Istri Bar-bar Duda Cassanova

Istri Bar-bar Duda Cassanova
Siapa Yang Hamil?


__ADS_3

Zeeko menjalani hari-harinya tanpa kehadiran Trisha di sisinya. Ada perasaan hampa yang menghampiri diri Zeeko ketika jauh dari Trisha.


Max bisa melihat jika Zeeko sebenarnya sudah jatuh cinta pada Trisha tanpa dirinya sadari. Tapi sekuat hati Zeeko menolak perasaannya. Bagi Zeeko, jika Trisha juga mencintainya, harusnya Trisha tidak pergi meninggalkannya.


"Hari ini apa saja jadwalku, Max?" Tanya Zeeko sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Tuan ada rapat dengan walikota hari ini. Pak walikota berencana memakai jasa kita untuk pembangunan beberapa proyek mereka."


Zeeko mengangguk pelan. "Ya ya, sekarang pergilah! Kepalaku rasanya mau pecah."


Max membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Zeeko. Sepeninggal Max, Zeeko masih memegangi kepalanya.


"Ada apa denganku? Kenapa akhir-akhir ini badanku rasanya kurang enak? Tidak mungkin aku sakit." Zeeko memegangi dahinya.


"Tidak panas. Ini aneh! Apa yang terjadi denganku?"


Zeeko meminta Sarah untuk membawakan obat sakit kepala untuknya.


"Terima kasih, Sarah."


Sarah bermaksud kembali ke mejanya, tapi melihat wajah pucat Zeeko membuat Sarah cemas.


"Apa Tuan sedang sakit?" Tanyanya.


"Tidak! Umm, maksudku aku tidak tahu. Badanku kurang enak beberapa hari ini."


"Sebaiknya Tuan periksakan diri Tuan ke dokter jika setelah minum obat tidak ada perubahan."


Zeeko baru sadar ternyata dirinya sering merasa tidak enak badan setelah kepergian Trisha. Sudah hampir 2 bulan Trisha menghilang dari kehidupan Zeeko. Dan pria itu selalu saja uring-uringan karena masih membekukan perasaannya pada Trisha.


#


#


#


Rapat bersama pak walikota tak berjalan dengan lancar karena Zeeko tiba-tiba mengalami mual entah karena apa.


"Tuan! Tuan baik-baik saja? Apa perlu saya panggil dokter?"


Max terlihat panik karena kondisi Zeeko tak seperti biasanya.


"Tuan!"


Baru saja Max akan mengetuk pintu kamar mandi, Zeeko sudah keluar dengan keadaan kacau.


"Tuan! Apa yang terjadi?" Max memegangi lengan Zeeko.


"Aku baik-baik saja." Zeeko masih bersikeras dirinya baik-baik saja.


"Tolong kau lanjutkan saja rapat bersama walikota. Aku akan meminta Lexi untuk menjemputku."

__ADS_1


Zeeko akhirnya pasrah ketika Lexi malah membawanya ke rumah sakit. Wajah pucat Zeeko membuat Lexi tak tega. Siapa yang tega melihat Zeeko yang biasanya gagah dan tegap menjalani hari kini tiba-tiba menjadi berwajah pucat dan tubuh lunglai.


"Tuan, sepertinya Anda mengalami kehamilan simpatik," Jelas dokter yang memeriksa Zeeko.


"Siapa yang hamil? Apa kau sudah tidak waras, Dokter?" Zeeko langsung naik pitam begitu mendengar diagnosa dokter.


"Tuan, jangan marah! Dengarkan dulu penjelasan dokter." Lexi menengahi Zeeko yang sudah siap dengan bogem mentahnya.


"Maaf, Tuan. Mungkin Anda masih asing dengan istilah ini. Tapi hal yang Anda alami biasa terjadi pada suami yang istrinya sedang mengandung. Itu dinamakan kehamilan simpatik. Para pria merasakan apa yang wanita rasakan ketika sedang hamil. Contoh saja, mual dan muntah. Lalu tubuh menjadi lemas dan lunglai. Tapi saat diperiksa, si suami tidak memiliki penyakit apapun."


Zeeko tertegun setelah mendengar penjelasan dokter.


"Ja-jadi, ada kemungkinan jika istri saya sedang hamil, Dok?"


"Benar, Tuan. Maka dari itu, cepat bawa istri Anda ke dokter kandungan untuk pemeriksaan yang lebih lengkap."


Sepanjang perjalanan pulang, Zeeko terus melamun. Pikirannya melayang membayangkan jika benar Trisha sedang mengandung anaknya.


"Setelah di pikir-pikir, saat itu aku memang melakukannya dengan Trisha setelah dia tidak lagi mengonsumsi obat sialan itu. Apakah benar jika Trisha sedang hamil? Trish, tega sekali kau membawa pergi anakku tanpa kabar! Aku akan mencarimu kemanapun kau pergi, Trish!" Tangan Zeeko terkepal dengan tekad bulat ingin menemukan Trisha dan membawanya kembali.


