
Aku sudah sampai di kampus,, dan menuju ruang riset untuk memberi tahu Emre dan serkan tentang di keadaan prof aras di hospital.
aku berjalan sambil memikirkan kata2 prof aras tadi di hospital, beliau berhasil menggoda ku dengan kata2 ' future wife'
aku seperti ingin tersenyum, setiap kali mengingat kata2 itu,.
Ya, siapa yg tidak akan salah tingkah mendengar ucapan seorang laki-laki tampan dan nyaris sempurna seperti prof aras,
tapi aku kembali tersadar bahwa perasaan ini salah, karena aku tidak mungkin mencintai seorang yg notabenenya tidak mempercayai Tuhan, itu mustahil.
sedangkan aku, mengataskan Segala sesuatu dengan agama dan Tuhanku.
Ceklek.....
ku buka pintu ruang riset, terlihat emre dan serkan sedang fokus menatap layar komputer nya, setelah mendengar pintu terbuka mereka berdua melihat kearah suara pintu yg ku buka.
" Adinka,,emre membuka suaranya,
bagaimana keadaan prof aras? maaf tadi aku tidak bisa menemani untuk mengantarkan ke hospital, karena kelas pagi tadi tidak bisa ku tinggalkan,
" dan aku juga baru datang, sahut serkan,
aku tidak ada kelas makanya baru datang sekarang.
" Tidak apa teman-teman, aku mengerti, prof aras tadi sudah sadar dan sudah di periksa dokter, "
" syukurlah kalau begitu, emre nampak lega,
selama aku ikut bekerja di riset ini, kau tau?
aku tidak pernah melihat prof aras sakit, tapi akhir-akhir ini ku lihat prof aras sedang bekerja keras, bahkan terkadang jam 12 malam dia baru pulang dari ruang kerjanya.
Kata-kata emre membuat ku bersalah, apakah prof aras sakit karena perdebatan nya malam itu?
" hmm.. baiklah ,
karena aku sudah memberikan mu kabar, aku akan kembali ke asrama, ada beberapa tugas yg harus ku kerjakan , aku mengakhiri pembicaraan ku dengan emre dan serkan.
******
In HOSPITAL
Aras masih dengan posisi tidurnya di ranjang pasien, namun matanya sama sekali tidak bisa di ajak beristirahat, pikiran nya masih saja berselancar jauh memikirkan adinka mahasiswi nya yg berwajah teduh itu.
Dia lega, bahwa hubungan nya dengan adinka kembali baik,
ternyata adinka tidak marah atau benci kepadanya, hanya saja adinka menjaga perasaan karena takut akan melewati batas antara guru dan murid,
" berarti apa dia mencintai ku juga?
dia berdialog dengan hati dan pikirannya sendiri, seperti anak ABG yg baru mengenal cinta.
Lamunannya sedikit buyar, ketika suara pintu terbuka, dan ada seseorang yg masuk.
" Anak Ibu seperti nya sudah sehat?
__ADS_1
Suara itu berasal dari ibuku yg datang menjenguk ku.
" sepertinya kau sudah sehat aydin?
dari tadi ibu lihat kau tersenyum terus, goda sang ibu" .
" ibu..kapan ibu datang, bersama ayah kah?
" iya baru saja, kau melamun kan apa hemm? sampai-sampai ibu mengetuk pintu saja tidak mendengar timpal sang ibu.ibu datang sendiri ayah sedang ada pekerjaan ,nanti dia akan menelpon ketika sudah selesai.
" Maaf bu, mungkin aydin tadi tidak fokus jawabnya.
" bagaimana keadanmu nak?
" seperti yg ibu lihat, aydin sudah baikan, aydin hanya kelelahan saja, terlalu banyak bekerja,."
" kau sangat menjaga kesehatan mu, maka dari itu ibu sangat kaget ketika menerima kabar kau sakit nak , terlebih yg memberi kabar adalah seorang wanita ,liriknya kepada anak semata wayangnya itu,,"
Apakah itu mahasiswi yg kamu ceritakan kepada ibu kemarin?
Sesaat aras terdiam, kemudian sedikit menarik nafasnya, menghembuskan nya perlahan, seperti ada sesuatu yg mengganggu pikirannya.
