
ย
Aku tidak mengejar adinka pergi dari ruang riset,, setelah menjawab dan menjelaskan apa yg aku tanyakan dia bergegas mengambil ranselnya, dan sambil menunduk tak berani menatap ku dia pergi, tubuhnya seakan-akan hilang di telan lorong kampus yg lampu nya sudah ada yg dimatikan oleh petugas penjaga kampus malam itu.
ย
sedangkan aku masih mematung ditempat ku semula tanpa bergerak sedikitpun, aku masih mencerna atas jawab an yg diberikan adinka kepadaku.
" Jadi selama ini dia menghindariku karena dia ingin menjaga kehormatan nya dan kehormatan ku?
" Dia tidak ingin terjebak dengan perasaan yg tidak semestinya, dia juga tidak ingin ada perasaan lebih dari profesionalitas Antara guru dan murid? Apakah dia juga mencintai ku? pertanyaan itu tiba2 saja muncul di pikiranku".
" Prof,, apakah anda belum pulang?
pertanyaan seseorang yg tak lain adalah emre membuat pikiran ku yg tadinya entah kemana kini tersadar,
." Sebentar lagi saya akan pulang, apakah semua alat sudah dikembalikan ketempat nya masing-masing?
" sudah Prof,,. setelah ini kami akan pulang.apakah anda akan pulang bersama kami? tanya serkan.
" Pulang lah terlebih dahulu, saya masih ada yg ingin dikerjakan di ruang kerja saya.
" Baiklah prof, kami pamit seru serkan dan Emre bersama-sama.
ย
Setelah emre dan serkan telah hilang dari balik pintu ruang riset, aku berjalan menuju ruang kerjaku, ku buka pintu itu perlahan dan ku nyalakan lampu agar aku bisa mudah melihat sekeliling ruangan ku, kaki ku mulai melangkah ke arah meja yg biasanya ku tempati, dan mata ku menatap sebuah sofa yg biasanya dinka duduki saat kami sednag berdiskusi.
ย
Entah kenapa setelah menatap sofa yg biasa adinka duduki ada perasaan sedih, kecewa dan sedikit marah, marah dan kecewa dengan keadaan sekarang,
sebelum dinka memintaku untuk meberikan dia izin mengerjakan penelitian dan tugas S2 nya dari asrama, dengan alasan untuk kenyamanan nya, aku tidak tau kalau dia menghindari untuk bertemu denganku,.
Aku hanya bertemu dengannya pada setiap rabu pagi, karena dia mengikuti mata kuliah yg ku ajarkan di kelas umum,. namun di kelas pun dia terlihat menghindari ku,. belum sempat aku menyapanya ,dia sudah pergi dari kelas,
Aku sangat sedih dan kecewa,. terpuruk lagi dengan suasana ini, seperti saat aku kehilangan selin dulu.
Semangat ku untuk ke kampus pagi-pagi demi untuk sekedar menyapa nya atau menunggu pertanyaan " Apakah prof Aras mau ku buatkan coffe ala Indonesia"
itu sekarang sangat ku rindui, jiwaku seakan hampa kembali , puing-puing hati yg semula sudah ku tata kembali seakan goyah lagi.
ku tarik nafas ku dalam-dalam, sambil ku pejamkan mata dengan tubuh yg bersandar pada kursi kerjaku, samar-samar terdengar suara adinka yg terus memanggil dari kejauhan. Seandainya aku percaya Tuhan apakah aku bisa ber do'a kepadanya, aku ingin sekali berada di samping adinka, bersama nya.๐
*****
Beberapa hari ini aku memilih memfokuskan diri dengan bekerja, tak jarang aku tidak tidur semalaman agar aku bisa sedikit mengurangi rasa kekecewaan dan kesedihan ku.
__ADS_1
Report beberapa mahasiswa ku tertata rapi di atas meja, menandakan aku harus tidak tidur lagi malam ini, ku buka halaman demi halaman report itu dan ku koreksi semua kekurangan nya,
Jam menunjukkan pukul 03.00 malam, aku masih tak bergeser dari kursi kerjaku, fokus dengan kacamata yg terpasang.
ku pijat sedikit pelipis ku, kurasakan sakit di kepala ku, mungkin migran ku mulai kambuh lagi. tapi aku terus memaksakan diri untuk bekerja.
Tepat pukul 06.00 pagi sebuah pesan masuk ke handphone ku, โ๏ธ tringg.. notifikasi pesan berdering dengan sedikit getaran.
ku lihat , di layar yg tadi menyala terpampang jelas Adinka,.
pesan itu dari adinka. tanpa banyak pikir ku ketikan password hape ku untuk membacanya,
" Assalamu'alaikum prof,. maaf mengganggu anda sepagi ini, bisakah hari ini kita bertemu di kampus, ada beberapa report yg saya tidak mengerti dan ingin berdiskusi sebentar"
" Iya datang lah ke kempus jam 8 pagi, saya akan ada di sana" ,
" baiklah, terimakasih prof, ".
ย
Aku keluar dari ruangan kerja yg ada di apartemen ku, kemudian kuputuskan untuk mandi terlebih dulu, karena adinka ingin bertemu harini, sakit kepala yg tadi mulai mengganggu, ku abaikan dan Hanya fokus ingin bertemu adinka di kampus,
ย
setelah waktunya tiba, aku segera turun dari apartemen ku dan menuju parkiran sepeda, ku kayuh sepeda ku agar cepat sampai,
" Selamat pagi prof, sapanya"
" Pagi adinka , jawabku". Apakah kamu sudah menunggu lama?
" Tidak prof, saya baru saja tiba,. Apakah prof Aras sakit? bibir anda pucat sekali." ada kekhawatiran yg kurasakan ketika melihat prof aras yg keadannya memprihatinkan Sekarang."
" Tidak, saya cuma sedang banyak pekerjaan mungkin hanya kelelahan saja, balasku agar dia tidak khawatir,".
" Apa prof aras sudah ke dokter?
" Saya tidak apa" cuma terlalu banyak bekerja, ".
Ku buka pintu ruangan kerja ku,, ku persilahkan adinka masuk, belum sempat aku menarik kursi kerja untuk ku duduki, kepala ku tiba2 Sangat sakit dan pandangan ku mulai buram, samar bibir. ku berucap memanggil nama adinka, namun beberapa saat aku sudah kehilangan kesadaranku.tubuhku ambruk di samping meja kerja .
" Prof...teriakku,.
seketika aku bangun dari sofa yg ku duduki untuk melihat keadaan nya, ternyata prof aras sudah tidak sadarkan diri.
" Help..help, ku keraskan suaraku meminta bantuan kepada siapa saja yg mendengar, tapi tidak ada yg datang, aku berlari ke ruang riset, " Brak.......
ku buka pintu itu dengan keras karena kepanikan ku,
__ADS_1
" emre..
aku memanggil nya, karena yg ada disana cuma emre, dia tidak mendengar karena sedang mendengarkan musik lewat sebuah earphone,
setalah mendengar pintu yg terbuka keras barulah dia menoleh.
" Ada apa adinka?
" prof aras dia jatuh pingsan, ucapan ku sedikit bergetar karena aku masih kaget dan ngos-ngosan sehabis berlari dari ruang kerja prof aras ke ruang riset.
" Benarkah ?? ayok kita segera kesana "
Di susul adinka yg berjalan di belakang emre,
sesampainya di ruangan kerja prof aras,. emre langsung menghubungi Hospital terdekat.
" Maaf dinka, bisakah kau menemani prof aras terlebih dahulu, karena aku ada kelas pagi yg tidak bisa ku tinggalkan._ emre
" baiklah , ucapku.
**
Tidak beberapa lama ambulance datang, dan prof aras segera dibawa ke hospital terdekat,
namun selama di dalam ambulance prof aras belum juga sadar kan diri, aku begitu cemas melihat keadaannya.
Kulihat jarum infus sudh terpasang di tangannya, wajah nya masih sangat pucat dan kulihat bibirnya begitu kering,
setalah sampai di hospital dia dibawa ke ruang rawat inap, dan aku ke bagian administrasi untuk mengurus segala sesuatu nya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
terimakasih sudah membaca IAM ya..
jangan lupa terus dukung author dengan like dan komen positif dari para readers tersayang..jangan lupa juga
__ADS_1
vote๐๐๐