidak untuk dua manusia itu. Mereka bahkan seperti biasa saja ketika akan menikah.
Ketika Barron pulang ia mampir di sebuah club untuk melampiaskan rasa kesal nya.
Begitu Pun dengan Lusi ia juga melampiaskan semua rasa kesal, emosi nya dengan pergi ke Club. Lusi sudah tak memikirkan apakah dengan meminum, minuman yang mengandung alkohol akan membuat kandungan nya kenapa - kenapa. Lusi sudah bodo amat dengan semua itu.
__ADS_1