
"Daddy?" Mata Zeeko membola ketika melihat ayah mertuanya sedang menatapnya tajam.
"Paman Thony?" Mercy ikut terkejut.
"Katakan apa yang sedang kalian lakukan di jam sepagi ini, hah? Kalian bermain api dibelakang putriku?" cecar Anthony.
"Ti-tidak, Dad! Aku dan Mercy hanya..."
"Hanya apa?!" Anthony mencegat cepat. Ia sungguh geram dengan kelakuan Zeeko yang masih saja belum berubah. Ditambah lagi kini Trisha sedang hamil. Anthony tidak akan biarkan putrinya disakiti lagi oleh Zeeko.
"Kami hanya mengobrol, Paman!" Mercy ikut membela diri. Sungguh dirinya dilanda sial kali ini. Terlebih lagi mengingat perdebatan dengan Max tadi. Membuat kepala Mercy ingin pecah.
"Mengobrol di jam sepagi ini? Apa kalian tidak salah?" Anthony bersedekap menatap keduanya.
"Dad, tolong jangan salah sangka. Aku benar-benar tidak melakukan apapun dengan Mercy. Tadi aku memang sudah terbangun. Lalu aku duduk disini sambil memikirkan pekerjaan, kemudian dia datang kemari. Itu saja, Dad!" Zeeko berusaha menjelaskan sejelas-jelasnya pada sang ayah mertua.
Zeeko tak ingin hubungannya dengan Trisha yang baru saja membaik kembali dilanda masalah. Zeeko melirik tajam kearah Mercy.
"Wanita ini memang membawa sial untukku! Untuk apa dia tiba-tiba datang kemari? Dan apa yang dilakukannya di mansion belakang? Bukankah disana hanya ada kamar kosong?"
"Kau yakin dengan yang kau ucapkan?" tanya Anthony mencoba memperjelas.
"Iya, Dad. Aku bersumpah tidak melakukan apapun dengannya. Jika aku mau berbuat sesuatu bukankah harusnya aku membawanya ke kamar saja? Kenapa harus bicara di luar yang bisa saja dilihat oleh kalian?"
Alibi Zeeko ada benarnya juga. Dan Anthony percaya itu.
"Dan kau! Apa alasanmu? Kenapa pagi buta begini kau malah menemui suami wanita lain?"
"Eh? Paman! Aku tidak melakukan apapun! Sumpah! Sudah kubilang tadi aku tidak bisa tidur. Makanya aku berjalan-jalan di mansion ini. Itu saja!"
Ekspresi wajah Mercy terlihat tak meyakinkan.
"Kau yakin?" selidik Anthony.
Mercy mengangguk mantap. "Iya, Paman. Aku bersumpah!" Mercy menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.
Kehebohan di pagi hari yang dibuat Zeeko dan Mercy, akhirnya membangunkan seluruh penghuni rumah termasuk Trisha.
"Daddy, kenapa ribut sekali? Ada apa?"
"Sayang..." Zeeko langsung memposisikan diri disamping Trisha.
"Kau kenapa? Kau tidak berbuat gila dengan dia kan?" tunjuk Trisha pada Mercy.
__ADS_1
"Astaga! Berapa kali aku bilang, aku sudah berubah!" Zeeko mengusap wajahnya kasar.
"Dan kau kakak! Apa yang kau lakukan dengan suamiku?"
Mercy harus bersabar karena dirinya sedang menjadi tertuduh kali ini. Namun seketika wajah putus asanya berganti dengan senyum ketika melihat Max ikut hadir disana bersama Lexi.
"Max! Aku bersama Max semalaman!" seru Mercy hingga membuat semua orang menatap Max.
"Apa benar itu, Max?" Zeeko menyipitkan mata menatap sang asisten.
Max yang memang selalu terlihat datar dan dingin hanya menunjukkan sikap biasa di depan semuanya.
"Max! Ayo cepat katakan!" desak Mercy. Raut wajahnya memohon pada Max. Namun pria plontos itu hanya diam.
Sebenarnya Lexi ingin membantu Mercy agar terbebas dari tuduhan. Tapi, saat ini bukan saatnya ia menjadi pahlawan. Harusnya Max bisa bertanggung jawab jika memang mereka saling memiliki rasa.