Di belahan bumi berbeda, Trisha yang sudah menjalani hari-harinya sendiri di negeri orang kini malah dibuat bingung dengan alat kecil yang sedang dipegangnya.


Sebuah alat yang menunjukkan ada dua garis merah disana. Mata Trisha menghangat merasakan kehadiran kehidupan lain dalam tubuhnya.


"A-aku hamil? Benarkah ini?"


Air mata haru mengalir tanpa sebab membanjiri wajah cantik Trisha. Entah apa yang ia rasakan sekarang.


"Halo, Leon."


"Trish! Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa terjadi sesuatu denganmu?"


Trisha menggeleng. "Tidak, Leon. Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memberitahumu jika... Aku hamil."


Sontak saja pernyataan Trisha membuat Leon langsung terdiam.


"Ha-hamil?"


Trisha mengangguk. "Iya aku hamil, Leon. Aku akan menjadi seorang ibu!" Trisha terlihat sangat bahagia meski air matanya terus mengalir.


"Selamat ya!" Leon memaksakan senyumnya.


"Lalu, apa artinya kau akan kembali pada Zeeko?"


Pertanyaan Leon membuat Trisha tersadar. Sadar jika saat ini anak yang dikandungnya adalah anak Zeeko, darah daging Zeeko.


Trisha menghapus sisa-sisa buliran cairan bening di wajahnya.


"Tidak! Aku tidak akan memberitahu Zeeko jika aku hamil anaknya. Aku ingin dia bisa merasakan kesakitan yang aku rasakan lebih dulu. Dia tidak menginginkanku dan bayi ini, maka kami akan selamanya pergi dari kehidupannya."


"Trish, jangan egois! Anakmu akan tumbuh besar. Dan suatu saat nanti dia pasti akan menanyakan siapa ayahnya? Dimana ayahnya tinggal? Apa kau siap dengan semua itu?"

__ADS_1


Trisha memejamkan matanya sejenak. "Ka-kalau begitu... Apa kau bersedia untuk jadi ayah dari anakku?"


"Eh? Apa maksudmu, Trish?" Leon terlihat sangat kaget dengan permintaan Trisha.


"Anakku tidak akan kekurangan kasih sayang jika ada aku dan kau di sisinya. Meski kita tidak menikah, kita bisa menjadi orang tua anakku nanti. Kumohon, Leon!"


Leon mengusap wajahnya. "Trish, kita bicarakan nanti saja masalah ini. Aku akan secepatnya menemuimu. Kau jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak latihan. Kau mengerti?"


Trisha mengangguk. "Terima kasih, Leon."


Trisha mematikan sambungan telepon. Trisha mengusap perutnya yang masih rata.


"Maafkan Mommy karena harus menjauhkanmu dari Daddy. Tapi kau harus tahu. Mommy menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini. Lagipula kita punya Uncle Leon. Dia akan jadi ayah yang baik untukmu nanti."


#


#


#


Dua hari kemudian, Leon terbang ke Belanda untuk menemui Trisha. Ini adalah pertama kalinya Leon bertemu Trisha setelah dulu mengantarnya di bandara.


"Trish!" Leon memeluk Trisha begitu ia tiba di rumah Trisha.


"Leon, jangan begini!" Trisha merasa canggung karena sudah lama tak bertemu Leon.


"Ma-maaf. Aku hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah cek kehamilanmu ke dokter?"


Trisha menggeleng. "Belum. Aku belum memeriksakan kandunganku ke dokter. Aku masih harus mengajar beberapa murid, jadi aku tidak sempat."


Tinggal di sebuah desa unik bernama Giethoorn, membuat Trisha memilih untuk menekuni pekerjaan sebagai guru les karate anak-anak yang tinggal disana. Leon cukup lega karena tempat tinggal Trisha sekarang jauh dari polusi, dan ini akan baik untuk anaknya nanti.


"Kau suka tinggal disini?" Tanya Leon yang melihat-lihat rumah sederhana Trisha.


"Suka. Aku suka suasana pedesaan disini. Tidak ada jalan raya dan kau harus menaiki perahu jika ingin bepergian." Trisha tertawa lepas.


"Baiklah, ayo sekarang aku akan mengantarmu ke dokter."


Trisha dan Leon pergi ke dokter kandungan di rumah sakit terdekat. Trisha harap-harap cemas ketika dokter melakukan USG padanya.


"Selamat ya, Nyonya. Janinmu berusia sekitar 8 minggu. Masih terlalu rentan untuk melakukan aktifitas fisik yang berlebihan. Jadi, sebaiknya kau kurang dulu kegiatanmu."


Trisha kembali menangis haru mendengar penjelasan dokter.


"Kau dengar apa kata dokter, Trish! Kau harus menjaga kesehatanmu. Ada nyawa lain dalam tubuhmu."


"Iya, Leon. Terima kasih."


"Kalau begitu... Aku bersedia, Trish."


"Eh? Bersedia apa?"

__ADS_1


"Aku bersedia untuk menjadi ayah dari bayimu."


__ADS_2