Istri Bar-bar Duda Cassanova

Istri Bar-bar Duda Cassanova
Ellena Bukan Ellea


__ADS_3

"Ellea? Benarkah itu Ellea? Bagaimana mungkin?"


Ketika batin Brahm sedang berperang, Emilia mendelik ke arah Brahm yang malah terbengong di depan lobi.


"Brahm, ada apa?" Suara Emilia mengejutkan lamunan Brahm.


"Ah, tidak ada." Brahm segera menyusul langkah Emilia.


"Apa kau melihat daun muda lagi, hah?! Apa tidak cukup kau tadi bermain dengan wanita muda?"


"Em! Berhenti mengungkitnya! Sudah kukatakan aku tidak sengaja. Jika kau mau aku akan melayanimu semalaman."


"Apa katamu?! Aku tidak su..." Belum sempat Emilia melanjutkan kalimatnya, Brahm menarik tangannya masuk ke dalam lift dan menghimpitnya ke dinding lift.


"Brahm! Apa yang kau..." Emilia kembali bungkam ketika Brahm dengan brutal mencium bibirnya. Menjalarkan gelenyar aneh di hati Emilia yang sudah lama beku.


Mereka melanjutkan kegiatan panas mereka di dalam kamar yang sudah mereka pesan. Hmm, sepertinya mereka benar-benar berbulan madu disini.


...***...


Ellena berjalan keluar dari kamar hotel usai melayani Ernest. Sebenarnya Ernest meminta Ellena untuk bermalam di hotel bersamanya, tapi Ellena menolaknya.


Ellena malas meladeni pria seperti Ernest. Ellena terpaksa melakukan ini karena hanya Ernest saja yang bisa membantunya di kota ini.


"Aku harus segera membalaskan dendam Ellea pada Zeeko. Aku sangat yakin Zeeko adalah dalang dibalik kematian Ellea."


Saat melintasi lobi hotel, Ellena berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan intens dan wajah penuh keheranan.


"Ada apa dengannya? Apa ada yang salah denganku?"


Ellena membenahi penampilan dirinya. Tidak ada yang salah dengan penampilannya, Ellena kembali melangkah menuju ke depan hotel. Ia sudah memesan taksi yang akan membawanya ke apartemen miliknya.


Ketika melihat si pria paruh baya di tegur oleh istrinya, Ellena hanya menggeleng pelan.


"Ck, dasar pria! Sudah punya satu masih saja ingin yang lebih!" Ellena tak ambil pusing lagi dan langsung masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya.


...***...

__ADS_1


Hari ini adalah hari dimana Trisha harus melakukan pemeriksaan terjadap kandungannya. Dengan senang hati Ariana ingin menemani Trisha pergi ke dokter. Begitu juga dengan Emilia yang juga antusias ingin melihat perkembangan cucunya.


"Kalian pergi saja bertiga!" ucap Anthony.


"Hmm, ide yang bagus. Mommy dan ibu mertua harus sering bersama. Karena kalian akan mengurus cucu bersama nantinya." Zeeko mengedipkan matanya ke arah Trisha tanda dia meminta dukungan agar Trisha ikut menyetujui ide dari Anthony.


"Ah, iya. Benar juga apa yang dikatakan Daddy dan Zeeko. Ayo Mommy Emilia dan Mommy Ariana, kalian ikut denganku ke rumah sakit. Nanti akan kukenalkan dengan temanku yang perawat di rumah sakit." Trisha menggandeng kedua tangan ibu dan ibu mertuanya.


Meski wajah mereka masih menunjukkan raut tak bersahabat, tapi sebisa mungkin mereka bersikap manis di depan Trisha.


Tiba di rumah sakit, Trisha menghubungi Mila dan meminta gadis itu untuk menemaninya. Usia Mila jauh di atas Trisha. Tapi Mila sangat menghormati Trisha karena sikap gigih yang ditunjukkan Trisha padanya. Mila ingin bisa seperti Trisha.


"Milaaaaa!" seru Trisha ketika melihat kedatangan sosok yang ditunggunya.


"Nona Trisha! Apa kabar? Wah kandungan Anda sudah semakin besar ya!" Mila mengelus perut Trisha yang mulai membuncit.


"Benar. Oh ya, dimana pendaftaran poli dokter kandungan?"


"Oh, mari ikut denganku! Kau dengan siapa saja, Nona?"


"Oh iya, aku sampai lupa. Kenalkan ini Ibuku, Ariana. Dan ini ibu mertuaku, Emilia." Trisha mengenalkan kedua wanita paruh baya yang bersamanya.


"Halo juga, Nyonya. Namaku Mila."


Perbincangan ringan akhirnya terjadi hingga Trisha selesai diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana kandunganmu, Nona?" tanya Mila yang masih mendampingi Trisha.


"Baik, dia sangat sehat, Mila. Oh ya, kau sendiri, apa kau sudah menikah?"


Mila menggeleng pelan.


"Lalu, apa kau punya pacar?"


Mila menggeleng lagi.


"Astaga! Carilah pacar, Mila. Kau ini cantik, pasti banyak pria yang menyukaimu." Trisha menyenggol lengan Mila.

__ADS_1


"Haaah, Nona. Aku menyukai seseorang, tapi sayang orang itu sudah bersama dengan orang lain."


"Oh ya? Apa maksudmu Dokter Dom?"


Mila terperangah. "Bagaimana kau bisa tahu, Nona?"


"Hahaha, dari matamu. Kenapa kau tidak mengejarnya? Mereka kan belum menikah."


Mila mengedikkan bahunya.


"Jangan khawatir! Aku yakin suatu saat dia akan mencintaimu juga."


"Mana mungkin!" Mila putus asa. Apalagi mengingat memori dimana Dom dan Ellena saat bersama. Dom terlihat sangat mencintai Ellena.


"Mungkin saja! Kau hanya harus percaya pada takdir!"


Tiba-tiba langkah Trisha terhenti ketika melihat sosok yang seakan tidak asing baginya.


"Itu kan... Kak Ellea? Apa dia masih hidup?"


Trisha mulai digerayangi rasa takut. Rasa percaya dirinya menghilang seketika saat melihat sosok yang mirip Ellea.


"Nona, ada apa? Ibu Anda menunggu di lobi depan tadi." Mila bingung dengan terhentinya langkah Trisha.


"I-itu..." Trisha menunjuk dengan jarinya.


Mila mengikuti arah jari Trisha. "Itu dia, Nona! Dia adalah kekasih Dokter Dom!"


"Apa? Kekasih Dokter Dom?"


"Iya, benar. Namanya Ellena. Dia adalah model terkenal."


"Ellena?" Trisha masih terlihat bingung.


"Nona, apa kau mengenalnya?"


"Tidak! Eh, iya. Tapi namanya bukan Ellena, tapi Ellea."

__ADS_1


"Ck, Nona! Dia bukan Ellea tapi Ellena! Kalau tidak percaya Nona bisa mengeceknya di internet."


__ADS_2