
***
Adinka wiratama
Setelah aku dan fika sampai di asrama kami memutuskan untuk istirahat di tempat tidur masing-masing tanpa bicara sepatah katapun, tidak ada pertanyaan apapun dari fika temanku, dia cuma menyuruhku untuk istirahat.
aku merebahkan tubuhku di atas ranjang ,lengkap dengan baju panjang dan hijab yg belum ku ganti. Rasanya hari ini benar-benar membuat ku lelah, walaupun tidak ada hal yg ku lakukan,
yah lelah karena hatiku yg terus berperang dengan otak ku,
" Bagaimana aku menghadapi prof Aras setelah penolakan malam itu?
" Apakah dia terluka?
" Apakah akan mempengaruhi hubungan kami antara guru dan murid?
"Apakah dia akan masuk islam"?
Pertanyaan itu silih berganti menerjang pikiran ku, seperti benang kusut yg susah sekali ku uraikan. Tanpa sadar aku terlelap karena lelah memikirkan hal itu.
satu jam....
dua jam.....
tiga jam....
empat jam....
Aku merasakan ada seseorang yg menyentuh bahuku,, terdengar samar-samar namaku di panggil,.
" adinka....adinka.....Fika mencoba membangun kan temannya itu, karena waktu sudah memasuki waktu sholat ashar.
lama aku tertidur ,dan ku rasakan suhu tubuh ku sedikit panas,.
" Fi...aku mulai menggercap kan mata ku,.
berapa lama aku tertidur?
" hmm... mungkin 4 jam lebih jawab fika,
ayok bangun lah dan mandi , waktu Ashar cuma sebentar ucapnya.
dia menyentuh tangan ku untuk membantu ku bangun,.Dinka ..apa kamu sakit?
suhu tubuh mu panas ucapanya.
" mungkin masuk angin fi, tidak apa aku akan segera mandi dan sholat,
Aku berlalu dan menuju kamar mandi.
aku mandi dan segera melaksanakan sholat ashar. setelah selesai fika mengajak ku untuk makan, karena aku melewatkan makan siang ku, kami makan seperti biasa , tapi kali ini aku tidak banyak berbicara , Untung saja fika mengerti dengan kondisi dan suasana hatiku saat ini.
****
__ADS_1
waktu terus berjalan hingga malam telah datang, Langit Turki bertabur bintang rembulan menambah malam yg begitu sempurna,
jam dinding di kamar asrama ku terus berdetak, menunjukkan pukul 10 malam, kulihat fika telah tertidur dengan lelapnya, sedangkan aku sendiri susah sekali memejamkan mataku,
aku lelah namun pikiran ku terus saja bekerja berpikir keras , entah apa yg membuat ku sangat susah mengistirahatkan pikiraran ku.
hening......
tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 malam, mata ku belum saja bisa terpejam.
aku bangun dan ku putuskan untuk sholat malam, semoga saja setelah ini aku bisa tidur gumam ku .
ku hamparkan sajadah ku, ku diri kan sholat malam, pada Sujud terakhir ku lantunkan doa2 agar hatiku menjadi tenang.
Ya Rob.... ampuni lah aku,atas segala dosaku yg telah ku perbuat, ampunilah aku atas perasaanku yg tidak seharusnya,
inikah hukuman saat mencintai laki2 yg bukan mahram ku,
sesakit inikah ketika aku sedikit berharap kepada manusia, bukannya berharap kepada Mu adalah yg paling indah.
Ya Rob.. ampunilah aku yg belum bisa menghilangkan rasa cinta ku ini kepadanya, bimbingan lah aku ya Robbi agar aku selalu dijalanMu, jatuh cinta kan lah aku hanya kepada dia laki2 pilihanmu ,
namun ya Rob, ampuni hati kecil hamba yg terus mendoakan dia agar dia bisa mendapatkan cahaya Mu, dan menjadikan Engkau Tuhan satu-satunya,semesta alam
semoga dia terbuka hatinya bahwa Islam adalah agama yg paling tepat untuknya.
lirih doa ku bersamaan dengan derasnya air mata ku mengalir, namun Setelah aku selesai melaksanakan sholat malam
aku merasakan hangat pada jiwa ku. ketenangan yg tadinya susah ku dapatkan kini telah menjadikan damai pada jiwa dan hatiku yg paling dalam.
