
Sunset di blue lagoon terlihat begitu berkilau, warna jingga bercampur dengan semilir angin laut yg mulai menusuk tubuh adinka , hemm dingin gumamnya sambil jemarinya menyentuh pelan bagian tubuhnya yg terasa dingin.
Aras berjalan mendekati adinka, dengan tangannya masih dia masukkan dalam saku celananya, mereka hanya berdua berada di bibir pantai sore itu, karena emre,serkan, dan fika memutuskan untuk beristirahat di kamar mereka sembari menunggu waktu barbeque nanti malam.
" Dingin...?
suara Aras lembut bertanya kepada adinka yg sedari tadi mengelus lengannya untuk mengurangi kedinginan yg dia rasakan, walaupun dia memakai kaos lengan panjang tapi angin pantai sore itu berhasil menembus kulitnya hingga sedikit membuat tubuhnya bergetar.
" Prof,,? kapan prof datang, saya benar-benar tidak tau kapan prof berdiri di belakang saya, ucapnya dengan sedikit memundurkan tubuhnya agar sejajar dengan prof Aras.
" Baru saja,
sepertinya sunset blue lagoon sudah membius mu, Sehingga langkah kakiku tak terdengar ,dengan senyuman manisnya menatap wajah adinka yg begitu teduh,
Cess...mata mereka kembali bertemu, untuk sekian detik saling memandang dan menusuk tajam jauh ke dalam rasa yg entah itu akan membawa kemana,
" Mm..maa..maaf prof, terlebih dahulu adinka menarik pandangan nya, kemudian menunduk kebawah, menatap pasir putih yg menjadi pijakan kakinya.
" Tidak apa-apa , saya yg harusnya minta maaf karena telah membuat mu kaget,
lebih baik kita kembali ke villa, dan beristirahat sejenak sampai waktu barbeque tiba, lagi pula ini sudah hampir malam, ucapnya mengajak adinka kembali.
" Baiklah prof, mari kita kembali ke villa,
" saya kan berjalan di depan, seperti yg kamu katakan bukankah seorang imam/ suami selalu di depan?
" Prof bisa saja, menggoda saya, ingat
saya ini mahasiswi prof lo?
" Memangnya kenapa? kamu memang mahasiswi saya, tapi kamu juga seorang wanita bukan, ucapnya semakin menggoda adinka.
Bagaimana jika saya serius ingin menjadi suami mu? aras sedikit membalikkan tubuhnya ingin melihat reaksi adinka setelah dia berbicara seperti itu.
" Prof,, jangan mengoda saya, ayok kita kembali ke villa sekarang, sambil menundukan wajah nya karena malu, dia mengikuti prof aras yg sudah tidak bicara lagi dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing.
*****
Acara barbeque pun di mulai, terlihat adinka dan juga fika sedang membuat saus barbeque dan sambal cocolan ala Indonesia,
mereka membuat dengan di selingi beberapa canda dan tawa ringan,
sedangkan serkan dan emre mulai menyiapkan panggangan dan bara api, Aras membawakan daging ikan segar, udang dan cumi-cumi yg suda diberi sedikit lada,garam dan perasan jeruk nipis,
dia juga mengajak pak Romi Penjaga villa untuk bergabung di acara barbeque mereka,
kemudian setelah semua bumbu siap, emre dan serkan mulai memanggang,
__ADS_1
sambil sesekali mengipas agar cepat matang,
" Biar saya saja yg memanggangnya tuan, ucap pak romi, yg tidak enak dengan dirinya yg ikut tapi tidak melakukan apa2.
" Bapak tenang saja, urusan panggang memanggang serahkan saja pada emre, ucap serkan sambil terkekeh,
sedangkan emre hanya manggut-manggut dan kemudian ikut terkekeh mendengar perkataan serkan.
Adinka dan fika menata meja, di atas meja sudah tersaji salad sayur, air mineral dan air jeruk hangat untuk sedikit mengurangi dingin nya angin pantai. Setelah semuanya selesai di panggang mereka menyantap dengan lahap, sembari emre memainkan gitar nya sambil menunjukan kebolehannya dalam bermain alat musik petik itu,
semua dalam susana yg bahagia,terlebih Aras yg dari tadi tidak berhenti tersenyum saat memandangi adinka yg juga tersenyum manis, dia seakan terbuai dalam senyuman manis milik wanita berwajah teduh itu.
Pukul 22.00 malam, mereka sudah selesai dengan aktivitas barbeque nya, dan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing,
tapi tidak dengan aras, dia menyiapkan dan mendekorasi indah bibir pantai, tepatnya di dermaga, di sebelah barat blue lagoon yg belum sempat di datangi adinka sore tadi.
di samping kiri dan kanan berjejer lilin yg menyala juga ada lampu kecil berkelap-kelip,, menambah. kesan romantis.
tak lupa di pasir putih di taburkan kelopak mawar berwarna pink di bentuk tulisan " DO YOU MERRY ME" .
Aras meminta bantuan serkan dan emre agara nanti jam 23.00 untuk mengajak adinka dan fika ke dermaga , semula emre dan serkan kaget dan tidak percaya akan lamaran itu, namun setelah melihat sendiri aras telah mengatur dan menata dermaga itu, barulah mereka percaya,.
🌼🌼🌼
Jam 23.00
Terlihat emre,serkan ,fika dan adinka menuju dermaga, namun saat itu adinka belum melihat Aras, karena untuk lampu kelap-kelip belum dinyalakan,
Terdengar petikan nada gitar dan nyanyian seseorang dari kejauhan, namun adinka masih juga belum sadar,
Ketika langkah kaki adinka menginjak dermaga, seketika lampu kelap-kelip itu menyala, dan aras mulai menyanyikan sebuah lagu Bruno Mars🎵🎶
*It's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes, or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you
Well I know this little chapel on the boulevard
We can go
No one will know
Oh c'mon girl
Who cares if we're trashed
Got a pocket full of cash we can blow
Shots of Patron
And it's on girl
__ADS_1
Don't say no no no no no
Just say yeah yeah yeah yeah yeah
And we'll go go go go go
If you're ready, like I'm ready
'Cause it's a beautiful night, we're looking for something dumb to do
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes or is it this dancing juice
Who cares baby, I think I wanna marry you
Oh
I'll go get a ring
Let the choir bell sing like ooh
So what you*…
Adinka mengehentikan langkah kakinya ketika lampu penerang pada kelopak bunga mawar pink dinyalakan, nampak lah tulisan ' DO YOU MARRY ME ADINKA' warna pink kelopak bunga mawar. Sangat kentara di atas pasir putih,.
adinka mengangkat tangannya kemudian membekap mulutnya sendiri, denga mata yg berkaca-kaca,
Aras melangkah maju menuju adinka, kemudian setelah dekat dia sedikit berlutut dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbentuk hati,
" Adinka,, do you marry me? dibukanya kotak itu nampaklah cincin berlian berkilau di terpa cahaya lilin, begitu indah,
namun adinka tidak menjawab, dia semakin menangis ,air matanya sudah membanjiri pipinya,,
" Adinka, , do you marry me?
sekali lagi kalimat itu di ucapkan Aras , namun adinka malah semakin tergugu dengan tangisannya,
Dari kejauhan emre, serkan dan fika cuma melihat saja tanpa mendengar apa yg mereka bicarakan, tapi dengan pose profesornya berlutut , mereka tau lamaran sedang berlangsung.
BERSAMBUNG,,,,
.
.
.
.
.
.
Haii...para readers kalo kalian suka dengan karya author jangan lupa
__ADS_1
like, komentar positif dan kalo Vote ya
terimakasih 🥰🥰