
Pukul empat sore, Trisha menyudahi kelasnya. Trisha keluar dari aula dan berjalan menuju parkiran sekolah. Karena bujukan Zeeko, akhirnya Trisha membawa mobil sendiri.
Sebenarnya Trisha lebih suka menggunakan fasilitas umum seperti bus. Trisha jarang menggunakan fasilitas mewah yang diberikan ayahnya. Baginya, hidup apa adanya dan sesuai dengan hati adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.
Sejak kecil, Trisha sudah merasakan seperti apa menjadi putri kaya dari Anthony Johanson. Sekarang Trisha memilih hidup sesuai passion yang ia miliki.
"Trish!" Panggilan itu membuat Trisha tak jadi masuk ke dalam mobilnya.
"Leon? Kau disini?"
Trisha bergembira menyambut kedatangan Leon.
"Yeah. Kudengar kau sudah kembali dari berbulan madu. Makanya aku menemuimu disini."
"Ah, begitu ya!"
Suara perut Trisha menginterupsi dua sahabat ini. Leon tertawa kecil.
"Kau lapar?"
Trisha baru ingat jika dirinya belum sempat makan siang karena pergi ke kantor Zeeko.
"Ayo, kita makan di resto milikku!" ajak Leon.
"Eh? Kau berbisnis restoran?"
Leon mengangguk. "Hmm, tidak besar. Tapi bisa membuat perut laparmu itu kenyang."
Trisha tertawa sumbang. "Kau meledekku?"
"Tidak! Ayo cepat naik!" Leon menyodorkan helm untuk Trisha.
"Lalu mobilku?"
"Tinggal saja dulu! Lagi pula sejak kapan kau suka berkendara dengan mobil?"
Trisha mengedikkan bahu. "Zeeko yang memaksaku."
Tanpa bicara lagi, Trisha naik ke motor besar Leon. Mereka menikmati suasana kota London di sore hari.
Tak butuh waktu lama, Trisha dan Leon tiba di resto milik Leon.
"Apa menu terbaik disini?"
"Aku tahu kau bukan orang yang memilih makanan. Tapi aku akan pesankan yang spesial untukmu."
Trisha tersenyum lebar. "Thank You."
Bagi Trisha bertemu dengan Leon lagi adalah berkah tersendiri. Di saat hatinya patah karena Zeeko. Di saat tubuhnya lelah karena menjadi istri Zeeko, Leon datang bak oase di padang pasir.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, menu pesanan Leon telah terhidang di meja.
"Wah, ini terlalu banyak, Leon. Aku tidak bisa menghabiskan semuanya! Aku bukan b@bi, Leon."
Leon tertawa cukup keras. Hidupnya terasa berwarna karena Trisha.
"Aku makan ya!" Trisha langsung memakan makanannya dengan lahap.
Canda tawa sesekali mengisi keramaian dua orang sahabat yang telah lama terpisah.
"Ini enak! Jadi, kau akan tinggal disini seterusnya?" tanya Trisha dengan mulut penuh makanan.
"Hmm, entahlah. Keluargaku sudah pindah ke Jerman. Tapi aku ingin kembali kesini."
"Apa ada sesuatu yang membuatmu kembali?"
"Ada!" Leon menatap Trisha lekat yang masih menikmati makan siangnya yang terlambat.
"Kenapa kau menatapku begitu?"
Leon mengambil tisu dan mengelap bibir Trisha yang belepotan.
"Kau tidak berubah, Trish. Selalu saja berantakan jika sedang makan. Apa suamimu tidak jijik jika melihatmu begini?"
Ucapan Leon membuat Trisha diam. Di depan Zeeko, Trisha menjadi perempuan kuat dan tidak mudah lemah. Tapi di depan Leon, Trisha bisa menjadi perempuan yang juga lemah. Trisha hanya menutupi semua kesakitannya sendiri. Trisha kesepian.
"Ya sudah, sekarang habiskan makananmu!" Leon mengusak pelan rambut Trisha.
Dari kejauhan, tampak mata elang yang tajam sedang memperhatikan Trisha dan Leon.
"Tuan, itu kan Nona Trisha. Apa Tuan tidak ingin menyapanya?" Max berani bertanya karena sejak tadi fokus Zeeko hanya ke arah Trisha.
"Tidak perlu! Kita pulang, Max!" Zeeko berlalu pergi tanpa berkata sepatah katapun.
Selama perjalanan, Zeeko menyandarkan tubuh lelahnya dengan tangan yang memijat pelipisnya pelan.