"Kenapa Max hanya diam saja?" batin Lexi bertanya-tanya. "Apa hubungan mereka sudah berakhir? Apa mereka hanya melakukan one night stand saja?"
Zeeko yang paham dengan arti geming Max, akhirnya membuka suara.
"Sudah sudah! Jangan diperpanjang! Lagipula Trisha percaya padaku, Dad. Jadi, kami akan tetap baik-baik saja." Zeeko meringis menunjukkan deretan giginya. Saat ini ia harus mengambil hati ayah mertuanya.
"Sudahlah, Anthony. Mercy juga putriku. Aku yakin dia tidak seburuk yang kau tuduhkan!" Ariana ikut menyahut. Ia kasihan melihat Mercy yang tersudut.
Berakhir juga perdebatan di pagi hari ini. Mereka kembali ke kamar masing-masing hingga menunggu waktunya sarapan pagi tiba.
...***...
Trisha menatap Zeeko yang kini sibuk memeluk dirinya di tempat tidur.
"Emm, tidak ada. Aku hanya terbangun saja." Zeeko mengusap lembut perut Trisha.
"Tapi kenapa harus bersama dengan kak Mercy?"
Zeeko menghela napas kasar. "Sudah kukatakan dia yang datang dan duduk disampingku. Dan tidak terjadi apapun diantara kami. Percayalah, Trish!"
Trisha manggut-manggut. "Lalu, kenapa kak Mercy menuduh Max?"
Zeeko baru ingat tentang Max yang menghilang beberapa waktu lalu.
"Apa ini ada hubungannya dengan Mercy?"
"Zee! Jawab!" Trisha menggoyang lengan Zeeko.
__ADS_1
"Hmm, sepertinya ada yang kulewatkan disini." Zeeko tersenyum penuh makna.
"Apanya?"
"Tentang mereka."
"Mereka siapa?" Trisha makin tak paham dengan arah bicara Zeeko.
"Hhhhh!" Karena kesal Zeeko langsung memberikan ciuman bertubi-tubi ke wajah Trisha. Mulai dari kening, kedua pipi, hidung, mata lalu bibir.
"Kau membuatku jadi ikut gagal paham, Trish! Sekarang terima hukuman dariku!"
"Aaaaa, ampun Zee! Aku benar-benar tidak paham apa yang kau bicarakan."
"Baiklah! Supaya kau paham, mari kita lakukan apa yang mereka lakukan!"
"Eh?!"
Trisha yang masih bingung nyatanya hanya diam dan menikmati semua sentuhan yang Zeeko berikan padanya. Sudah lama mereka tidak melepas rindu begini.
"Zee! Pelan-pelan! Kasihan anak kita!" pinta Trisha dengan wajah memerah yang menggemaskan.
"Kalau itu aku paham!" Zeeko menyeringai dan langsung melanjutkan aksinya.
...***...
Mercy yang kesal mencari-cari keberadaan Max yang sudah membuatnya malu bukan kepalang. Bukannya membela, malah Max hanya menggemakan gemingnya di depan semua orang.
"Hhhh, kemana dia?" kesal Mercy.
Tiba-tiba saja si pria plontos itu sudah berada di belakang tubuh Mercy.
"Nona mencariku?"
"Hah?!" Mercy terkejut sambil melotot.
"Kau!" Telunjuk Mercy mengarah pada Max.
"Aku kenapa?"
"Kenapa kau tidak membelaku? Padahal jelas-jelas aku menghabiskan malam denganmu!"
Max tertawa sumbang. "Untuk apa membantumu? Kau sendiri yang memintaku untuk melupakan semuanya kan? Kita ini hanya partner sèks saja! Jadi, kita jangan saling meminta lebih!"
__ADS_1
"Kau!" Mercy yang kesal akhirnya menampar pipi Max. "Ternyata aku salah menilaimu, Max!" Mercy melangkah pergi meninggalkan Max. Air matanya luruh sudah. Ternyata untuk mengakui saling ada rasa begitu sulit untuk mereka berdua.
"Haaaah! Dia gagal paham dengan maksudku!" Max mengusak kepala plontosnya dengan geram.