
ππ
Hujan yg deras mengguyur kota Turki semalaman menyambut kedatangan Aras,
kini paginya di sambut dengan sinar mentari pagi yg menghangatkan,
Lepas sholat subuh Aras melakukan olahraga di Gym yg ada di lantai 3 apartemen nya.
selama menjadi seorang mualaf , Aras terus belajar dan menyempurnakan sholat nya,
dia juga selalu belajar mengaji, serta bersedekah kepada orang yg berhak menerimanya.
Semalam, setibanya aras di turki dia langsung berkabar pada Arya dan annisa kalau dirinya telah sampai dengan selamat.
ππ
Triiing... sebuah notif masuk di handphone Aras. dia berjalan kemudian menggeser lock nya ,"Adinka" nama yg tertera di benda pipih itu.
βοΈ Assalamu'alaikum prof, selamat pagi.
saya dengar dari ayah dan bunda, prof sudah kembali ke Turki, maaf jika menganggu prof pagi2 ,
βοΈ Iya, saya sudah kembali,
saya bersyukur sudah bisa tinggal di rumah muπ, terimakasih.
βοΈ Sama-sama prof,
oh ya, tujuan saya adalah ingin bertemu di kampus harini, saya akan konsultasi dengan riset saya, seminggu lagi saya akan sidang tesis. tapi itupun kalau prof tidak lelah.
βοΈSure, datang lah ke ruangan saya jam 10 pagi ini.
βοΈ Terimakasih prof, sampai nanti.
assalamu'alaikum.
__ADS_1
"Waalaikumsalam" aras seraya menyahut salam adinka dengan bibirnya,. namun tak dia tulis pada pesannya. senyum Aras kembali terbit sempurna ketika dia akan bertemu wanita pujaannya itu. Rasanya 3 hari saja kerinduan itu begitu nyata,
wajah teduh adinka dan bola matanya yg tajam berhasil membuat seorang Aras terpesona dan jatuh ke dalam rasa yg sulit untuk di pendam.
"Gk kerasa ya dinka, kita Minggu depan udah akan sidang tesis aja" fika yg berbicara sambil merapikan tempat tidur nya.
"Iya fi, aku merasa baru sebentar disini tapi banyak sekali kenangan di kota ini " balas adinka.
"Lalu, apa rencana kamu setelah selesai sidang tesis ini?
"Entahlah, aku masih belum berpikir apa yg akan aku lakukan, kedua orang tua ku ingin aku menikah setelah magister ku selesai, sedangkan aku sendiri rasanya masih ingin melanjutkan S3 ku di Inggris" adinka berucap sembari menatap sang mentari pagi dari balik kaca jendela asramanya.
"hem.. apapun itu semoga semuanya lancar ya. fika berjalan menuju adinka dan merangkul bahu temannya,
"kita belum sarapan kan, bagaimana kalau kita turun kebawah dan sarapan sembari menikmati mentari pagi sebelum kita berperang dengan tesis ucap dinka"
"sepertinya boleh, kita harus banyak 2 refreshing sebelum isi kepala kita meledak, balas fika".
Keduanya tertawa bersama-sama, kemudian bersiap2 turun kebawah.
ππ
lima menit saja dia sudah sampai di lorong kampus. berjalan menuju ruangannya.
tepat di depan pintu ruangan nya di bangku tunggu seorang wanita telah duduk manis dengan ransel dan tas jinjing tangan yg berisi paper tebal. belum berkata Aras sudah di suguhkan dengan senyuman manis adinka.
"Selamat pagi prof", sapanya kepada Aras
Aras terkesima dengan senyuman manis , wajah teduh yg menghipnotis nya pagi ini, sesaat waktu terasa berhenti, Aras dengan detail memindai wajah adinka wanita yg sangat dia rindukan, kini telah berada di hadapannya.
"Prof" ulang adinka lagi karena sapaannya belum mendapatkan respon dari aras .
"Ah sorry, ucap aras setelah tersadar.
"selamat pagi adinka, apa sudah lama menung6 saya?
__ADS_1
."Tidak prof, baru saja .
Aras mengambil konci di dalam saku celananya dan membuka ruangannya.
"Mari, silahkan masuk. kita akan membahas papermu.
"oke prof" dengan langkah mengekor Aras dinka masuk kedalam ruangan.
Adinka duduk di kursi tepat di depan meja Aras, Aras tak hentinya memandangi wajah wanita yg dia rindukan itu.
"Bagaimana kabar prof? apakah seminar di kampus SS berjalan lancar? suara adinka kembali membuyar kan lamunan aras .
"A...eh.. aras tersentak.
"iya semuanya lancar, jawabnya .
bagaimana kabarmu setelah 3 hari tidak bertemu saya? apa merindukan saya . kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir aras .
dinka yg mendapatkan pertanyaan seperti itu bingung mau menjawab apa.
"Ah...maafkan saya, saya hanya menggodamu ucap aras kembali dengan senyuman nya."
Adinka yg bingung hanya diam tak berkata apapun, dia tahu bahwa hatinya juga sangat masih memiliki rasa cinta, namun dia hanya bisa memendamnya, karena dia dan aras bagaikan langit dan bumi di dalam keyakinan yg berbeda.
"Nah ini prof, paper saya.
adinka dengan wajah serius mengeluarkan paper nya. agar suasana canggung tadi hilang.
Aras dan Adinka berdiskusi tentang paper adinka dengan serius, ada beberapa yg harus adinka revisi dalam paperya, tentu itu bukan masalah besar baginya.
kurang lebih 1 jam dia berdiskusi, setelah selesai dinka pamit . walaupun sebenarnya Aras tadi ingin mengajaknya makan siang bersama. namun dinka menolaknya dengan alasan ada keperluan lain yg mendesak .
Aras masih menatap punggung wanita pujaannya sampai hilang di balik pintu.
tidak lain dengan adinka, setelah keluar dari ruangan Aras, di menutup pintu itu dengan pelan dan hembusan nafas lega, lega karena papernya hanya revisi sedikit dan lega karena bisa mengendalikan perasaannya yg tak karuan saat bersama dengan profesornya itu.
__ADS_1
"Jika Allah sudah berkendak apapun akan terjadi, termasuk meruntuhkan gunung "β₯οΈ