Istri Bar-bar Duda Cassanova

Istri Bar-bar Duda Cassanova
Rumah Baru


__ADS_3

Setelah satu minggu berbulan madu di Italia, akhirnya Zeeko dan Trisha kembali ke kota mereka, London. Trisha yang sebenarnya masih kesal dengan Zeeko berusaha menampilkan senyum terbaiknya di depan sang mertua.


Emilia terlihat bahagia. Apalagi Trisha banyak mengarang cerita tentang bulan madu yang sebenarnya hanya rencana Zeeko untuk mengelabui semuanya.


"Mom, Dad, aku dan Trish akan pindah dari rumah ini. Kami akan tinggal di rumahku sendiri." Zeeko mengutarakan keinginannya di depan Brahm dan Emilia.


"Ah, itu bagus. Itu artinya kalian bisa membina rumah tangga kalian sendiri." Emilia menggenggam tangan Trisha.


"Kapan kalian pindah?" tanya Brahm.


"Secepatnya! Aku akan suruh orang untuk memindahkan barang-barang kami."


Ada rasa cemas di hati Trisha. Sebenarnya saat dulu masih menikah dengan Ellea, Zeeko memang tinggal di rumahnya sendiri. Namun setelah kecelakaan dua tahun lalu, Zeeko pindah kembali ke mansion orang tuanya.


Trisha tak paham apakah rumah baru yang akan mereka tempati adalah rumah lama Zeeko atau ada rumah yang lain. Jika rumah itu adalah rumah kenangan Zeeko bersama Ellea, maka... Akan sangat sulit bagi Trisha menggapai hati Zeeko. Karena kenangan Ellea akan terus menyertai.


"Trish, kenapa hanya diam? Kau tidak suka pindah dari rumah ini?" Pertanyaan Emilia membuat Zeeko melirik istrinya.


"Ah, tidak Mom. Aku suka. Akan lebih baik jika aku tinggal berdua dengan Zeeko. Jadi, Mom dan Dad tidak mendengar pertengkaran kami nantinya."


Jawaban Trisha membuat tawa menggema di ruang keluarga itu. Sementara Zeeko hanya diam dan tak bersuara.


Masuk ke kamar, Trisha segera membersihkan dirinya. Malam ini mereka masih menginap di rumah keluarga Howard. Sebenarnya Trisha ingin menginap di rumah ayahnya. Tapi ternyata Anthony sudah ke luar kota untuk melakukan bisnis.


Ayah Trisha memang gila kerja, makanya Trisha tak heran lagi melihat suaminya yang juga gila kerja. Tapi jika lebih memilih bekerja di hari seharusnya mereka berbulan madu, tentu saja Trisha tak setuju. Ia masih kesal dengan Zeeko yang terus meninggalkannya selama di Italia.


"Kau masih marah soal kejadian di Italia?"


"Tidak! Aku tidak punya hak untuk marah!" ketus Trisha.


"Kau punya hak itu. Karena kau istriku!"


Trisha menjulurkan lidahnya. "Terserah kau saja!" Trisha memilih untuk tidur lebih dulu.


Keesokan harinya, Zeeko benar membawa Trisha pindah ke rumah baru mereka. Rumah itu cukup besar jika dihuni mereka berdua saja.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya," sapa ramah seorang pelayan bernama Esme.


"Hmm, semuanya sudah siap kan?" tanya Zeeko.


"Sudah, Tuan."


Trisha mengekori langkah Zeeko memasuki rumah baru mereka.


"Zee, apa ini rumah lamamu dengan..."


"Bukan!" Zeeko mencegat cepat. "Lebih tepatnya ibuku yang memilihkannya."

__ADS_1


Trisha mengangguk. "Syukurlah," gumamnya.


Zeeko tersenyum tipis mendengar gumaman Trisha.


"Kamarmu ada di sebelah sana! Esme, antarkan nyonya ke kamar barunya."


"Tunggu! Kita... Tidur terpisah...?"


Zeeko mendekati Trisha. "Iya. Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita tidak bisa melakukan hubungan suami istri sebelum aku memiliki rasa padamu? Jadi, lebih baik begini."


"Kau!" Trisha bersiap mengarahkan bogem mentahnya ke wajah Zeeko.


Namun ternyata dengan sigap Zeeko menangkap tangan Trisha. Sudah sejak kemarin Trisha menahan kekesalannya dan ingin menghajar suaminya itu. Diabaikan selama bulan madu ia masih bisa terima. Tapi berpisah kamar ketika sudah resmi menikah, itu tidak bisa Trisha terima.


