
Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas berwarna hitam menekan bel pintu kediaman Zeeko. Dialah Lexi. Orang kepercayaan Max yang diminta untuk mengawasi Trisha.
Esme membukakan pintu dan bertemu dengan Lexi.
"Selamat pagi, Esme," sapa Lexi ramah.
Meski berwajah sangar, tapi Lexi memiliki hati yang cukup lembut.
"Pagi. Ada apa kau datang kesini? Apa Tuan Zeeko memintamu kemari?" tanya Esme.
Lexi mengerutkan keningnya. "Kau jangan bercanda, Esme. Apa Nona Trisha di dalam?"
"Kau yang jangan bercanda! Kenapa kau mencari Nona Trisha?"
"Max memintaku untuk datang kemari dan menjaga Nona Trisha."
"Tapi... Sejak semalam Nona Trisha tidak pulang ke rumah."
"APA?! Ini gawat!"
Lexi langsung memeriksa seluruh isi rumah termasuk kamar Trisha dan Zeeko.
"Tidak ada barang yang dibawa."
Esme mendekati Lexi. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Sepertinya telah terjadi sesuatu dengan Nona Trisha dan Tuan Zeeko. Kau tahu kan seperti apa hubungan mereka?"
Esme malah bingung dengan penjelasan Lexi.
"Memangnya seperti apa? Mereka baik-baik saja, Lexi. Setidaknya itulah yang aku lihat. Meski mereka tidur di kamar terpisah, tapi aku pernah memergoki Nona masuk ke kamar Tuan Zeeko begitu juga sebaliknya."
Lexi mengusap wajahnya. "Yang jelas aku harus menemukan Nona Trisha. Jika tidak, Tuan Zeeko bisa memenggalku!"
Lexi segera menghubungi Max dan mencari tahu soal teman-teman Nona Trisha di kota ini. Mungkin saja keberadaan Nonanya ada bersama salah seorang temannya.
Sementara itu di Italia, Zeeko masih sibuk mengurus markas berkasnya disana yang tiba-tiba saja di serang oleh kawanan yang tak dikenal. Beberapa anak buahnya tewas dan ada juga yang masih di rawat di rumah sakit dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.
Zeeko menemui beberapa orang yang selamat. Karena ini bisnis dunia bawahnya di Italia terancam goyah. Orang-orang kepercayaannya mati ditangan musuh.
"Kalian jangan takut, kau tahu kan siapa aku? Aku tidak akan membiarkan masalah ini semakin besar. Kita akan membangun bisnis kita dari awal lagi." Zeeko berujar di depan anak buahnya yang selamat.
"Apa kalian punya nama untuk kita selidiki?"
Mereka terlihat saling pandang kemudian menggeleng.
"Kami diserang saat sedang tidur. Sepertinya mereka memang sudah mengawasi kita, Tuan."
Zeeko mengangguk paham. "Baiklah. Kalian boleh pergi."
Zeeko duduk di kursi kebesarannya sambil bersandar. Ia memijat pelipisnya pelan.
"Siapa yang sudah melakukan ini padaku?" gumam Zeeko.
__ADS_1
"Tuan!" Max datang menghadap.
"Bagaimana? Ada kabar dari Lexi?"
Max bingung bagaimana cara menyampaikannya pada Zeeko. Pria itu sudah dipusingkan dengan masalah bisnisnya, ditambah dengan berita menghilangnya Trisha. Pastinya akan membuat Zeeko bertambah murka.
"Max! Katakan sesuatu jika kau memang ingin bicara! Jika tidak, kau boleh keluar!"
"Maaf, Tuan. Lexi bilang... Nona Trisha menghilang."
Mata Zeeko yang sedang terpejam seketika terbuka lebar.
"Apa katamu?! Bagaiman bisa dia menghilang?"
"Aku tidak tahu detilnya, Tuan. Lexi sedang menyelidikinya."
"Bagaimana dengan mobil dan ponselnya?"
"Mobil yang Anda beri... Ditinggalkan begitu saja di klub. Dan ponselnya juga ditemukan terbuang di tong sampah." Max menunduk karena tak sanggup melihat reaksi Zeeko.
"Astaga! Gadis itu!" Zeeko mengusap wajahnya kasar.
"Kerahkan semua anak buahmu dan cari di seluruh London! Mencari satu gadis saja tidak becus!" kesal Zeeko.
"Baik, Tuan."
...****************...
Lexi mencurigai Mercy karena semalam baru saja Trisha dan dirinya terlibat keributan di sebuah klub malam. Dan mungkin saja Mercy menyuruh orang untuk menculik Trisha atau semacamnya.
"Astaga! Jadi kau mencurigaiku telah menculik adik tiriku sendiri?" Mercy menyilangkan tangannya.