" Ibu benar, dia adalah adinka, mahasiswi ku yg ku ceritakan pada ibu kemarin, terjadi sedikit kesalah pahaman antara adinka dan aku bu,. adinka terlihat menjaga jarak dengan ku, aku kira dia marah, ternyata dia hanya Takut mempunyai perasaan lebih dari sekedar guru dan murid,
Ibu bangun dari duduknya, kemudian berjalan mendekati ranjang pasien, dan duduk di tepi ranjang, sambil tangannya menyentuh punggung tanganku,
" sepertinya kamu mencintainya nak?
ibu tidak pernah melihat mu seperti ini bahkan ketika dulu kau bersama selin,
ibu bisa membaca raut wajah anaknya yg terlihat seperti Sangat menginginkan sesuatu.
" jika dia adalah jodohmu, pasti Tuhan akan mempersatukan kalian,.
Kata-kata seorang ibu seperti penyemangat ku,. aku bertekad akan menyatakan perasaanku kepada adinka, stelah keluar dari hospital ini. Ibu dan ayah ku adalah seorang pemeluk agama Katolik, mereka percaya adanya tuhan, tapi tidak dengan ku,
Keesokan paginya, emre dan serkan menjenguk ku di hospital, mereka datang sekitar pukul 10 pagi, karena harus mengikuti mata kuliah terlebih dahulu,
sayangnya adinka tidak ikut menjenguk, aku menanyakan keberadaan adinka,
ternyata dia ada tugas tambahan di kelas pagi, jdi tidak bisa ikut menjenguk.
setalah satu jam, emre dan serkan berpamitan pulang kepadaku dan ibuku,
mereka adalah mahasiswa ku yg pintar dan baik.
Selamat pagi,, sapa seoarang dokter tak lain adalah monica,
" selamat pagi, jawab ibuku, kemudian bangkit dari duduknya, menyambut kedatangan dokter monica,
" saya akan memeriksa kondisi aras dulu, ucap monica, mengeluarkan stetoskop untuk memeriksa ku.
" apakah anda ibu dari Aras?
monica bertanya,. sambil memeriksa ku.
" iya saya ibu aydin, ada apa dok?
"saya adalah teman aras bu, monica memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
" benarkah? balasnya,..
"kami berada di kampus yg sama saat kami menenmpuh S3, jawab nya lagi.
Ibu hanya tersenyum kemudian menanyakan kondisi ku, ini hari ke dua aku di rawat,dan mungkin sore aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter monica.
setelah dokter Monica selesai memeriksa ku, dia pamit karena masih ada pasien yg diperiksa nya.
Ibu kembali duduk di sofa, sambil membaca surat kabar yg di antar penjaga hospital,
Tok..tok...
" selamat pagi, suara itu membuat ku yg tadinya ingin memejamkan mata ,ku urungkan.
kulihat adinka datang menjenguk ku ,
" selamat pagi, sapa ku lagi kepada seorang ibu paruh baya yg sedang duduk di sofa,. dengan tangannya sedang memegang koran.
beliau melipat koran itu dan memandang ku.
" selamat pagi, ucapnya
" saya adinka mahasiswi pros aras nyonya jawabku sedikit gugup, karena beliau memerhatikan ku dari ujung kaki hingga kepala.
kemudian dia tersenyum,
" apakah kamu yg menelpon saya kemarin?
" iya nyonya "
" panggil saja saya ibu, seperti aydin memanggilku,
" ba..baik bu, jawabku pelan.
saya menjenguk prof aras sekarang, karena tadi pagi masih ada kelas,
" tidak apa-apa nak, aydin sudah baikan,. mungkin sebentar lagi akan pulang, suara keibuan nya sangat lembut menjelaskan keadaan prof aras kepadaku.
" ini saya bawakan bubur ayam ala Indonesia,, seperti nya prof aras menyukai masakan Indonesia,
" terimakasih dinka, ucap prof aras,
kemarilah, aku akan memakan bubur ayam ala Indonesia mu itu,
ku lihat ibuku hanya tersenyum, dinka membukakan bungkusan bubur ayam itu dan aku segera memakannya,.
setelah selesai memakan bubur ayam itu adinka ingin pamit terlebih dahulu, namun saat seorang perawat datang melepaskan jarum infus ku yg telah habis cairan nya, dia mengatakan bahwa aku sudah bisa pulang.
" Nak,,. kamu bisa pulang bersama kami,
ucapan ibu prof aras mengagetkan ku, aku ingin menolaknya, tapi beliau terus memaksa, iya memang apartemen prof aras dan asrama ku satu arah, mau tidak mau ,aku menyetujui untuk pulang bersama.
" baiklah bu ''
ucapan ku hnya di balas dengan sentuhan lembut di bahuku oleh ibu prof aras.
sedangkan prof aras terlihat senyuman mengembang sempurna di bibirnya.
.
..
.
__ADS_1
.
. bersambung.