"Ckckck, istriku ini kenapa selalu pakai kekerasan untuk menyelesaikan masalah?" Zeeko menghempas tangan Trisha dengan cukup lembut. Tentunya Zeeko tak ingin Esme melihat pertengkaran mereka.


"Ayo, aku antar ke kamarmu!" Zeeko menarik lembut tangan Trisha menuju kamarnya.


"Kau istirahat saja dulu! Aku harus ke kantor." Zeeko meraih tubuh Trish untuk dipeluknya, tapi Trisha menolak.


"Pergilah! Aku boleh melakukan hal sesuka hatiku kan disini?"


"Iya, tentu saja. Ini rumahmu juga!"


Trisha tersenyum seringai melihat kepergian Zeeko.


...****************...


"Ini ruangan apa?" Trisha membuka pintu dan melihat area gym kecil ada disana.


"Wah, jadi dia menyediakan ini juga disini? Hmm, kurasa masih kurang. Aku akan menambah beberapa barang disini."


Trisha memesan barang-barang yang akan ia gunakan untuk berlatih karate. Sebagai seorang guru, Trisha terus melatih skillnya yang akan ia ajarkan kepada murid-muridnya nanti.


Satu hari telah berlalu. Pagi ini Trisha membuat sarapan untuknya dan Zeeko.


"Kau memasak?" tanya Zeeko.


"Hanya masakan sederhana saja. Ini penting untuk tenaga."


"Hari ini kau mulai mengajar?"


Trisha mengangguk.


"Baguslah! Kita akan sama-sama sibuk setelah ini."


Trisha mencebikkan bibirnya. Ia memilih tidak menjawab pernyataan Zeeko.

__ADS_1


#


#


#


Siang harinya, Trisha sengaja mendatangi kantor Zeeko untuk mengajak pria itu makan bersama. Namun begitu tiba disana, Trisha tak mendapati Zeeko di kantornya.


"Tuan Zeeko sedang ada rapat di luar dengan klien, Nona," ucap sekretaris Zeeko.


Trisha memindai penampilan sang sekretaris yang dinilainya terlalu terbuka.


"Dengar! Siapa namamu?"


Tatapan mengintimidasi mendominasi Trisha.


"Sa-sarah, Nona."


"Kau tahu kan siapa aku?"


Sarah mengangguk.


"Bagus! Mulai besok pakailah baju yang sedikit tertutup. Kau ini ingin bekerja atau menggoda suami orang, hah?!"


Kalimat Trisha yang menekan membuat Sarah takut. Ternyata rumor tentang istri Zeeko yang bar-bar itu benar. Sebenarnya tak banyak orang yang tahu soal Trisha.


Namun bagi beberapa orang yang kepo dengan kehidupan orang lain, akhirnya menyelidiki tentang siapa Trisha, istri Zeeko yang baru. Terutama para karyawan wanita yang mengagumi sosok Zeeko. Mereka berharap bisa menyentuh hati Zeeko dan menggantikan posisi Ellea.


"Kau mengerti tidak?"


Gaya Trisha yang tomboy membuat Sarah mengangguk.


"Iya, Nona."


"Bagus! Bila perlu kau ganti pakaianmu sekarang juga! Pesan saja lewat online."


Sarah kembali mengangguk. Trisha melangkah keluar dari ruangan Zeeko. Rencananya untuk bisa mengambil hati Zeeko rasanya sulit.


"Jangan menyerah, Trish! Kau pasti bisa!"


Trisha keluar dari gedung bertingkat itu di iringi dengan seliweran bisik-bisik diantara para karyawan. Harusnya Zeeko yang memperkenalkan Trisha di depan para karyawannya. Trisha inginnya begitu.


Namun karena Zeeko terlihat tak berniat mekakukannya, maka Trisha bertindak lebih dulu. Trisha tak peduli dengan cibiran orang tentangnya.


"Dia kan putri keluarga kaya, tapi penampilannya sama sekali tak menampilkan hal itu."


"Istri baru Tuan Zeeko tidak ada anggun-anggunnya. Sangat berbeda dengan mendiang Nyonya Ellea dulu."

__ADS_1


Trisha mengepalkan tangan mendengar semua cibiran itu. Ingin sekali ia robek mulut para wanita yang dengan tega menghina sesama wanita.


"Ah, sudahlah! Aku terlambat untuk masuk ke kelas. Aku sudah membuang waktuku untuk datang kemari!"


__ADS_2