"Apa kau tidak tahu gadis macam Trisha itu? Dia bahkan kuat melawan lima orang pria sekaligus. Dia itu gadis bar-bar yang mengerikan! Kau pasti kalah jika melawannya!" Mercy bergidik ngeri melihat keganasan sang adik tiri.
Lexi hanya diam dan tak menanggapi. Hingga akhirnya ia menjawab,
"Baiklah. Untuk saat ini Nona bisa lepas dari kami. Tapi jika Nona terbukti terlibat, maka Nona harus menanggung akibatnya!"
Lexi undur diri dari hadapan Mercy.
"Hah?! Astaga! Siapa dia? Berani sekali bicara begitu padaku!" Mercy mengibaskan tangannya melihat kepergian Lexi.
"Jadi, Trisha menghilang? Hmm, menarik juga. Semoga saja dia menghilang selamanya dari muka bumi ini." Mercy tersenyum menyeringai.
...****************...
Lexi memeriksa ke sekolah tempat Trisha mengajar. Ia bertemu salah satu guru disana.
"Hari ini Miss Trisha tidak datang. Dia juga tidak mengirimkan pesan apapun pada pihak sekolah."
Lexi mengangguk paham. Ia mendapat satu pesan dari anak buah yang juga mencari tahu tentang Trisha.
"Violet?" gumam Lexi. Pasalnya ia tak asing dengan nama itu. Anak buahnya bilang, Violet adalah nama sahabat Trisha sejak SMA. Lalu ada juga yang memberi informasi tentang Leonard Maldini. Sahabat kecil Trisha.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menemui Tuan Leon dulu. Dia adalah putra dari Roberto Maldini yang terkenal itu."
Lexi melajukan mobilnya menuju ke resto milik Leon.
Tiba disana, Lexi disambut hangat oleh Leon. Dulu Lexi pernah bekerja sebagai pengawal keluarga Maldini sebelum menjadi pengawal Zeeko.
"Sudah lama sekali ya, Kak Lexi. Apa kabarmu?" tanya Leon ramah sambil berjabat tangan dengan Lexi.
"Aku baik, Tuan. Maaf aku baru sempat datang. Aku tidak mengira Tuan akan kembali ke kota ini."
Leon tertawa renyah. "Ya, aku hanya ingin mandiri dan menghasilkan uangku sendiri."
"Tuan, apa Tuan tahu tentang keberadaan Nona Trisha?" Lexi tak ingin berbasa basi lagi.
"Trisha? Kenapa dengannya?"
Lexi bingung harus menjawab apa. Berbohong pun tak bisa ia lakukan.
"Nona Trisha menghilang."
Jawaban Lexi malah membuat Leon tertawa keras.
"Lexi, apa Zeeko yang menyuruhmu mencarinya?"
"Tanpa ku jawab Tuan sudah tahu jawabannya."
Leon menggeleng pelan. "Trisha bukan anak kecil lagi, Lexi. Dan kau tahu, dia adalah pemilik sabuk hitam di karate. Dia tidak mudah dikalahkan. Tenanglah! Dia pasti baik-baik saja!"
Karena tak mendapatkan apapun dari Leon, akhirnya Lexi pamit undur diri. Leon hanya tersenyum penuh arti melihat kepergian Lexi.
Setelahnya Leon menuju ke ruangannya dan mengambil kunci mobilnya. Leon berpamitan pada salah satu karyawannya dan meninggalkan resto.
Leon mengendarai mobilnya menuju ke sebuah tempat yang agak jauh dari kota. Menempuh perjalanan selama dua jam untuk menuju Whitstable.
Leon tiba disebuah pantai dengan gubuk warna warni di sepanjang area pantainya. Leon menuju ke sebuah gubuk dan melihat sosok yang tinggal disana sambil tersenyum.
"Zeeko mencarimu, Trish."
Suara Leon membuat Trisha menoleh. Ya, sejak kemarin Trisha memilih pergi sejenak dari bayang-bayang Zeeko. Ia menemui Leon dan meminta tolong pada sahabatnya itu.
"Benarkah? Aku tidak percaya!" sahut Trisha.
"Sampai kapan kau ada disini?"
"Entahlah!" Trisha mengedikkan bahunya. "Aku ingin menenangkan diri. Disini tempatnya sangat tenang dan nyaman. Suara debur ombak menemaniku, Leon."
"Masalah tidak akan selesai jika kau malah menghindarinya, Trish."
"Biarkan saja. Lagi pula dia juga tidak ada disini kan? Dia malah pergi mengurus bisnisnya." Trisha tersenyum getir. "Aku memang tidak berharga di matanya. Setelah dia merenggut semua dariku, dia malah menyampakkanku. Menyedihkan! Hidupku menyedihkan, Leon."
Leon hanya diam. Ia melihat keputusasaan di dalam diri Trisha.
"Sebegitu dalamkah cintamu padanya, Trish?"
__ADS_1