
Pagi harinya, Trisha sudah duduk di depan meja rias sambil memoles wajah cantiknya dengan dandanan natural. Ia memoles bibir tipisnya dengan lipstik berwarna pink kemerahan agar terlihat lebih segar. Trisha harus memberi kesan jika semalam telah terjadi sesuatu di kamar itu. Trisha tak ingin keluarga Zeeko dan ayah Trisha curiga dengan mereka berdua.
Trisha melirik Zeeko yang masih tertidur lelap. Semalam Zeeko memang mabuk. Dan Trisha tahu apa penyebabnya. Malam pertama yang kacau.
Trisha yang sedang melamun ternyata tak menyadari kehadiran Zeeko yang berdiri di belakangnya. Dengan sangat tak terduga Zeeko mencium pipi Trisha hingga membuat Trisha tersadar dari lamunannya.
"Selamat pagi, istriku!" ucap Zeeko dengan penampilan yang masih awut-awutan.
Meski begitu, wajah tampan khas bangun tidurnya tetap mendominasi.
"Kau! Kau sudah bangun?" Trisha tergagap.
"Hmm, kau sampai tidak sadar karena melamun. Kenapa pagi-pagi sekali sudah rapi? Mau kemana?"
Trisha beranjak dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Zeeko.
"Keluarga kita pasti menunggu untuk sarapan bersama. Apa rumah ini rumah keluargamu?"
Sejak kemarin Trisha sama sekali tak bertanya rumah siapa yang dijadikan tempat pesta pernikahan mereka.
"Bukan. Ini rumah nenekku. Kami berkunjung kesini saat ingin melepas penat."
Memang benar apa kata Zeeko. Rumah ini sangat cocok untuk melepas penat. Rumah ini memiliki danau buatan yang sangat asri.
Pagi tadi saat membuka mata, Trisha sempat menuju balkon kamar dan terlihat pemandangan yang luar biasa asri. Di musim panas seperti ini memang sangat cocok berlibur ke tempat seperti ini.
"Trish!" Panggilan Zeeko membuat Trisha menoleh.
"Eh? Ada apa?" Lagi lagi Trisha melamun.
"Siapkan baju gantiku. Aku ingin mandi!" Setelah memerintah Zeeko langsung masuk ke kamar mandi.
"Zee, kau mau pakai baju apa?"
__ADS_1
"Terserah! Aku akan pakai apapun yang kau siapkan!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
Trisha mendengus kesal. Ini adalah tugas pertamanya sebagai seorang istri. Meski kesal Trisha tetap melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah beberapa menit berlalu, Zeeko keluar dari kamar mandi dan tak melihat Trisha ada di kamar.
"Kemana dia?" gumam Zeeko. Ia melihat pakaian gantinya sudah di siapkan Trisha.
"Hmm, seleranya bagus juga." Setelah kaus dan celana jeans menjadi pilihan Trisha. Karena hari ini mereka hanya akan bersantai saja, jadi Trisha memang memilih pakaian yang nyaman untuk Zeeko.
Zeeko menuruni anak tangga menuju ke ruang makan.
"Nah, ini dia pengantin prianya!" seru Emilia.
"Duduklah disamping istrimu!" ujar Brahm.
Zeeko menyapa semua orang yang ada di meja makan.
"Selamat pagi, Mom, Dad, Uncle Anthony!"
"Ah, iya maaf Dad!"
"Tidak apa. Jangan memperpanjang masalah, Kak Emi." Anthony tertawa renyah.
"Baiklah, mari kita makan! Zee, makan yang banyak ya! Kau pasti butuh tenaga yang banyak bersama Trisha."
Kalimat Emilia membuat Zeeko mengerutkan kening. Lalu ia melirik kearah Trisha. Gadis itu hanya tersenyum dan membuat Zeeko makin bingung.
Sarapan pagi pun berlangsung tanpa ada yang bicara. Hingga Emilia kembali berceloteh.
"Zee, kapan kalian akan berbulan madu? Trisha bilang semalam kau sangat kelelahan makanya kau bangun terlambat tadi."
Tentu saja Zeeko tersedak makanan yang dikunyahnya karena mendengar ucapan Emilia. Dengan sigap Trisha menyodorkan segelas air untuk Zeeko.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, sayang..." Trisha mengusap punggung Zeeko.
Zeeko malah memicingkan mata karena mendapat perlakuan hangat dari Trisha.
"Apa, Mom? Bulan madu? Kurasa aku dan Trisha..."
"Tentu saja kalian harus mengambil cuti," celetuk Brahm.
"Eh?!" Trisha dan Zeeko tertegun.
"Benar! Kalian jangan mengurus pekerjaan terus. Zee, kau juga perlu bersenang-senang bersama istrimu. Kalian kan pengantin baru."
Rasanya Zeeko dan Trisha tak bisa membantah selain mengikuti anjuran dari para orang tua. Mereka terpaksa menganggukkan kepala karena tak ingin membuat banyak orang kecewa.
Usai sarapan, Trisha dan Zeeko pamit undur diri untuk kembali ke kamar. Zeeko ingin meminta penjelasan pada Trisha.
"Ada apa?" tanya Trisha berkacak pinggang.
"Wah! Rupanya si bar-bar Trisha sudah kembali!" Zeeko menggeleng.
"Katakan saja ada apa?!" ketus Trisha.
"Hei, apa maksudmu bicara begitu pada ibuku? Kau bilang aku kelelahan? Apa yang mereka pikirkan kalau kau bicara begitu?"
"Hei, Tuan Zeeko. Kau pikir aku suka berbohong? Ini demi dua keluarga! Kau pikir ibumu tidak akan sedih kalau mendengar semalam kau menghabiskan malam di klub dan mabuk? Pikir pakai otakmu!"
Zeeko tak terima dengan kalimat Trisha.
"Wah! Memangnya siapa yang membuat mood ku buruk? Kau! Kau yang sudah merusak malam pertama kita!" Zeeko menunjuk wajah Trisha dengan jari telunjuknya.
"Hah! Kau memang pria yang menyebalkan! Hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa melihat sisi yang lain. Sekarang lebih baik katakan pada ayah dan ibumu agar kita tidak perlu berbulan madu. Untuk apa aku pergi berbulan madu dengan suami yang tidak mencintaiku!"
Trisha memilih keluar dari kamar. Rasanya menyesakkan harus mengatakan kenyataan itu.
__ADS_1
"Cinta? Apa yang dia harapkan dari diriku? Aku ini pria brengsek! Kenapa dia mengharapkan cinta dari pria brengsek sepertiku?" Zeeko mengusap wajahnya kasar. Sepertinya dia sudah keterlaluan terhadap Trisha.