
Hari ini Zeeko dan Trisha berangkat berbulan madu ke Italia menggunakan jet pribadi milik keluarga Howard. Tak banyak kata yang mereka ucapkan selama dalam perjalanan.
Trisha sesekali melirik Zeeko yang tetap sibuk dengan pekerjaannya. Rupanya saat liburan pun Zeeko tak bisa lepas dari pekerjaannya.
"Tuan, apa kau tidak bisa lepas dari gawaimu itu?" sindir Trisha.
"Aku sedang bekerja, Trish. Bukannya bermain-main," jawab Zeeko santai tanpa menatap Trisha.
"Jika kau begitu mencintai pekerjaanmu, kenapa kau tidak menikah saja dengan gawaimu itu!"
Zeeko menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap Trisha.
"Sudah kubilang aku bekerja! Aku kepala keluarga dan aku harus bisa mencari uang untuk masa depan kita nantinya!"
Jawaban Zeeko membuat Trisha bungkam.
"Masa depan? Apa kita masih punya masa depan? Sedangkan kau sendiri saja tidak pernah bisa melihatku, Zee." Trisha membatin dengan tersenyum getir.
Trisha memilih untuk tidak mengganggu Zeeko dan memejamkan mata saja. Mungkin dengan tidur Trisha bisa melupaka ln semuanya untuk sejenak.
Setelah mengudara selama beberapa jam, akhirnya Zeeko dan Trisha tiba di kota Venice. Trisha menggeliat usai terbangun dari tidur panjangnya.
"Hooaaaammm!"
Zeeko menatap Trisha yang sama sekali tak memiliki rasa sungkan.
"Kau menikmati perjalananmu, hah?"
Trisha melirik Zeeko. "Hmm, aku menikmatinya. Setelah ini kita mau kemana?"
"Ke hotel."
Trisha manggut-manggut. Trisha mengikuti langkah Zeeko menuju sebuah mobil yang pastinya sudah disiapkan oleh pria itu.
"Tuan!" sapa seorang pria yang adalah Max.
Trisha melongo mendapati Max ternyata sudah lebih dulu tiba di sana.
"Zee, kau mengajak Max?" tanya Trisha.
"Hmm, memangnya kenapa?"
"Zee!" Trisha menghadang langkah Zeeko.
"Kau sadar apa yang kau lakukan?" tanya Trisha.
"Tidak! Jadi, sebaiknya kau tidak perlu bertanya. Minggir! Aku akan kehilangan banyak waktu jika terus meladenimu."
Zeeko berjalan santai menuju sebuah mobil sedan hitam yang amat mengkilat.
"Hei, kau mau berdiri disana saja?" teriak Zeeko.
__ADS_1
Trisha menghentakkan kaki kesal. "Tidak ada romantis-romantisnya sedikitpun! Bagaimana bisa bibi Emilia bilang jika putranya adalah pria yang lembut dan hangat. Sepertinya dia memang sengaja memakai topeng di depan ibunya!"
...****************...
Tiba di hotel, Zeeko langsung membersihkan diri di kamar mandi.
"Trish, jangan lupa siapkan pakaian ganti untukku! Setelan jas!"
Trisha mengerutkan keningnya. "Kenapa dia mau pakai setelan jas? Apa dia ingin mengajakku dinner romantis?"
Wajah Trisha memerah. "Baiklah, aku akan siapkan gaun yang indah untukku juga."
Lima belas menit kemudian, Zeeko keluar dari kamar mandi. Ia langsung menuju ke kamar ganti dan memakai pakaian yang dipilihkan oleh Trisha.
"Hmm, tak bisa kupungkiri jika seleranya memang bagus," gumam Zeeko.
Zeeko keluar dari kamar ganti dalam keadaan sudah rapi. Sedangkan Trisha masih bingung memilih gaunnya.
"Zee, tolong pilihkan gaun untukku!" Trisha membawa beberapa gaun karena tahu pastinya Zeeko akan membawanya ke tempat formal yang romantis.
"Untuk apa? Memangnya kau mau kemana?" Zeeko malah balik bertanya.
"Lho, bukankah kau ingin mengajakku makan malam? Ini sudah waktunya makan malam, Zee."
Zeeko tertawa. "Kupikir kau kelelahan. Makanya lebih baik malam ini kau istirahat saja. Aku harus pergi. Ada pekerjaan yang harus aku urus."
"APA?! Jadi, kau akan meninggalkanku sendirian disini?" Trisha berkaca-kaca. Jiwa tangguhnya mendadak hilang karena Zeeko sudah menghempaskannya ke dasar jurang.
"Tapi... Bukankah kita sedang berbulan madu?" Trisha mencoba bernegosiasi. Siapa tahu saja Zeeko berubah pikiran dan mau mengajaknya.
"Bukankah kau sendiri yang bilang jika aku tak bisa menyentuhmu sebelum aku memiliki rasa padamu? Jadi... Kita belum akan melakukannya, Trish. Kau harus menunggu hingga aku mencintaimu. Setidaknya mungkin menyukaimu."
Zeeko berlalu pergi tanpa menghiraukan perasaan Trisha. Hati Trisha hancur. Semua bayangan kebahagiaan yang akan ia alami ternyata hanya sebuah mimpi belaka.
Dengan tatapan penuh kekesalan, Trisha menatap punggung Zeeko yang perlahan menghilang dibalik pintu.
Trisha memejamkan mata dan menetralkan degup jantungnya.
"Baiklah, Zee. Jangan kira aku akan menyerah denganmu. Kita lihat saja, siapa yang akan kalah lebih dulu!"
Trisha meraih satu gaun malam dan memakainya. Trisha keluar dari kamar hotel lalu mengikuti kemana Zeeko pergi.
Trisha melihat Zeeko pergi bersama Max dan beberapa pria berpakaian serba hitam.
"Sebenarnya mereka mau kemana?" gumam Trisha.
Ketika mobil Zeeko mulai melaju meninggalkan hotel, Trisha memanggil taksi dan mengikuti mobil Zeeko.
"Ikuti mobil itu, Pak!" ucap Trisha.
"Baik, Nona."
__ADS_1
Di dalam mobil, Zeeko tetap sibuk dengan gawainya. Ia memeriksa beberapa laporan yang dikirim oleh anak buahnya.
"Tuan!" Max memanggil dari kursi depan.
"Hmm, ada apa?"
"Apa tidak apa jika kita tinggalkan Nona Trisha di hotel? Kelompok Black Panther sedang mengawasi Anda, Tuan. Jangan sampai Nona Trisha menjadi sasaran mereka untuk menghancurkan Tuan."
Zeeko tersenyum seringai. "Kau jangan khawatir. Gadis itu bukan gadis biasa. Dia tidak akan kalah melawan para cecunguk dari Black Panther."
"Hah?!" Ternyata Max belum tahu jika Trisha adalah seorang guru karate. Max tak berani bertanya lagi dan kembali fokus dengan jalanan di depannya.
...****************...
Trisha turun dari taksi yang dinaikinya ketika melihat mobil Zeeko berhenti di sebuah gudang tua yang jauh dari kota. Trisha membayar sejumlah uang sebelum turun.
"Tempat apa ini? Untuk apa Zeeko datang ke tempat seperti ini?" gumam Trisha sambil melihat sekelilingnya.
Suasana malam yang gelap tak menciutkan nyali Trisha. Ia harus tahu apa yang dilakukan suaminya di dalam sana.
Begitu langkah mulai dekat dengan gudang tua itu, Trisha melihat beberapa orang penjaga disana.
"Tempat begini dijaga dengan ketat. Jangan-jangan..."
Firasat Trisha mulai menerka-nerka apa yang dilakukan suaminya di dalam sana. Trisha mengendap-endap dan mencari celah untuk bisa melihat ke dalam gudang.
Sayup-sayup Trisha mendengar suara orang tertawa. Trisha tahu itu adalah suara Zeeko.
Trisha makin menajamkan pendengarannya. Ia melihat Zeeko sedang berdiri berhadapan dengan seseorang.
"Siapa orang itu?" Trisha tak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang sedang bicara dengan Zeeko.
"Kau tidak perlu ragu. Aku tidak pernah menjual sembarang barang. Ini adalah asli dan eksklusif," ucap Zeeko.
"Jadi, mereka sedang melakukan transaksi jual beli? Jual beli apa?" batin Trisha masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang dilakukan Zeeko.
Setelah mendapatkan bayaran atas apa yang dijualnya, Zeeko segera pergi dari tempat itu bersama dengan Max dan anak buahnya.
"Siapa Zeeko sebenarnya? Kenapa aku merasa ada firasat tak enak tentang dirinya? Semoga saja bukan hal buruk!"
Sepeninggal Zeeko, Trisha dengan tanpa suara memasuki gudang tua itu. Trisha melihat jika barang yang baru saja dibeli dari Zeeko ada di sebuah koper besar.
Tanpa takut sedikitpun Trisha membuka koper yang ternyata berisikan senjata api ilegal.
"Apa? Jadi, Zeeko melakukan praktek jual beli senjata ilegal?" Trisha membekap mulutnya dengan tangan.
Trisha tak percaya jika suaminya adalah mafia senjata ilegal. Trisha menggeleng kuat.
Hingga akhirnya...
"Hei, siapa kamu?!" teriak seorang pria sambil menunjuk Trisha.
__ADS_1
"Gawat! Aku ketahuan!" gumam Trisha sambil celingukan mencari tempat yang aman.