"Apa Tuan masih kepikiran Nona Trisha?"
Pertanyaan Max membuat Zeeko mendelik padanya.
"Maaf, Tuan. Tapi aku lihat Nona Trisha sangat peduli pada Tuan. Ada cinta yang besar di mata Nona Trisha untuk Tuan. Tidak bisakah Tuan membuka hati untuk Nona Trisha?"
Zeeko terdiam. Hatinya yang beku memilih untuk tetap tak menerima Trisha.
"Jangan banyak omong, Max. Kau digaji bukan untuk menasehatiku!"
...****************...
Dua bulan sudah Trisha menjadi istri Zeeko. Trisha yang tak kenal kata menyerah, terus menguntit kemana pun Zeeko saat ada urusan kerja di luar kota.
__ADS_1
Meski tak pernah digubris oleh Zeeko, Trisha tetap melakukan tugasnya dengan baik sebagai istri. Seperti saat ini, Zeeko sedang mengurus bisnis di kota Birmingham. Tak ketinggalan tentunya Trisha juga ikut bersamanya dan Max.
Trisha duduk terpisah dengan Zeeko dan Max karena mereka akan bertemu dengan rekan bisnis dari kota itu. Mata Trisha membola ketika melihat wanita cantik dengan pakaian minim mendekati meja Zeeko dan Max.
"Apa-apaan itu? Jadi dia rekan bisnis yang ditunggunya? Astaga! Benar-benar membuatku muak!"
Trisha bangkit dari duduknya dan segera menghadang wanita cantik itu.
"Permisi, kau siapa?" tanya wanita itu yang lebih layak dibilang pelacur ketimbang rekan bisnis.
Dan ya, wanita itu memang wanita bayaran yang memang disediakan oleh rekan bisnis Zeeko agar perjanjian bisnis mereka dipermudah. Ternyata rekan bisnis Zeeko tidak tahu perihal Zeeko yang sudah lama tak bermain wanita, ditambah lagi Zeeko kini telah menikah lagi.
"Harusnya aku yang bertanya! Kau siapa? Kau ingin mendekati suamiku, hah?!"
Gaya Trisha yang bar-bar tak bisa dihentikan oleh Zeeko dan Max. Zeeko hanya bisa memegangi kepalanya.
"Su-suami? Siapa suamimu?"
Trisha melirik Zeeko yang hanya diam saja. Trisha mengusir wanita itu dan ya wanita itu menurut karena tak mau berurusan dengan gadis bar-bar yang mengerikan itu.
Di kamar hotel, Trisha marah pada Zeeko. Ia mengumpati suaminya dengan semua kata yang ia bisa katakan. Ia kecewa pada Zeeko.
"Jadi, kau masih bermain wanita, hah?! Kau pergi ke luar kota alasan bisnis tapi kau malah bermain dengan wanita bayaran! Iya begitu?"
Zeeko hanya diam. Ia malas meladeni kemarahan Trisha.
"Jawab, Zee! Aku ini istrimu! Apa kau tidak pernah menganggapku ada?"
"Trish... Tuan Ash sepertinya tidak tahu jika aku sudah menikah. Dan ya... Biasanya Tuan Ash memang menyediakan wanita untukku ketika aku berkunjung kesini," jujur Zeeko.
Trisha menghela napas panjang.
"Apa kau cemburu?"
Pertanyaan Zeeko membuat Trisha lelah. Ia harus berjuang keras untuk menyingkirkan hal buruk dalam diri Zeeko. Ia sudah tahu resiko yang akan dihadapinya saat menikahi Zeeko.
"Jika aku tidak ikut, apa kau akan meladeni wanita itu? Meski kau tahu kau sudah menikah denganku?"
Zeeko kembali diam. Percuma saja menjelaskan. Zeeko tidak ingin Trisha semakin masuk ke dalam hidupnya. Makin masuk dalam hatinya.
Semua hal tentang Trisha membuat Zeeko mulai memahami gadis bar-bar ini. Namun Zeeko akan menepis semua rasa terhadap Trisha.
"Tanpa menjawab, kau sudah tahu jawabannya!"
"Brengsek kau!" Trisha menampar Zeeko.
"Kau bilang kau akan memenuhi syarat dariku! Tapi kau hanya membual!"
"Inilah aku, Trish. Jika kau menyerah, maka katakan pada orang tua kita. Dan kita akan bercerai!"
__ADS_1