Alhamdulillah ku lirihkan syukur.
aku terbangun kaget ketika azan subuh berkumandang.
****
Pukul delapan pagi Aras sudah rapi menggunakan kemeja berwarna maroon dengan celana hitam yg pas di tubuhnya, sungguh ketampanan dan tubuh yg hampir sempurna, membuat mata siapapun yg memandangnya akan takjub,.
Aras merupakan dosen terganteng di fakultas nya dan dosen termuda.
Pagi ini dia memutuskan untuk ke kampus dengan tujuan ingin ke perpustakaan mencari buku tentang agama.
tentu saja dia yg sangat pintar akan mempelajari terlebih dahulu dasar-dasar agama mana yg paling benar.
dia mencoba menjadi seprofesional mungkin saat di kampus, apa lagi saat bertemu dengan adinka,. dia tidak mau hubungan perasaannya di campur kan dengan pelajaran yg dia ampu.
Setibanya dia diruang kerjanya, kemudian dia duduk memeriksa laporan-laporan yg tertata rapi di atas mejanya.
termasuk makalah adinka yg namanya terpampang jelas di cover depan,.
di buka dan di revisi nya setiap kata,
" Memang dia wanita yg sangat pintar gumamnya,.
sebuah ketukan pintu membuat hayalanya tentang wanita berwajah teduh itu membuyar, kemudian matanya berganti memandang ke arah asal suara .
" Masuk , ucap nya,.
__ADS_1
betapa terkejutnya aras, ternyata yg datang adalah adinka Wiratama.
sesaat aras terdiam dan hanya menatap sembari menyusun kata-kata apa yg akan di ucapkan nya pertama kali setalah penolakan lamarannya kemarin malam.
" Permisi Prof, saya kesini ada sesuatu yg ingin saya sampaikan, terlebih dahulu adinka membuka suaranya.
kemudian memberanikan diri menatap wajah profesornya itu,
saat bersamaan Aras jua menatap adinka.
Cesssss.....mata mereka bertemu untuk sepersekian detik, sebelum adinka terlebih Dahulu menarik pandangan nya.
matanya sendu, terlihat warna grey itu redup tak terlalu berkilau seperti biasanya, sepertinya dia banyak menangis ' batin aras'
" Katakanlah apa yg ingin kamu bicarakan sepagi ini hem? aras berbicara lembut kepada adinka.
tidak ada kalimat canggung pun di intonasi pertanyaan nya.
" prof .. sesaat adinka menarik nafasnya dalam,
saya sangat minta maaf atas kejadian kemarin malam di dermaga, maaf kan saya jika kata-kata saya membuat prof sakit hati.
" no..no...i am just sorry to you adinka, saya yg sangat minta maaf kepada mu, saya terlalu gegabah atas perasaan yg saya miliki.
saya sangat bersalah , namun. yg paling benar adalah perasaan saya kepada mu, itu tulus dan tidak pernah bohong,mata aras tajam menatap adinka yg hanya bisa menunduk .
tapi saya adalah orang yg sangat menghargai keputusan yg kamu buat dan saya sangat mengerti, untuk itu bisakah kita berteman seperti dulu lagi, antara guru dan murid pastinya, jangan sungkan untuk bertemu,
lupakan kejadian kemarin malam,
hemm..apa saya terlalu memaksa?
" Tidak prof,, saya sangat setuju dengan apa yg prof katakan, mari kita menjadi teman dan tentunya guru dan murid.
" tentu saja,. terimakasih adinka.
tapi kita tidak akan tau apa yg akan terjadi ke depannya, jika seandainya saya telah menentukan sebuah kepercayaan dan itu adalah Islam, apakah kata-kata mu waktu itu masih bisa ku pegang?
" Adinka tersenyum mendengar kalimat yg di ucapkan prof aras,
Sure prof..i am promise ucapanya.
" Okay.. ucapnya dengan senyuman yg mengembang sempurna, sekarang bisakah saya meninggalkan kamu?
saya ada kelas umum 5 menit lagi
" Tentu prof,,. terimakasih ucap adinka sekali lagi, kemudian pamit berlalu keluar dari ruangan itu dengan hati yg sudah tenang.
sedangkan aras masih menatap adinka,sampai punggung itu hilang di balik pintu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung